Suatu hari Imam Ali bin Abu Thalib kedatangan seseorang yang ingin melaporkan perselingkuhan istrinya dengan si A. Kronologi dan tempat kejadian diceritakan dengan detail. Dia menuntut agar si pelaku perselingkuhan diberi hukuman yang setimpal. Di akhir penuturannya, dia berkata "Kejadian ini saya lihat dalam mimpi." Walaupun kejadiaannya dalam mimpi dia tetap menuntut agar si A diberi hukuman.
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Selasa, 31 Januari 2017
Budaya Gebyah Uyah
Budaya Gebyah Uyah
Ashim adalah seorang pakar dalam bidang al-Qur'an. Tapi, dalam bidang hadits, dia masuk dalam kalangan perawi dha'if. Ibnu Lahi'ah juga dha'if sebagai perawi, tapi kefakihannya tidak ada yang mengingkari. Karena terbilang dha'if dalam bidang periwayatan hadits, banyak dari tetangga sebelah yang dengan mudahnya abai dengan semua hal yang datang dari mereka berdua.
Israel baru-baru ini menampung 100 anak yatim korban perang berkepanjangan di Syiria. Ini tentu tidak sebanding dengan terbunuhnya lebih dari 1500 anak-anak Palestina dan 6000 an yang luka-luka. Santunan tadi ya tetap santunan. Mungkin ada baiknya. Ketimbang negara-negara arab yang sibuk dengan rebutan roti diantara tokoh-tokohnya.
Nun jauh disana, Indonesia, presidennya banyak yang tidak suka. Jadi apapun dan bagaimanapun baiknya kebijakan yang diambil akan mendapat respon negatif.
Habib Rizik, bagaimanapun dia bertindak, pengikutnya akan mendukung seratus persen, bahkan mungkin bisa lebih. Bagi yang tidak suka, ia akan tetap dicap sebagai tokoh anarkis.
Said Aqil, bagaimanapun statemen dan tindakannya, bagi pendukungnya, ia ibarat dewa. Dan bagi pembencinya, ia tak lebih dari tokoh syiah, liberal, pemecah belah umat dan seterusnya.
Walhasil apa? Hari-hari tanpa ngegosip dan mentelengi medsos yang penuh dengan berita semacam itu ibarat makan sayur keasinan, atau ibarat sayur tanpa garam?
Jumat, 03 Mei 2013
Pageraji Dan Tokohnya
Pageraji adalah sebuah
desa di kaki gunung Slamet, kurang lebih 8 km. arah barat Purwokerto, Jawa Tengah. Desa ini dibagi menjadi 4 dusun,
10 RW dan 52 RT[1],
dengan jumlah penduduk mencapai kurang
lebih 8000 jiwa sesuai dengan sensus penduduk tahun 2006. Penduduk desa Pageraji 100% beragama
islam ala ahlu sunnah wal jamaah dan berafiliasi kepada Nahdlatul Ulama, satu-satunya ormas islam yang
ada dan dapat tumbuh di sana.
Tumbuh dan
berkembangnya NU dengan pesat tidak dapat dilepaskan dari kerja keras para tokoh-tokoh NU yang dengan gigih tanpa
pamrih membumikan ajaran islam yang berhaluan ahlu sunnah wal jama’ah di desa ini. Tercatat KH. Muhammad Nuh Al Hafidz,
KH. Suyuthi. Dan KHR Sopawi sebagai tokoh sentral dibalik kesuksesan besar ini. Sehingga sampai detik ini NU mengakar dan dapat
bertahan dari berbagai macam goncangan dari luar. Disamping itu, secara geografis
desa Pageraji juga terbilang
dekat dengan pusat aktiitas NU di
daerah Jawa Tegah bagian barat, yaitu kota gethuk Sokaraja, kota dimana mantan menteri agama RI
dan aktifis NU lahir dan besar yaitu KH.
Saifudin Zuhri.
