Jumat, 15 Oktober 2010
Tanpa Visa, Mereka Berani Masuk Negara Lain
Tercatat sudah puluhan calon mahasiswa baru Al Azhar University datang dari Negara kita tanpa dibekali dengan ishol dan visa pelajar. Usut punya usut mereka ingin sampai di Kairo sebelum ditutupnya ikhtibar qobul. Dan misi utama dari kenekadan tadi tidak lain hanya untuk menghindari penundaan masuk kuliah selama setahun sebagaimana kejadian yang menimpa mahasiswa-mahasiswa angkatan 2008 dan 2009 dikarenakan keterlambatan dalam berangkat. Mereka pikir dengan kedatangan mereka yang lebih awal akan dapat menolong. Akan tetapi pada kenyatanya malah marabahaya yang tidak segan-segan menguntitnya.
Ishol merupakan surat sakti yang harus dimiliki setiap calon mahasiswa Azhar, tanpanya calon mahasiswa Azhar mustahil dapat mengikuti ihtibar qobul, apalagi masuk kuliah. Dengan tidak adanya ishol otomatis nasib mereka akan juga terkatung-katung plus tidak punya jaminan tinggal, mengapa? karena salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam pengajuan perpanjangan visa adalah adanya tashdiq, dan tashdiq tersebut dapat diperoleh ketika seorang mahasiswa benar-benar sudah terdaftar dalam bangku kuliah dengan sebelumnya mengikuti ihtibar qobul (tes penerimaan maba). Lantas, upaya apa yang harus dilakukan agar tidak terulang tahun-tahun berikutnya?
Dalam hal ini, tidak bijak jika kecerobohan yang dilakukan beberapa calon maba tadi ditimpakan kepada mereka secara mutlak Karena ada pihak-pihak lain yang lebih patut untuk dimintai pertanggung jawaban.
Rp. 2.625.000.000,00 untuk Satu Nyawa
Duta besar Mesir untuk Arab Saudi Ali Al ‘Usyairy dalam jumpa persnya mengatakan bahwa penguasa tertinggi tanah Arab yang bergelar Khodimul Haramain Raja Abdullah bin Abdul Aziz telah menyetujui pemberian santunan terhadap lima korban banjir Jedah yang terjadi pada Nopember tahun lalu sebesar 5 juta Real atau setara dengan 7,5 juta pound dan kalau dirupiahkan menjadi Rp.13.125.000.000,00. (1 Pound = Rp.1750,00). Hal ini sebagaimana dilansir oleh surat kabar harian terbesar di Mesir Al Ahram edisi 22 September 2010.
Jumlah yang sangat fantastis bukan??? Ya.. walau jumlah uang tadi tidak dapat menghapus rasa berkabung dari keluarga yang ditinggalkan, akan tetapi setidak-tidaknya keluarga yang ditinggalkan merasa diperhatikan oleh pemerintah dimana meraka hidup (Mesir) dan dari Negara dimana bagian dari keluarga meraka mencari sesuap nasi (Arab Saudi).
Membaca tulisan tadi membuat perasaan menjadi semakin iri dan prihatin. Iri karena perhatian pemerintah lain terhadap warganya sangat besar, dan prihatin mendengar kabar ribuan TKI kita mendapat perlakuan buruk dari berbagi pihak, penyiksaan, penipuan, dan yang paling meyedihkan sampai pada tingkat penghilangan nyawa. Kompleks banget lah…..
Dari Ketiadaan Aku Ada Part VI (Tamat)
Menunggu dan menunggu
Tiga bulan lamanya aku berdiam diri dalam kamar, hanya sesekali saja keluar. Disamping karena cuaca yang super dingin juga visaku sudah mati, harus diperpanjang. Apesnya, sarat memperpanjang visa adalah harus punya surat keterangan (tasdiq) dari Al Azhar. Sementara itu aku belum bisa masuk kuliah, otomatis tidak bisa mendapatkannya. Untung saja pihak Azhar berinisiatif membuka semacam pendidikan persiapan bagi mahasiswa yang terlambat datang yang nantinya dapat mengeluarkan tashdiq guna perpanjangan visa. Alhamdulillah setelah bolak balik ke syuun wafidin, syuun ta’lim dan syuun dauroh ahirnya aku dapat masuk kelas persiapan tadi dan langsung dapat tashdiq. Lega….
Tiga bulan juga masa pendidikan persiapan ku tempuh. Materi yang disuguhkan berkisar pada penguasaan bahasa arab. Ada insya, muhadatsah, pengenalan kosakata mu’ashiroh dan sedikit tentang nahwu shorof. Kebijakan ini ditempuh oleh pihak Al Azhar bertolak dari minimnya penguasaan bahasa arab yang dimiliki oleh mayoritas mahasiswa asing (wafidin) yang berada di Azhar.
