Jumat, 03 Mei 2013

Pageraji Dan Tokohnya



Pageraji adalah sebuah desa di kaki gunung Slamet, kurang lebih 8 km. arah barat  Purwokerto,  Jawa Tengah.  Desa ini dibagi menjadi  4 dusun,  10 RW dan 52 RT[1], dengan jumlah penduduk mencapai  kurang lebih 8000 jiwa sesuai dengan sensus penduduk tahun 2006. Penduduk desa Pageraji 100% beragama islam ala ahlu sunnah wal jamaah dan berafiliasi kepada  Nahdlatul Ulama, satu-satunya ormas islam yang ada dan dapat tumbuh di sana.


Tumbuh dan berkembangnya NU dengan pesat tidak dapat dilepaskan dari kerja keras  para tokoh-tokoh NU yang dengan gigih tanpa pamrih membumikan ajaran islam yang berhaluan ahlu sunnah wal jama’ah  di desa ini. Tercatat KH. Muhammad Nuh Al Hafidz, KH. Suyuthi. Dan KHR Sopawi sebagai tokoh sentral dibalik kesuksesan besar ini.  Sehingga sampai detik ini NU mengakar dan dapat bertahan dari berbagai macam goncangan dari luar. Disamping itu, secara geografis  desa Pageraji  juga  terbilang  dekat dengan pusat  aktiitas NU di daerah Jawa Tegah bagian barat, yaitu kota gethuk  Sokaraja, kota dimana mantan menteri agama RI dan aktifis NU lahir dan besar  yaitu KH. Saifudin Zuhri.


Kisah harmonis tiga serangkai tokoh ini bermula ketika KH. Muhammad Nuh (selanjutnya disebut dengan Mbah Nuh) hijrah dari tanah kelahirannya yaitu desa Karang Jati, kecamatan Sampang Kabupaten Cilacap dengan tujuan mencari tempat yang cocok untuk menyebarkan ilmunya. Mbah Nuh didawuhi oleh bapaknya agar mencari lahan guna mengembangkan ilmu yang didapat karena tempat kelahirannya dirasa telah terlalu banyak orang mumpuni. Delapan saudaranya telah pulang dari pengembaaannya menuntut ilmu dan siap untuk membantu sang ayah, Kyai Abdurrahim. Maka, mbah Nuh diminta untuk trukah ditempat yang lain. Hal ini bukan tanpa alasan. Mbah Nuh telah mengenyam pendidikan selama empat tahun di pondok pesantren Tremas dibawah asuhan KH. Dimyathi , adik dari Syekh Mahfudz At Tarmasy seorang ulama kenamaan asal Indonesia dengan berpuluh-puluh karya ilmiah dan pemegang lisensi sanad kitab shohih Bukhori. Selain itu beliau juga memperdalam ilmu qiroah di mekah selama tujuh tahun .


Sekitar tahun 1935 mbah Nuh menapakan kaki di daerah Pageraji. Mula-mula beliau ditawari untuk  menempati daerah yang sekarang bernama bulakan (masuk desa Langgong Sari), akan tetapi karena dirasa kurang cocok –sebenarnya daerah itu sangat wingit- maka beliau menjatuhkan pilihan di daerah yang bernama legok. Sebuah tanah yang posisinya hamper mirip jurang.  Sebenarnya daerah ini tidak kalah wingit dengan daerah pertama, tapi melihat lokasinya yang sangat strategis –di tengah-tengah desa dan jalan raya- maka beliau jatuh hati kepada daerahnya yang baru. 


Dua ulama yang telah terlebih dahulu bertempat di Pageraji yaitu den Sopawi dan Kyai Suyuthi menyambut beliau dengan sambutan yang luar biasa meriah. Mereka berdua dengan semua santri dan seluruh penduduk desa menyambut dan mempersilahkan mbah Nuh untuk kemudian diberi sepetak tanah oleh seorang dermawan dan dibuatkan sebuah langgar, sebuah temat peristirahatan dan pemondokan guna menunjang kegiatan dakwah beliau.  


Ada kesepakatan tidak tertulis diantara ketiga ulama tersebut. untuk pengajian Al Quran akan diserahkan kepada mbah Nuh. Sedang untuk pengajian kitab diserahkan kepada kedua kyai yang lain dengan posisi utama dipegang oleh den Sopawi. Dengan pembagian tugas ini, kegiatan Bergama di Pageraji sedikit demi sedikit menapak kea rah semarak.  Pengajian yang sedianya diperuntukan untuk masyarakat Pageraji  kini diikuti pula oleh masyarakat dari desa tetangga bahkan murid-murid mbah Nuh berdatangan dari daerah-daerah sekitar seperti Purbalingga, Cilacap, Kebumen Banjar Negara dan lain-lain.


Bersambung…






[1] Jumlah RT di desa Pageraji mungkin sekarang lebih banyak dari jumlah yang disebutkan, mengingat setelah era reformasi banyak terjadi pemekaran. Penulis semenjak tahun 1998 merantau, jadi kurang tahu perkembangan selanjutnya.

Rabu, 01 Mei 2013

Siapakah Al Azhari Sebenarnya?