Kisah harmonis tiga
serangkai tokoh ini bermula ketika KH. Muhammad Nuh (selanjutnya disebut dengan
Mbah Nuh) hijrah dari tanah kelahirannya yaitu desa Karang Jati, kecamatan
Sampang Kabupaten Cilacap dengan tujuan mencari tempat yang cocok untuk
menyebarkan ilmunya. Mbah Nuh didawuhi oleh bapaknya agar mencari lahan guna
mengembangkan ilmu yang didapat karena tempat kelahirannya dirasa telah terlalu
banyak orang mumpuni. Delapan saudaranya telah pulang dari pengembaaannya
menuntut ilmu dan siap untuk membantu sang ayah, Kyai Abdurrahim. Maka, mbah Nuh
diminta untuk trukah ditempat yang lain. Hal ini bukan tanpa alasan. Mbah
Nuh telah mengenyam pendidikan selama empat tahun di pondok pesantren Tremas
dibawah asuhan KH. Dimyathi , adik dari Syekh Mahfudz At Tarmasy seorang ulama
kenamaan asal Indonesia dengan berpuluh-puluh karya ilmiah dan pemegang lisensi
sanad kitab shohih Bukhori. Selain itu beliau juga memperdalam ilmu qiroah di
mekah selama tujuh tahun .
Sekitar tahun 1935
mbah Nuh menapakan kaki di daerah Pageraji. Mula-mula beliau ditawari untuk menempati daerah yang sekarang bernama bulakan
(masuk desa Langgong Sari), akan tetapi karena dirasa kurang cocok –sebenarnya daerah
itu sangat wingit- maka beliau menjatuhkan pilihan di daerah yang bernama
legok. Sebuah tanah yang posisinya hamper mirip jurang. Sebenarnya daerah ini tidak kalah wingit
dengan daerah pertama, tapi melihat lokasinya yang sangat strategis –di tengah-tengah
desa dan jalan raya- maka beliau jatuh hati kepada daerahnya yang baru.
Dua ulama yang telah
terlebih dahulu bertempat di Pageraji yaitu den Sopawi dan Kyai Suyuthi
menyambut beliau dengan sambutan yang luar biasa meriah. Mereka berdua dengan
semua santri dan seluruh penduduk desa menyambut dan mempersilahkan mbah Nuh
untuk kemudian diberi sepetak tanah oleh seorang dermawan dan dibuatkan sebuah
langgar, sebuah temat peristirahatan dan pemondokan guna menunjang kegiatan
dakwah beliau.
Ada kesepakatan tidak
tertulis diantara ketiga ulama tersebut. untuk pengajian Al Quran akan
diserahkan kepada mbah Nuh. Sedang untuk pengajian kitab diserahkan kepada
kedua kyai yang lain dengan posisi utama dipegang oleh den Sopawi. Dengan pembagian
tugas ini, kegiatan Bergama di Pageraji sedikit demi sedikit menapak kea rah semarak.
Pengajian yang sedianya diperuntukan
untuk masyarakat Pageraji kini diikuti
pula oleh masyarakat dari desa tetangga bahkan murid-murid mbah Nuh berdatangan
dari daerah-daerah sekitar seperti Purbalingga, Cilacap, Kebumen Banjar Negara
dan lain-lain.
Bersambung…
[1]
Jumlah RT di desa Pageraji mungkin sekarang lebih banyak dari jumlah yang
disebutkan, mengingat setelah era reformasi banyak terjadi pemekaran. Penulis semenjak
tahun 1998 merantau, jadi kurang tahu perkembangan selanjutnya.
Minggu, 28 April 2013
Kenakalan Syeikh Mutawalli Sya'rawi
Kenakalan Syeikh Mutawalli Sya'rawi
Syekh Mutawalli Sya'rawi adalah salah satu dari sekian ulama yang diawal perjalanan mencari ilmu mengalami pergolakan batin yang cukup serius. Sya'rawi kecil kala itu sama sekali tidak tertarik untuk mempelajari ilmu agama, apalagi mendalaminya. Akan tetapi, sang bapak punya firasat bahwa Sya'rawi akan menjadi ulama besar dikelak kemudian hari. Maka, disusunlah rencana agar Sya'rawi dapat menimba ilmu agama, walaupun dengan cara memaksanya.
Institusi yang sedari dulu hingga sekarang menelorkan sederet ulama besar sekaligus berpredikat wali di bumi Kinanah ini adalah Al Azhar. Maka, sang bapak pun berkeinginan agar Sya'rawi masuk di Al Azhar.
Seleksi penerimaan di ma'had Al Azhar menyaratkan bagi setiap pendaftar hapal beberapa juz dari Al Qur'an dengan tartil. Sya'rawi telah hapal 30 juz dengan lancar dan benar. Ia mengaji Al Qur'am langsung kepada bapaknya yang juga seorang Alim.