Terhitung ada 12 kelas dalam kelas persiapan ini. Setiap kelas terdiri dari 50 siswa dengan komposisi campuran dari berbagai Negara. Dalam kelasku ada yang berasal dari Turki, Malaysia, Thailand, Kamerun, Nigeria, Pakistan dan India, dengan prosentasi terbanyak dari Malaysia dan Indonesia. Dari komposisi tadi yang kelihatan paling menonjol dalam hal prestasi adalah dari Indonesia, hanya saja minderan, dan yang terkenal paling berani dari Turki. Ini sering kali dikatakan oleh Dosen mata kuliah.
Aku cukup terhibur dengan kegiatan ini, malah bisa dikatakan antusias. Makanya, walau perjalanan yang harus ku tempuh terbilang jauh, yaitu dengan berjalan kaki ke mahathoh selama 20 menit, menghabiskan 1 jam dalam metro dengan melewati 22 mahathoh (stasiun) dimulai dari mahathoh Wadi Hof dan diahiri di stasiun Ghomro, dan lagi disambung dengan naik angkutan selama 30 menit, aku tetap berangkat. Jarak tak jadi masalah. Tetap semangat!!
Disamping mengikuti kegiatan di dauroh lughoh, aku juga mengkuti talaqi yang di gelar di Masjid Al Azhar dan Midhyafah. Midhyafah ini semacam majlis ta’lim yang menggelar pengajian kitab salaf setiap hari dengan mengundang doctor-doktor beken dan materi berfariasi. Tempatnya Cuma berjarak kurang lebih 50 meter dari gerbang Al Azhar Husein.
—————
Mahluk Alloh bisa ada karena ada yang ada sedangkan yang ada ini hanyalah yang ada, tidak ada itu tidak ada, karena tidak ada itu ada, kita bisa menggunakan kata ada karena ada yang ada. Kita menggunakan kata tidak ada karena ada yang ada.
ketiadaan inilah yang menjadikanku ada, jauh mengangkangi orang-orang berada dan yang menganggap dirinya ada serta kalangan berada. Dengan ketiadaan ini tidak semestinya menjadikanku merasa tidak berada karena ada dan tiadanya diri kita bergantung pada dzat yang pasti ada. Terserah mau buat ada atau tidak ada. Yang penting kita berkeyakinan Ia akan membuat ku pada keberadaan yang sebenar-benarnya.
———————–
Doktor Ahli Filsafat yang bersahaja dan sangat menghormati bangsa Indonesia. Biasanya beliau memakai songkok hitam kemanapun pergi
Walaupun saya tulis dalam kategori FIKSI, sebenarnya cerita ini adalah cerita nyata, tidak ditambah-tambah bahkan banyak yang dikurangi, sangking nelangsanya kalau mengingat-ingat semuanya.
Sekarang saya sedang menunggu proses tahwil dan ijroat. Mohon do’anya dari sahabat kompasiana agar semuanya berjalan dengan lancar. Amin. Terima kasih.
Dari Ketiadaan Aku Ada Part V
Berangkat menuju negri seribu menara
Kejadian-kejadian tak terduga dan sangat istimewa dalam lika-liku persiapan perjalananku menuju kairo tidak berhenti sampai disitu. Bagai sebuah drama yang penuh dengan kejutan lebih tepatnya. Karena skenario Tuhan dan rencana-rencananya tidak dapat ditebak. Begitu juga dalam episode selanjutnya, episode keberangkatan. Sehari sebelum keberangkatan, rumahku sudah di penuhi tamu, teman-teman dari pondok menyempatkan diri untuk berpamitan. Bukan itu saja, kakak-kakak almamater juga tidak ketinggalan, Mereka ikut serta menyambangi rumahku untuk ikut mendoakanku agar selamat dalam perjalanan dan dapat kembali dengan selamat dengan membawa oleh-oleh yang berharga. Diantara mereka malah ada yang datang satu hari sebelumnya. Hingga pada detik-detik keberangkatan tidak hanya teman-teman santri dan alumni juga sanak famili dan tetangga berkumpul memanjatkan doa untukkku. Tak kurang dari ratusan orang berkumpul melepas kepergianku, banyak juga yang meneteskan air mata hingga mataku pun sembab.
Kalian tau dengan apa aku berangkat menuju bandara? Sudah ku rencanakan jauh-jauh hari, bahwa nanti aku akan berangkat menggunakan kereta ekonomi saja dengan ditemani seorang dari keluarga dan beberapa teman yang siap mengantarkanku ke bandara dengan uang sendiri, maklum tidak ada anggaran untuk menyewa mobil. Di Jakarta nanti akan ada teman yang menjemput di stasiun dan siap mengantarkan ke bandara dengan terlebih dahulu istirahat di kos-kosannya. Itu juga dengan free. Rencana ini ahirnya tidak terwujud karena dari pihak keluarga ada yang mau menyewakan mobil untuk mengantarkanku ke bandara. Akhirnya dengan seluruh anggota keluarga dan kedua bibi serta anaknya aku berangkat ke bandara tanpa disertai teman-temanku dan harus melupakan rencana semula. Tunduk kepada rencana pengatur alam semesta.