Al Azhari adalah gelar yang tidak dapat disematkan kepada sembarang orang, tidak pula dianugerahkan kepada orang sembarangan. Gelar ini sedari dulu hanya diberikan kepada orang-orang tertentu saja, tidak sembarang orang berhak memakainya, dan bukan orang sembarangan jika berani menyematkannya.

Seseorang, dalam hal ini ulama tidak berhak menyematkan gelar Al Azhari di belakang namanya kecuali telah mendapatkan lisensi dari institusi dimana ia menisbatkan diri, atau mendapatkan pengakuan secara personal dari segolongan ulama  yang telah mendapatkan gelar tersebut untuk kemudian diakui secara terbuka oleh masyarakat umum. Tidak seperti akhir-akhir ini, dimana gelar keramat "Al Azhari" dijual untuk kepentingan sesaat dan didakwa oleh orang yang sama sekali tidak pantas menyertakan di belakang namanya.

Dari uraian singkat diatas, dapat dipahami bahwa ada dua jalur agar seseorang sah dan legal memperoleh gelar Al Azhari. Yaitu, pertama dengan menempuh jalur formal, dan kedua melalui jalur non formal. Jalur formal adalah dimana seseorang menjadi bagian dari atmosfer akademik kampus Al Azhar, yaitu terdaftar sebagai anak didik Al Azhar dan mengikuti jenjang demi jenjang sampai meraih strata akademik tertentu. Sedang yang kedua adalah orang-orang yang menempuh pendidikan non formal dalam naungan Al Azhar, semisal para pegiat ruwaq di masjid-masjid dan halaqoh-halaqoh ilmiyah dibawah bendera Al Azhar.  Masuk dalam kelompok ini, mereka yang bermanhaj sama dengan institusi Al Azhar. Contoh sederhananya adalah para ulama yang tidak berguru langsung di Al Azhar akan tetapi mengkaji buah karya ulama-ulama Al Azhar serta  searah dan sepemikiran dalam bermanhaj.

Cakupan dari golongan pertama terasa sempit, sedang cakupan dari golongan yang kedua terbilang sangat longgar. Gelar yang diperoleh dari golongan pertama bisa jadi gelar abal-abal, sedang  gelar yang diperoleh dari golongan yang kedua dapat dipertanggung jawabkan. Dari golongan pertama muncul Al Azhari palsu sedang dari golongan  yang kedua pasti dijamin bermutu.


Kampus dan masjid Al Azhar merupakan satu kesatuan yang berintegrasi dalam membentuk suluk dan mental para anak didiknya. Kehidupan di kampus dengan waktu terbatas dan dengan setumpuk diktat yang diajarkan tidak  dengan  utuh dirasa belum memadai untuk menjadikan anak didiknya siap guna. Maka, digelar lah pengajian dalam ruwak-ruwak masjid Al Azhar untuk menjembatani ransformasi ilmu mentah ya ada di dalam kampus agar menjadi matang. Tanpa adanya proses pematangan, ilmu yang didapat di dalam kampus akan utuh sebagai imu mentah tanpa dapat disantap.

Proses pematangan inilah yang nantinya akan menentukan kwalitas titel Al Azhari pada diri seseorang. Bila prosesnya sempurna maka akan menjadi Al Azhari sebenarnya, bila cuma mendapatkan kulitnya saja maka akan dikatakan Al Azhari imitasi atau boleh juga dinamai Al Azhari aspal, sedang yang sama sekali menjauh dari kegiatan kampus dan masjid Al Azhar kita sebut saja dengan Al Azhari abal-abal.  

Titel "Al Azhari Abal-abal" tersemat kepada mereka yang secara akademik mempunyai titel dari kampus Al Azhar akan tetapi suluk dan manhaj yang dianut sama sekali bersebrangan dan tidak mencerminkan suluk dan manhaj yang dianut oleh bapak dan ibu kandungnya, yaitu Al Azhar. Mereka menyusu dan menikmati pemberian dari bapak ibunya untuk kemudian membalasnya dengan tikaman dari berbagai celah dan arah. Mereka hanya mengunyah diktat tanpa "memamah" dan menelannya, atau pura-pura menelannya kemudian dimuntahkan hingga tak tersisa.  Mereka tidak mau menghadiri muhadhoroh di dalam kampus dan tidak mau berintegrasi dengan saudara tua dari kampus itu sendiri, yaitu masjid Al Azhar dengan ruwak-ruwaknya. Berkenaan dengan hal ini, syeikh Thontowi lebih berkenan menyebutnya dengan nama walad sifah, atau anak jadah dari Al Azhar.