Ketika tiba giliran Sya'rawi maju menghadap tim seleksi, mereka dibuat kaget. tak satupun dari soal mampu dijawab oleh Sya'rawi. Sya'rawi dengan sengaja membuat jawaban salah dan pura-pura tidak hapal. Dengan masgul mereka mendatangkan sang bapak. Kemudian beliau menjelaskan bahwa Sya'rawi sengaja membuat jawaban salah agar tidak masuk ke ma'had Al Azhar. Dengan pengakuan ini, usaha Sya'rawi gagal. Ia terdaftar sebagai siswa ma'had Al Azhar.
Beberapa waktu Sya'rawi merasa terkekang dan merasa bahwa ia tidak cocok dengan Al Azhar. Usaha untuk keluar dari Al Ahar tidak sekali dua kali ia rencanakan. Misal saja, ketika ia ditanya buku apa saja yang harus dibeli, maka ia dengan cekatan menjawab bahwa kitab yang harus dibeli adalah kitab ini dan itu yang jumlahnya berjilid-jilid. Jika bapaknya tidak percaya ia akan memperalat temannya agar bersandiwara di depan bapaknya ketika datang menjenguk, mengiyakan apa yang dituntut oleh Sya'rawi. Padahal, kitab muqorror hanya beberapa buah saja.
Dari akal busuk ini, Sya'rawi kena batunya. Kebencian terhadap ilmu agama berubah menjadi bronto. Kitab-kitab yang dibelikan oleh bapaknya ia lahap dengan rakus. tak berhenti disitu, koleksi perpustakaan juga ia santap. Makanya, kedalamam ilmu beliau tidak ada yang menyangsikan.
Di ahir cerita, beliau terkenal mempunyai haibah yang luar biasa. Disamping itu, beliau juga mempunyai keramat dan terkenal sebagai orang yang dianugerahi dengan ilmu laduni. Perkataan dan jawaban dari setiap pertanyaan yang diajukan seakan lamgsung bersumber dari pemberi ilmu. Beliau juga diterima oleh setiap kalangan, dari pejabat hingga rakyat melarat dan dari orang awam sampai cendekiawan.
Sebagaimana diceritakan oleh Syaikh Dr. Fathi Abdurrahman Hijazy.
Lahu Al Fatihah.
Senin, 04 Maret 2013
Dakwah Ala NU
Dakwah Ala NU
Oleh: Adhi Maftuhin
Pengertian
Manhaj Dakwah
Kata
da’wah adalah bentuk masdar dari fi’il madhi da’a, yad’u, da’wan, da’watan,
du’aan, da’wa dan mempunyai makna
mengharapkan kehadiran seseorang, perintah mengerjakan sesuatu, dan mengajak
dengan suara lantang.[1]
Kata
da’wah dalam bahasa Al Qur’an tampil dengan beragam bentuk (shighot). Ada yang berbentuk shighot fi’il amar sepeti dalam
surat An Naml:, ada yang tampil dalam bentuk fi’il
madhi sepeerti terdapat dalam surat fushilat:33, bentuk fi’il mudhori’ seperti
tertuang dalam surat Yusuf : 108, dalam bentuk isim fa’il sperti dalam surat Al
Ahqaf:31, dan dalam bentuk mashdar seperti dalam surat Ar Ra’d: 14. Melihat
bervariasinya penggunaan kata yang berakar pada kata da’wah[2]
dalam Al Qura’an para ulama juga memberikan makna yang beragam pula diantaranya
adalah 1). bermakna memohon dengan sangat, pengharapan, dan permintaan. 2)
bermakna peribadahan yang dilaksanakan oleh manusia kepada dzat yang diyakini sebagai
Tuhannya. 3). Menisbatkan sesuatu.4). Memberikan anjuran kepada manusia untuk
mengikuti agama Allah. 5). Memberikan bimbingan kepada manusia(da’i) agar
berupaya menyampaikan agama Allah dan mengarahkannya untuk menempuh jalan yang
diridhai oleh Alloh.
Dari beragam makna yang terkandung dalam kata yang
berakar dari kata dakwah ini, jika kata dakwah diucapkan secara muthlak, tanpa
ada keterpengaruhan oleh kata yang lain maka akan mengarah kepada makna islam.