Tiba di Kairo
Semuanya tampak kecoklatan ketika pesawat akan mendarat di bandara Kairo lama. Sangat kontras dengan pemandangan yang biasa aku lihat saban hari. Bangunan-bangunan berbentuk kotak tampak saling berdempetan, pun dengan warna coklat. Dan nun jauh disana tampak tanah menghampar tak berbatas, juga dalam warna yang sama.
Jaket tebal yang membuatku kegerahan di Jakarta seakan kehilangan tajinya, padahal ada dua lapis pakaian lagi yang melekat tubuhku sebelum jaket itu ku balutkan. Gigiku gemeretuk menahan dingin yang menyayat, aku menggigil. Belum pernah aku mengalami dingin sampai begini. Untung saja ada kawan yang sudah menunggu di luar bandara. Dan tanpa pikir panjang langsung saja aku dan ketiga temanku menghambur ke mobil.
Ini juga tidak terduga sebelumnya, biasanya mahasiswa yang datang ke kairo hanya di jemput oleh perwakian broker dan diantar menuju secretariat dengan menggunakan angkutan umum. Dan aku, aku bagai tamu agung yang dijemput dengan kendaraan pribadi.
Tiba di sakan teman-teman almamater telah menunggu, jamuan juga sudah di persiapkan, tinggal santap saja, aku merasa kikuk, karena mereka semua adalah para senior yang dulu sempat mengajariku dan membimbingku. Tapi sudahlah, toh sekarang aku sudah berada entah di daerah mana dan hanya merekalah tumpuan akan masalah-masalah yang nanti aku hadapi dan aku mintai bantuan. Mereka pun menganggapku bukan sebagai santri sarung lagi. Jadinya, sebisa mungkin aku bersikap akrab.
Keesokan harinya, aku diajak untuk mengurus registrasi. Pokoknya manut, itu saja yang tersembul dari hatiku. Karena aku tidak tau menau soal registrasi dan bahasa yang digunakan juga sangat asing di telinga, hingga tidak sepatah katapun dapat ku terjemahkan dengan baik. Aku berharap semuanya akan berjalan dengan lancar agar langsung dapat mengikuti imtihan qobul untuk seterusnya dapat mengikuti imtihan semester. Tapi, keberuntungan tidak berpihak kepadaku. Walaupun imtihan qobul masih menyisakan waktu satu minggu lagi, akan tetapi pendaftarannya sudah terlanjur ditutup kemaren. Seniorku berjuang mati-matian agar aku bisa mengikuti imtihan qobul. Sayang, usahanya tak membuahkan hasil. Dia kecewa, dan aku lebih kecewa. Satu tahun aku harus menunggu. Dapatkah bekal yang ku bawa menopang kebutuhanku selama setahun ini? Entahlah… pesimis.
Mahasiswa Al Azhar dari Indonesia baik yang berangkat dengan status beasiswa atau non beasiswa atau istilahnya mahasiswa terjun bebas harus menunggu satu tahun untuk mendapatkan minhah (beasiswa), itupun dengan syarat dalam imtihan term I dan II harus sukses, kalau tidak alamat ia harus menghidupi diri dari kiriman orang tua atau dari keringatnya sendiri. Jadi, istilah program beasiswa dari pemerintah yang kelihatannya keren ternyata hanya nyaring ditelinga. Pada prakteknya pemerintah Mesir lah yang punya andil besar dalam pendidikan beribu-ribu generasi muda bangsa ini. Wal hasil tidak ada perbedaan yang besar antara mahasiswa yang berangkat dengan uang sendiri atau dengan label beasiswa dari pemerintah. Bahkan mahasiswa yang berangkat melalui jalur beasiswa dipastikan akan terlambat satu tahun setelah pengumuman seleksi depag dan harus rela bercanda ria dengan birokrasi pemerintah dengan pembungah hanya berupa sakan (asrama) gratis nanti setelah sampai di Mesir, dan itupun bisa diperoleh oleh mahasiswa yang berangkat dengan biaya sendiri dengan cara mengajukan lamaran ke Azhar. Karena asrama itu bukan milik pemerintah kita, melainkan murni milik Azhar.
Karena tidak dapat langsung masuk ke kuliah otomatis dalam dua tahun kedepan aku harus berusaha mati-matian menghidupi diri sendiri, entah dengan jalan apa. Itulah yang pertama kali terlintas di pikiranku ketika mendengar putusan bahwa aku harus menunggu setahun untuk dapat masuk kuliah. Suram……
Langganan:
Postingan (Atom)