Sependek pengetahuan penulis, ulama yang menyematkan gelar Al Azhari secara tertulis dibelakang namanya dapat dihitung dengan jari. Sederet ulama besar lahir dari Al Azhar akan tetapi, hanya beberapa gelintir saja yang menuliskan dibelakang namanya. Dalam khazanah klasik dan modern sering kali kita mendapati kata-kata "qola Al Azhari", apakah kedua kelompok diatas masuk dalam perkataan ini? jelas tidak. istilah ini mengacu pada satu ulama yaitu Abu Kholid Al Azhary, seorang pakar bahasa dan ahli fikih terkemuka. Di zaman ini ada ulama muda ahli hadits yang dibelakang namanya tersemat gelar Al Azhari, yaitu Usama Sayid Al Azhari. Mungkin juga dibelakang hari kalau dalam literatur hadits disebutkan Qola Al Azhari, pikiran pembaca akan langsung tertuju kepada beliau.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar seseorang dirasa pantas menyematkan gelar Al Azhari dibelakang namanya. Takaran dan timbangannya sudah jelas. Dalam masalah furu', ushul, dan suluk mereka mengikuti  ulama kredibel yang mempunyai sanad bersambung pada Rasul. Tidak kemaki mengklaim hum rojul wa nahnu rojul, lebih tepatnya hum Ar rajul wa nahnu rojul, dengan adanya al kamaliyah di salah satunya.

Minggu, 28 April 2013

Kenakalan Syeikh Mutawalli Sya'rawi

Kenakalan Syeikh Mutawalli Sya'rawi


Syekh Mutawalli Sya'rawi adalah salah satu dari sekian ulama yang diawal perjalanan mencari ilmu mengalami pergolakan batin yang cukup serius. Sya'rawi kecil kala itu sama sekali tidak tertarik untuk mempelajari ilmu agama, apalagi mendalaminya. Akan tetapi, sang bapak punya firasat bahwa Sya'rawi akan menjadi ulama besar dikelak kemudian hari. Maka, disusunlah rencana agar Sya'rawi dapat menimba ilmu agama, walaupun dengan cara memaksanya.

Institusi yang sedari dulu hingga sekarang menelorkan sederet ulama besar sekaligus berpredikat wali di bumi Kinanah ini adalah Al Azhar. Maka, sang bapak pun berkeinginan agar Sya'rawi masuk di Al Azhar.


Seleksi penerimaan di ma'had Al Azhar menyaratkan bagi setiap pendaftar hapal beberapa juz dari Al Qur'an dengan tartil. Sya'rawi telah hapal 30 juz dengan lancar dan benar. Ia mengaji Al Qur'am langsung kepada bapaknya yang juga seorang Alim.


Ketika tiba giliran Sya'rawi maju menghadap tim seleksi, mereka dibuat kaget. tak satupun dari soal mampu dijawab oleh Sya'rawi. Sya'rawi dengan sengaja membuat jawaban salah dan pura-pura tidak hapal. Dengan masgul mereka mendatangkan sang bapak. Kemudian beliau menjelaskan bahwa Sya'rawi sengaja membuat jawaban salah agar tidak masuk ke ma'had Al Azhar. Dengan pengakuan ini, usaha Sya'rawi gagal. Ia terdaftar sebagai siswa ma'had Al Azhar.


Beberapa waktu Sya'rawi merasa terkekang dan merasa bahwa ia tidak cocok dengan Al Azhar. Usaha untuk keluar dari Al Ahar tidak sekali dua kali ia rencanakan. Misal saja, ketika ia ditanya buku apa saja yang harus dibeli, maka ia dengan cekatan menjawab bahwa kitab yang harus dibeli adalah kitab ini dan itu yang jumlahnya berjilid-jilid. Jika bapaknya tidak percaya ia akan memperalat temannya agar bersandiwara di depan bapaknya ketika datang menjenguk, mengiyakan apa yang dituntut oleh Sya'rawi. Padahal, kitab muqorror hanya beberapa buah saja.


Dari akal busuk ini, Sya'rawi kena batunya. Kebencian terhadap ilmu agama berubah menjadi bronto. Kitab-kitab yang dibelikan oleh bapaknya ia lahap dengan rakus. tak berhenti disitu, koleksi perpustakaan juga ia santap. Makanya, kedalamam ilmu beliau tidak ada yang menyangsikan.

Di ahir cerita, beliau terkenal mempunyai
haibah yang luar biasa. Disamping itu, beliau juga mempunyai keramat dan terkenal sebagai orang yang dianugerahi dengan ilmu laduni. Perkataan dan jawaban dari setiap pertanyaan yang diajukan seakan lamgsung bersumber dari pemberi ilmu. Beliau juga diterima oleh setiap kalangan, dari pejabat hingga rakyat melarat dan dari orang awam sampai cendekiawan.

Sebagaimana diceritakan oleh Syaikh Dr. Fathi Abdurrahman Hijazy.

Lahu Al Fatihah.

Kamis, 14 Maret 2013

Wanita Terpelajar Itu.....

Beristrikan seorang wanita terpelajar adalah impianku semenjak aku mengetahui bahwa wanita tercipta untuk dijadikan pasangan hidup seorang pria. Wanita yang dapat memahamiku dan aku juga dapat memahaminya. Wanita yang dapat berbagi dalam setiap problematika hidup. Dan akhirnya takdir menyandingkan diriku dengannya. Wanita impianku.