Yakni, sebuah kata yang mempunyai pengertian kepasrahan dan berserah secara
penuh kepada Allah dengan keimanan yang
sempurna akan risalah yang datang dari-Nya tanpa melihat siapa utusan yang
membawanyam risalah yang dibawa dan tempat dimana wahyu itu diserukan. [3]
sedang dalam pengertian terkini islam adalah risalah yang dibawa oleh nabi
Muhammad Saw.
Sedangkan manhaj adalah sinonim dari kata minhaj yang bermakna jalan
(sistem) yang terang[4]. Dari dua pengertian diatas dapat kita tar ik
kesimpulan bahwa manhaj dakwah adalah sistem -yang digunakan para da’I - dalam membumikan risalah Muhammad.
Siapakah yang berkewajiban untuk berdakwah.
Mata rantai dakwah akan sebuah risalah tentunya
dibebankan pertama kali kepada rasul dan nabi[5],
Setelah itu tugas dakwah dipikulkan kepada umatnya. Pertanyaannya, apakah semua
komponen umat mempunyai tanggung jawab dan kewajiban untuk berdakwah atau cuma
sebagian saja ?
Untuk menjawab pertanyaan tadi, mari kita bermain
dengan dua teks syara’ yang berkaitan dengan tanggung jawab dan kewajiban untuk
membumikan agama Allah di muka bumi ini. Pertama, adalah firman Allah dalam Al
Qur’an Surat An Naml ayat “Serulah ke
jalan tuhanmu dengan hikmah, mauidhoh hasanah dan ajaklah mereka berdiskusi
dengan cara yang baik”. Dalam ayat tadi, seruan untuk berdakwah adalah kepada
nabi Muhammad, karena redaksi amar dari kata ud’u (ajaklah) adalah
khithob kepada mufrod mudzakar mukhotob yaitu hanya Nabi Muhamad saja sebagai satu-satunya
makhluk yang mendapat khitob. Memang, Kalau dipahami secara linguistik
khitob yang ada pada amar ud’u hanya tertuju kepada satu orang mukhotob.
Akan tetapi sangat naïf jika risalah
Allah yang bertujuan untuk membawa seluruh umat manusia kepada kebahagiaan di
dunia dan akhirat sampai hari kiamat tiba hanya dibebankan hanya kepada satu
orang. Maka para mufassirin dan ushuly mengatakan bahwa khitob
yang ada dalam kata ud’u adalah Al
Khusush wa urida bihi al ‘umum, tidak hanya terpaku pada nabi saja, akan
tetapi berlaku juga kepada umatnya. Sekali lagi, benak kita bertanya umat nabi
yang bagaimanakah yang terkena khitob Alloh itu? Apakah bersifat umum sehingga
mencakup seluruh umatnya, atau hanya sebagiannya saja sehinga sebagian yang
lain terbebas dari kewajiban berdakwah.
Kedua, adalah hadits Nabi yang artinya “Barang siapa
diantara kalian yang menjumpai kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya
(kekuasaannya), jika tidak mampu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu
merubah dengan lisannya maka satu-satunya jalan yang harus ditempuh adalah
mengingkari dengan hatinya”.
Redaksi ‘Man” dalam hadis[6]
diatas mengggiring kita untuk mengamini
bahwa siapa saja yang melihat kemunkaran maka berkewajiban untuk menghentikan
dan mengarahkannya pada kebaikan. Kata man adalah isim maushul musytarak yang
dapat memasukan siapa saja, baik laki-laki, perempuan, tua, muda, baligh,
shobiy, berakal sempurna, gila, dan seterusnya.
Merujuk keumuman makna yang terkandung dalam kata
“man” maka semua manusia berkewajiban untuk berdakwah. Akan tetapi tunggu dulu,
kita harus merujuk kaidah yang berbunyi “tidak ada taklif hukum kecuali hanya pada manusia yang sudah
akil dan baligh”. Makanya anak kecil yang belum baligh dan tidak berakal
sempurna tidak berkewajiban untuk berdakwah. Lebih lanjut, tanggung jawab dan
kewajiban berdakwah secara husus hanya dibebankan kepada kaum muslimin yang
punya kapasitas sebagai juru dakwah . Dalam bahasa ushuli ditembungkan dengan ‘aam fil Asykhosh makhshuhsun biman
la taklifa ‘alaih[7]
atau dalam kata lain bersifat
umum(mencakup semuanya) dan ditakhsis dengan orang yang belum ditaklif .