Sayang, wanita terpelajar yang ada dirumahku ini adalah wanita yang sama sekali asing, mungkin juga ia berasal dari dunia lain. Wanita yang menghabiskan empat tahun untuk mempelajari satu disiplin ilmu. Satu disiplin ilmu yang dijadikan alat untuk memperdaya kaum pria.

Dia berbicara dengan keras didepan muka, memakai pakaian yang selayaknya dipakai pria, bermain di mall dan lebih sering mencumbu piano dari pada membelai anak-anak dan suaminya. Tidak ada yang ia gandrungi selain itu.

Jika aku bertanya kemana dia mau pergi dan kapan kembali, pasti bibirnya akan menjulur ke depan seraya menyemprotkan beragam kata. Katanya aku tidak percaya seratus persen padanya. Jika aku memberikan kepercayaan, ia mencela. Katanya aku tak pernah mencemburui sebagai sedikit ungkapan cinta. Jika aku memantik rasa cinta dan cemburu ia akan berkata "lebih baik kita berteman saja, sungguh perkawinan dengan asas pertemanan adalah sebaik-baik perkawinan". Jika aku berikan rasa persahabatan ia menyiratkan pentingnya berhubungan jenis. Jika aku bergairah untuk berhubungan jenis ia akan berkata padaku: Ah.... kamu lelaki liar".

Kami berada di kampung. Setiap waktu ia menggerutu. Kapan kita pindah ke kota. Akhirnya  kita pindah ke Kairo. dan setelah di Kairo penyakitnya juga tak kunjung sembuh. Kini ia mendesaku untuk pindah ke Amerika.

Dia wanita bobrok-ambisius sampai pada derajat sakit jiwa. Menginginkan kemustahilan menjadi kenyataan. Ia anggap gelar Diploma sastra Inggris dapat dijadikan alat untuk mendapatkan semuanya. Bekerja sehari penuh sbagaimana lelaki memburu rejeki. Setiap awal minggu ia pasti bergerak menuju rumah mertua. menyerahkan dua putri kami kepada nenek renta. Rumah kami lengang. Ibu mertua beralih profesi menjadi babu bagi menantunya. Walau sudah berusaha sekuat mungkin untuk menjadi pembantu yang baik, tak jarang menantunya menceramahi dengan kata-kata yang tidak pernah ku dengar dari seorang wanita terpelajar.

Kini aku yakin. Dia.. istriku itu bagian dari jiwaku yang selalu membuatku sakit.

Dia tak tahu menahu apa yang akan dia perbuat untuk dirinya sendiri atau dengn titel terpelajarnya,  atau dengan diriku sebagai suaminya. Dia juga sebenarnya tidak faham dengan makna keterpelajaran yang ada dalam dirinya. lantas, apa dosaku .. apa solusinya...



@@@@@@@@@
 

Sungguh dosamu adalah dosa berjuta-juta lelaki dan perempuan, dosa generasi bobrok yang tergesa-gesa menafsirkan arti kemajuan dan kebebasan, hal terpenting adalah perubahan itu. Tak soal beradu dengan goncangan-goncangan  dan letupan gerbong kereta zaman. Bertubrukan tanpa kenal ampun dan akhirnya terpental jauh ke dalam jurang.

Wanita modern yang kaget dengan arus kebebasan bertindak dan berkehendak. Kebebasan ya berbuat sesuai dengan kehendaknya, tanpa dibatasi aturan dan norma. Mereka Linglung, tidak tau apa yang akan diperbuat. Karenanya, pada waktu bersamaan terpental ke beberpa jalan bercabang.  Dia ingin berkeliling dunia. menginginkan cinta, sex, dan hura-hura, ya... cuma hura-hura semata. Dia berpikir akan kekunuoan dengan memandang kekunuon itu. Dia meneriakan hal-hal baru dari optik kebaruannya. Menuntut beribu hak tanpa satu pun memenuhi kewajibannya.

Dia seperti burung yang baru keluar dari sarang. Tak terpikirkans selain melanglang mayapada, mengepakkan dua sayapnya. Terbang ke delapan penjuru mata angin.

Solusinya adalah benturan.  Membenturkan . Tidak ada celah untuk lari dari benturan diantara kalian berdua. bergaulah dengan istrimu yang terpelajar itu seakan dia bukan dari kalangan terpelajar. Beri tahu dia -dengan  cara metode yang dia mengerti- bahwa makna terpelajar dan berbudaya adalah tanggung jawab.


Diterjemahkan dari "Lima Puluh Lima Problematika Cinta", Dr. Mushthafa Mahmud 

Senin, 04 Maret 2013

Dakwah Ala NU


Dakwah Ala NU
Oleh: Adhi Maftuhin
Pengertian Manhaj Dakwah
Kata da’wah adalah bentuk masdar dari fi’il madhi da’a, yad’u, da’wan, da’watan, du’aan, da’wa  dan mempunyai makna mengharapkan kehadiran seseorang, perintah mengerjakan sesuatu, dan mengajak dengan suara lantang.[1]  

Kata da’wah dalam bahasa Al Qur’an tampil dengan beragam bentuk (shighot). Ada  yang berbentuk shighot fi’il amar sepeti dalam surat An Naml:,  ada yang tampil dalam bentuk fi’il madhi sepeerti terdapat dalam surat fushilat:33, bentuk fi’il mudhori’ seperti tertuang dalam surat Yusuf : 108, dalam bentuk isim fa’il sperti dalam surat Al Ahqaf:31, dan dalam bentuk mashdar seperti dalam surat Ar Ra’d: 14. Melihat bervariasinya penggunaan kata yang berakar pada kata da’wah[2] dalam Al Qura’an para ulama juga memberikan makna yang beragam pula diantaranya adalah 1). bermakna memohon dengan sangat, pengharapan, dan permintaan. 2) bermakna peribadahan yang dilaksanakan oleh manusia kepada dzat yang diyakini sebagai Tuhannya. 3). Menisbatkan sesuatu.4). Memberikan anjuran kepada manusia untuk mengikuti agama Allah. 5). Memberikan bimbingan kepada manusia(da’i) agar berupaya menyampaikan agama Allah dan mengarahkannya untuk menempuh jalan yang diridhai oleh Alloh.  

Dari beragam makna yang terkandung dalam kata yang berakar dari kata dakwah ini, jika kata dakwah diucapkan secara muthlak, tanpa ada keterpengaruhan oleh kata yang lain maka akan mengarah kepada makna islam. Yakni, sebuah kata yang mempunyai pengertian kepasrahan dan berserah secara penuh  kepada Allah dengan keimanan yang sempurna akan risalah yang datang dari-Nya tanpa melihat siapa utusan yang membawanyam risalah yang dibawa dan tempat dimana wahyu itu diserukan. [3] sedang dalam pengertian terkini islam adalah risalah yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw.
Sedangkan manhaj adalah  sinonim dari kata minhaj yang bermakna jalan (sistem) yang terang[4].  Dari dua pengertian diatas dapat kita tar ik kesimpulan bahwa manhaj dakwah adalah sistem -yang digunakan para da’I -  dalam membumikan risalah Muhammad.

Siapakah yang berkewajiban untuk berdakwah.

Mata rantai dakwah akan sebuah risalah tentunya dibebankan pertama kali kepada rasul dan nabi[5], Setelah itu tugas dakwah dipikulkan kepada umatnya. Pertanyaannya, apakah semua komponen umat mempunyai tanggung jawab dan kewajiban untuk berdakwah atau cuma sebagian saja  ?

Untuk menjawab pertanyaan tadi, mari kita bermain dengan dua teks syara’ yang berkaitan dengan tanggung jawab dan kewajiban untuk membumikan agama Allah di muka bumi ini. Pertama, adalah firman Allah dalam Al Qur’an Surat An Naml ayat  “Serulah ke jalan tuhanmu dengan hikmah, mauidhoh hasanah dan ajaklah mereka berdiskusi dengan cara yang baik”. Dalam ayat tadi, seruan untuk berdakwah adalah kepada nabi Muhammad, karena redaksi amar dari kata ud’u (ajaklah) adalah khithob kepada mufrod mudzakar mukhotob yaitu  hanya Nabi Muhamad saja sebagai satu-satunya makhluk yang mendapat khitob. Memang, Kalau dipahami secara linguistik khitob  yang ada pada amar ud’u  hanya tertuju kepada satu orang mukhotob. Akan tetapi sangat naïf  jika risalah Allah yang bertujuan untuk membawa seluruh umat manusia kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat sampai hari kiamat tiba hanya dibebankan hanya kepada satu orang. Maka para mufassirin dan ushuly mengatakan bahwa khitob yang ada dalam kata  ud’u adalah Al Khusush wa urida bihi al ‘umum, tidak hanya terpaku pada nabi saja, akan tetapi berlaku juga kepada umatnya. Sekali lagi, benak kita bertanya umat nabi yang bagaimanakah yang terkena khitob Alloh itu? Apakah bersifat umum sehingga mencakup seluruh umatnya, atau hanya sebagiannya saja sehinga sebagian yang lain terbebas dari kewajiban berdakwah.

Kedua, adalah hadits Nabi yang artinya “Barang siapa diantara kalian yang menjumpai kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya (kekuasaannya), jika tidak mampu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu merubah dengan lisannya maka satu-satunya jalan yang harus ditempuh adalah mengingkari dengan hatinya”.
Redaksi ‘Man” dalam hadis[6] diatas mengggiring  kita untuk mengamini bahwa siapa saja yang melihat kemunkaran maka berkewajiban untuk menghentikan dan mengarahkannya pada kebaikan. Kata man adalah isim maushul musytarak yang dapat memasukan siapa saja, baik laki-laki, perempuan, tua, muda, baligh, shobiy, berakal sempurna, gila, dan seterusnya.  

Merujuk keumuman makna yang terkandung dalam kata “man” maka semua manusia berkewajiban untuk berdakwah. Akan tetapi tunggu dulu, kita harus merujuk kaidah yang berbunyi “tidak ada taklif  hukum kecuali hanya pada manusia yang sudah akil dan baligh”. Makanya anak kecil yang belum baligh dan tidak berakal sempurna tidak berkewajiban untuk berdakwah. Lebih lanjut, tanggung jawab dan kewajiban berdakwah secara husus hanya dibebankan kepada kaum muslimin yang punya kapasitas sebagai juru dakwah . Dalam bahasa ushuli ditembungkan dengan ‘aam fil Asykhosh makhshuhsun biman la taklifa ‘alaih[7] atau dalam kata lain bersifat umum(mencakup semuanya) dan ditakhsis dengan orang yang belum ditaklif .