Walhasil, kewajiban berdakwah tidak hanya dibebankan
kepada nabi pembawa risalah akan tetapi juga dibebankan kepada umatnya. Hanya
saja kewajiban itu tidak berlaku kepada seluruh umatnya, akan tetapi berlaku
bagi segolongan orang yang mempunyai kredibilitas untuk berdakwah. Sedangkan
tanggung jawab untuk berdakwah berlaku bagi setiap muslim. Mengingat jika tidak
ada satupun dari kaum muslimin berdakwah maka setiap muslim akan terkena dosa.
Hal ini juga merujuk kepada tugas dakwah yang
dibebankan kepada beberapa sahabat di zaman nabi. Diantaranya adalah Ali bin
Abi Thalib yang ditugaskan untuk berdakwah di daerah Yaman. Sahabat Abdullah
bin mas’ud yang ditugaskan di daerah Irak dan seterusnya. Dari sini jelas sudah
bahwa tugas dakwah tidak dibebankan kepada semua kaum muslimin, akan tetapi
hanya kepada orang-orang tertentu yang punya kecakapan dan berkompeten dibidang
ini.
Dalam bukunya[8],
Muhammad Al Ghazaly mengatakan bahwa diabad ini setiap orang islam
setidak-tidaknya harus berperan dalam pengembangan dan penyebar luasan agama.
Contoh yang paling sederhana adalah berdakwah dengan lisannya. Menurut hemat
penulis kalimat tersebut adalah suatu
ungkapan hiperbolis dari Al Ghazaly agar setiap kaum muslim merasa bertanggung
jawab akan kelestarian islam dan selalu ingat akan adanya kewajiban berdakwah
bagi mereka yang berkompeten.
NU dan Dakwah
NU adalah organisasi keagamaan yang bergerak dalam
bidang sosial keaagamaan. Mengingat tujuan mendasar dari organissai ini adalah
berkiprah dalam sektor sosial keagamaan makas udah barang tentu dalam
tubuh organisasai ini terdapat satu lembaga yang menaungi aktifisnya dalam aktifitas
keagamaan (baca: dakwah). Lembagai ini dalam oraganisasi NU dinamakan LDNU,
kependekan dari Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama.
Sebenarnya, tanpa adanya lembaga inipun para aktifis
NU sudah menjalankan kewajibannya, akan tetapi agar dalam setiap gerakan
dakwahnya terorganisir dengan baik,
scenario dan strategi dakwah dapat tepat sasaran maka lahirlah LDNU ini.
Dalam perjalanan sejarahnya, NU selalu pro aktif dalam
berdakwah. Karena embrio kelahiran NU juga berasal dari ekses kegiatan dakwah. Yakni, ajakan dan seruan kepada pemerintah
hijaz pada waktu itu agar memberikan toleransi kepada umat islam dibelahan bumi
lain agar dapat menjalankan keyakinan dan ibadah sesuai dengan madzhab yang
dianut.
Gerakan dakwah yang dimotori oleh para ulama pesantren merasa
sudah saatnya menampakan identitasnya. Hal
ini merupakan reaksi dari keberhasilan yang telah dicapai oleh komite Hijaz
yang diketuai oleh KH. Wahab Hasbullah. Maka, dibentuklah satu wadah pada tanggal 26 Januari 1926 M. bertepatan dengan 14 Rajab 1344 H dengan nama
Nahdlatul Ulama. Mungkin perlu dicatat disini bahwa NU berhasil mewadahi
mayoritas kaum muslimin di Indoneesia. Hal ini tidak terlepas dari kerja keras
para missionaries NU yang dengan gigih berjuang dan mengorbankan apa saja yang
dimiliki untuk kejayaan NU. Disisi lain NU merupakan kepanjangan tangan dari
gerakan dakwah beberapa abad sebelumnya, yaitu gerakan dakwah yang dimotori
oleh Wali songo.