Walhasil, kewajiban berdakwah tidak hanya dibebankan kepada nabi pembawa risalah akan tetapi juga dibebankan kepada umatnya. Hanya saja kewajiban itu tidak berlaku kepada seluruh umatnya, akan tetapi berlaku bagi segolongan orang yang mempunyai kredibilitas untuk berdakwah. Sedangkan tanggung jawab untuk berdakwah berlaku bagi setiap muslim. Mengingat jika tidak ada satupun dari kaum muslimin berdakwah maka setiap muslim akan terkena dosa.

Hal ini juga merujuk kepada tugas dakwah yang dibebankan kepada beberapa sahabat di zaman nabi. Diantaranya adalah Ali bin Abi Thalib yang ditugaskan untuk berdakwah di daerah Yaman. Sahabat Abdullah bin mas’ud yang ditugaskan di daerah Irak dan seterusnya. Dari sini jelas sudah bahwa tugas dakwah tidak dibebankan kepada semua kaum muslimin, akan tetapi hanya kepada orang-orang tertentu yang punya kecakapan dan berkompeten dibidang ini.

Dalam bukunya[8], Muhammad Al Ghazaly mengatakan bahwa diabad ini setiap orang islam setidak-tidaknya harus berperan dalam pengembangan dan penyebar luasan agama. Contoh yang paling sederhana adalah berdakwah dengan lisannya. Menurut hemat penulis  kalimat tersebut adalah suatu ungkapan hiperbolis dari Al Ghazaly agar setiap kaum muslim merasa bertanggung jawab akan kelestarian islam dan selalu ingat akan adanya kewajiban berdakwah bagi mereka yang berkompeten.

NU dan Dakwah

NU adalah organisasi keagamaan yang bergerak dalam bidang sosial keaagamaan. Mengingat tujuan mendasar dari organissai ini adalah berkiprah dalam sektor sosial keagamaan makas udah barang tentu   dalam tubuh organisasai ini terdapat satu lembaga yang menaungi aktifisnya dalam aktifitas keagamaan (baca: dakwah). Lembagai ini dalam oraganisasi NU dinamakan LDNU, kependekan dari Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama.

Sebenarnya, tanpa adanya lembaga inipun para aktifis NU sudah menjalankan kewajibannya, akan tetapi agar dalam setiap gerakan dakwahnya  terorganisir dengan baik, scenario dan strategi dakwah dapat tepat sasaran maka lahirlah  LDNU ini. 

Dalam perjalanan sejarahnya, NU selalu pro aktif dalam berdakwah. Karena embrio kelahiran NU juga berasal dari ekses kegiatan dakwah.  Yakni, ajakan dan seruan kepada pemerintah hijaz pada waktu itu agar memberikan toleransi kepada umat islam dibelahan bumi lain agar dapat menjalankan keyakinan dan ibadah sesuai dengan madzhab yang dianut.

Gerakan dakwah  yang dimotori oleh para ulama pesantren merasa sudah saatnya menampakan  identitasnya. Hal ini merupakan reaksi dari keberhasilan yang telah dicapai oleh komite Hijaz yang diketuai oleh KH. Wahab Hasbullah. Maka, dibentuklah satu wadah pada  tanggal 26 Januari 1926 M.  bertepatan dengan 14 Rajab 1344 H dengan nama Nahdlatul Ulama. Mungkin perlu dicatat disini bahwa NU berhasil mewadahi mayoritas kaum muslimin di Indoneesia. Hal ini tidak terlepas dari kerja keras para missionaries NU yang dengan gigih berjuang dan mengorbankan apa saja yang dimiliki untuk kejayaan NU. Disisi lain NU merupakan kepanjangan tangan dari gerakan dakwah beberapa abad sebelumnya, yaitu gerakan dakwah yang dimotori oleh Wali songo.

Tidak berbeda jauh dengan system yang dianut kembangkan oleh para pendahulunya, NU berusaha untuk melestarikan system yang dipakai oleh Wali songo dan ditambah dengan membuka diri dengan modifikasi aplikasi dakwah tanpa harus meninggalkan pakem aslinya. Sadar bahwa kunci keberhasilan dakwah adalah terletak pada juru dakwah maka, hal pertama yang dilakukan Para ulama NU adalah dengan kaderisasi  para da’I yang dilaksanakan pada beberapa pesantren induk. Salah satu pesantren yang berperan dalam kaderisasi para jurudakwah NU  adalah pesantren Tebu Ireng, Jombang  yang di asuh oleh maha guru ulama nusantara yaitu hadratu syeikh KH. Hasyim Asy’ari. Beliau dengan telaten dan penuh dedikasi tinggi mendermakan seluruh energi, harta dan waktunya untuk mengkader santri-santri yang akan menjadi corong NU di daerahnya masing-masing. Santri mbah Hasyim berasal dari hampir seluruh wilayah nusantara maka, secara otomatis NU juga tumbuh diseluruh pelosoknya. Pola kaderisasi ini adalah adopsi dari kaderisasi yang telah dilakukan oleh Sunan Ampel. Pada waktu itu Sunan Ampel mengkader santri-santrinya untuk ditugaskan berdakwah ke pelosok nusantara, bahkan sampai menyeberang ke negri tetangga.

Bukan tanpa dasar mbah Hasyim memberikan perhatian khusus pada aspek  kaderisasi.  Beliau paham betul  bahwa sebelum seseorang mengemban tugas untuk mendakwahkan risalah ketuhanan ia akan melewati fase penggemblengan, tak terkecuali pada diri para rasul dan nabi. Muhammad sebelum menjadi seorang rasul melewati fase penyucian dan penggemblengan batin di goa Hira. Hal ini diskenariokan Allah supaya kuat dalam menghadapi segala tantangan dan rintangan yang akan dihadapi dalam medan dakwah. Allah berfirman: Tha Haa. Tidaklah aku turunkan Al Qur’an kepadamu agar kamu celaka. Mengenai tafsir kata Tha Haa Syeikh Fathi Hijazy dalam salah satu Muhadhorohnya mengatakan bahwa Tha Haa adalah Ya Thahir, Ya Hadi, atau thuhr dan huda yang bermakna sebelum Al Qur’an diturunkan kepada nabi Muhammad Saw beliau disucikan terlebih dahulu dengan tujuan utama agar dapat memberikan petunjuk kepada umatnya.[9] Senada dengan penafsiran ulama-ulama tasawuf semisal Al Ghazaly, Ibnu Athaillah dan ulama-ulama sepaham yang lain.

KH. Chudory [10] mengatakan bahwa ada tiga aspek yang membuat NU dapat diterima dengan cepat oleh masyarakat Indonesia.  Ketiga aspek tersebut adalah adanya prinsip tasamuh, tawazun, dan tawasuth dalam berdakwah. Tasamuh adalah adanya sikap  toleran pada adat istiadat dan ritual yang ada pada setiap daerah yang dijadikan lahan dakwah. Yakni, berusaha meluruskan adat istiadat dan ritual yang berseberangan dengan ajaran islam secara bertahap, tidak memberangusnya secara langsung. Strategi inilah yang kadang disalah artikan sebagai biangnya bid’ah. Tawazun adalah adanya keseimbangan dalam mendudukan kepentingan  dunia dan akhirat secara proporsional. Terahir  adalah tawasuth yang berarti moderat.
Adanya kecakapan seorang da’I dalam berda’wah, strategi dalam menjalankan misi, mental dan etos dalam berdawah adalah empat sekawan yang tidak dapat terpisah agar dakwah dapat mencapai hasil yang memuaskan. 

NU dan strategi dakwah di abad 21   

Sesempit analisa penulis terhadap fenomena yang berkembang pada era setelah KH. Wahab Hasbullah[11] dan KH. Bisyri Musthafa[12], gelombang dakwah yang digaungkan oleh anak-anak muda NU seakan statis dan defensive. Perkataan tadi seakan menyiratkan nada skeptis dalam diri penulis. Benar adanya bahwa ulama dengan pesantrennya pada dekade 50-an sampai ahir dekade  70-an masih menjalankan tugasnya sebagai kamp kaderisasi. Hanya saja, situasi politik dan kecendrungan untuk ikut memperjuangkan hak-hak kaum nahdliyyin melalui partai malah melemahkan konsentrasi dakwah disisi yang lain. Sampai akhirnya pada tahun 1984 NU secara organisatoris menarik diri dari gelanggang politik praktis dan kembali dalam pemberdayan umat.

Sadar dengan ketertinggalan dari organisasi lain dalam hal pendidikan dan pelayanan kepada umat dalam bidang yang lain, NU secara bertahap menata diri untuk menyongsong abad 21 dengan memberdayakan lembaga, badan otonom dan Lajnah yang ada dalam tubuh ini agar dapat merespon gerak laju zaman. Dalam bidang pendidikan, LP Ma’arif bekerja sama dengan Ansor sebagai tenaga muda NU mendirikan sekolah-sekolah formal yang berafiliasi ke NU. Mereka bahu-membahu dengan warga nahdhiyin -secara mandiri-  mendirikan sekolah-sekolah di daerah kantong-kanting nahdliyin. Kaum muda berperan sebagai pelaksana, Sedang kaum tua memberikan arahan kepada yang muda. Adanya bagi tugas yang harmonis ini menjadikan perkembangan dalam pendidikan cukup signifikan. Era ini dimulai pada akhir dekade 60-an sampai sekarang. 

Dibelahan lain, ulama pesantren juga tidak mau duduk asik menyaksikan menjamurnya sekolah formal tanpa melakukan modifikasi pendidikan dalam pesantrennya. Pesantren yang diawal perkembangan NU menempati posisi paling strategis dalam aksi dakwah kini juga sama sekali tidak kekurangan perannya. Maka, munculah pesantren modern dan semi modern. Sedang pesantren yang masih berpegang teguh pada metode tradisonal juga tetap dipertahankan. 

Sadar bahwa benteng pertahanan NU adalah di pesantren maka ulama pesantren dengan seksama mengikuti gerak laju perkembangan zaman untuk kemudian diimplementasikan dalam kurikilum pesantrennya. Tujuannya tak lain adalah mencetak kader muda NU yang siap menjadi penerus perjuangan dan mampu mencari solusi dalam setiap permasalahan kekinian dalam perspektif syariat. Dari  kerajaan-kerajaan kecil inilah imperium NU dapat bertahan dari goncangan sana-sini.

Goncangan dari sana adalah gelombang yang datang dari arah luar dan biasanya bersifat sebagai tamu yang berkeinginan menduduki sebagian petak kamar dari rumah besar NU. Sedang goncangan dari sini adalah dinamika ilmiah yang berkembang dalam internal NU. Kedua goncangan ini dewasa ini dinetralisir oleh Lembaga Bahtsul Masail NU atau yang lebih terkenal dengan LBM NU. Salah satu gerakan dalam LBM yang berperan aktif dalam membentengi NU dari goncangan luar dalam adalah forum kyai muda yang dipandegani oleh Abdullah Syamsul Arifin dan Idrus Ramly di daerah Tulangan, Sidoarjo. 

Melihat jumlah kaum nahdliyin yang mencapai kisaran 40 jutaan[13],  dan katanya ormas islam dengan jumlah pengikut paling besar di dunia sudah barang tentu ormas ini punya kiat-kiat husus agar pengikutnya selalu loyal kepadanya. Strategi yang digunakan dalam dakwah NU dewasa ini menurut penulis mengguna1kan strategi defensive ala catenacio. Berusaha membentengi para pengikutnya dalam lingkaran NU agar tidak sampai menyeberang ke rumah tetangga dan disaat yang bersamaan berusaha menambah anggota.

Bukan tanpa alasan strategi itu yang dipilih. Bukankah ada adagium “lebih sulit menjaga dan memelihara daripada membangun”. Fase perkembangan sudah lewat dan mengalami jaman keemasan pada masa awal sampai zaman pertengahan, yaitu sampai pada era KH. Wahab Hasbullah. 

Tapi jangan disalah artikan bahwa aktifitas dakwah dalam NU mentok sampai disitu. Bukankah pengertian dakwah tidak terbatas hanya dalam ajakan secara lisan dan propaganda lain untuk masuk dalam lingkaran yang dimaksud. Dakwah hakiki adalah ajakan dan seruan  dengan perbuatan, melaksanakan tugasnya sebagai khalifah Alloh dimuka bumi sesuai dengan yang diharapkan oleh sang Khaliq. 

Dakwah bil hal dalam NU diimplementasikan oleh NU secara organisasi dalam upaya mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin bagi para anggotanya secara khusus dan memberikan pelayanan kepada masyarakat keseluruhan secara umum. Upaya untuk meningkatkan taraf hidup anggotnya tercermin dari pemberdayaan zakat sebagaiman telah dilakukan oleh KH. Sahal Mahfudz dan pendirian BMT di pesantren Sidogiri, Sidoarjo. Langkah konkret lain adalah denga mendirikan rumah sakit, rumah bersalin dan tempat pelayanan social yang lain.

Akhirnya, karena keterbatasan waktu penulis ingin menyampaikan bahwa keberhasilan dakwah sangat tergantung kepada kecakapan seorang da’I, strategi dakwah, tersedianya dana yang cukup, kesiapan mental dari seorang da’I, memberikan prosentase 25% untuk dakwah bil lisan dan 75% untuk dakwah bil hal , dan adanya kesinambungan kaderisasi.
          


[1] Al Mu’jam Al Wajiz hal. 228 cet. Haiah ammah
[2] Masdar merupakan akar dari kata yang dapat ditashrif. Hal ini menurut pendapat ulama Bashrah. Sedangkan menurut ulama kufah, akar kata adalah fi’il madhi
[3] Da’watu rusul ghoyatuha wa tarikhuha, hal. 19-21 Dr. Ragab Syitawy
[4] Al Mu’jam Al Wajiz 
[5] Nabi juga berkewajiban untuk menyebarkan risalah tuhan sebagaimana pendapat Ibnu Taimiyah. Ibid hal. 51
[6] Syarah Arbain nawawy najmudin al thufy hal 405 cet dar bashoir
[7] Ibid hal 407
[8] Humum da’iyah  Muhammad Al ghazaly cet. Al basyir,Hal.
[9] Muhadhoroh Dr. Fathy Hijazy pada kamis 28/2/2013
[10] Pendiri PP. API Tegalrejo Magelang
[11] Rais Aam PBNU setelah KH. Hasyim Asy’ari sampai wafat pada tahun 1974
[12] Singa Podium dari Rembang, Pengasuh PP. Raudhatut Tholibin leteh, Rembang
[13]Sensus warga nahdyiin belum pernah diadakan