Tidak berbeda jauh dengan system yang dianut
kembangkan oleh para pendahulunya, NU berusaha untuk melestarikan system yang
dipakai oleh Wali songo dan ditambah dengan membuka diri dengan modifikasi
aplikasi dakwah tanpa harus meninggalkan pakem aslinya. Sadar bahwa kunci
keberhasilan dakwah adalah terletak pada juru dakwah maka, hal pertama yang
dilakukan Para ulama NU adalah dengan kaderisasi para da’I yang dilaksanakan pada beberapa
pesantren induk. Salah satu pesantren yang berperan dalam kaderisasi para
jurudakwah NU adalah pesantren Tebu
Ireng, Jombang yang di asuh oleh maha
guru ulama nusantara yaitu hadratu syeikh KH. Hasyim Asy’ari. Beliau dengan
telaten dan penuh dedikasi tinggi mendermakan seluruh energi, harta dan
waktunya untuk mengkader santri-santri yang akan menjadi corong NU di daerahnya
masing-masing. Santri mbah Hasyim berasal dari hampir seluruh wilayah nusantara
maka, secara otomatis NU juga tumbuh diseluruh pelosoknya. Pola kaderisasi ini
adalah adopsi dari kaderisasi yang telah dilakukan oleh Sunan Ampel. Pada waktu
itu Sunan Ampel mengkader santri-santrinya untuk ditugaskan berdakwah ke
pelosok nusantara, bahkan sampai menyeberang ke negri tetangga.
Bukan tanpa dasar mbah Hasyim memberikan perhatian
khusus pada aspek kaderisasi. Beliau paham betul bahwa sebelum seseorang mengemban tugas untuk
mendakwahkan risalah ketuhanan ia akan melewati fase penggemblengan, tak
terkecuali pada diri para rasul dan nabi. Muhammad sebelum menjadi seorang
rasul melewati fase penyucian dan penggemblengan batin di goa Hira. Hal ini
diskenariokan Allah supaya kuat dalam menghadapi segala tantangan dan rintangan
yang akan dihadapi dalam medan dakwah. Allah berfirman: Tha Haa. Tidaklah aku
turunkan Al Qur’an kepadamu agar kamu celaka. Mengenai tafsir kata Tha Haa
Syeikh Fathi Hijazy dalam salah satu Muhadhorohnya mengatakan bahwa Tha Haa
adalah Ya Thahir, Ya Hadi, atau thuhr dan huda yang bermakna sebelum Al Qur’an
diturunkan kepada nabi Muhammad Saw beliau disucikan terlebih dahulu dengan
tujuan utama agar dapat memberikan petunjuk kepada umatnya.[9] Senada
dengan penafsiran ulama-ulama tasawuf semisal Al Ghazaly, Ibnu Athaillah dan
ulama-ulama sepaham yang lain.
KH. Chudory [10]
mengatakan bahwa ada tiga aspek yang membuat NU dapat diterima dengan cepat
oleh masyarakat Indonesia. Ketiga aspek
tersebut adalah adanya prinsip tasamuh, tawazun, dan tawasuth dalam berdakwah. Tasamuh
adalah adanya sikap toleran pada adat
istiadat dan ritual yang ada pada setiap daerah yang dijadikan lahan dakwah.
Yakni, berusaha meluruskan adat istiadat dan ritual yang berseberangan dengan
ajaran islam secara bertahap, tidak memberangusnya secara langsung. Strategi
inilah yang kadang disalah artikan sebagai biangnya bid’ah. Tawazun adalah adanya
keseimbangan dalam mendudukan kepentingan dunia dan akhirat secara proporsional. Terahir
adalah tawasuth yang berarti moderat.
Adanya kecakapan seorang da’I dalam berda’wah,
strategi dalam menjalankan misi, mental dan etos dalam berdawah adalah empat
sekawan yang tidak dapat terpisah agar dakwah dapat mencapai hasil yang
memuaskan.
NU dan strategi dakwah di abad 21
Sesempit analisa penulis terhadap fenomena yang berkembang
pada era setelah KH. Wahab Hasbullah[11]
dan KH. Bisyri Musthafa[12],
gelombang dakwah yang digaungkan oleh anak-anak muda NU seakan statis dan
defensive. Perkataan tadi seakan menyiratkan nada skeptis dalam diri penulis.
Benar adanya bahwa ulama dengan pesantrennya pada dekade 50-an sampai ahir
dekade 70-an masih menjalankan tugasnya
sebagai kamp kaderisasi. Hanya saja, situasi politik dan kecendrungan untuk
ikut memperjuangkan hak-hak kaum nahdliyyin melalui partai malah melemahkan
konsentrasi dakwah disisi yang lain. Sampai akhirnya pada tahun 1984 NU secara
organisatoris menarik diri dari gelanggang politik praktis dan kembali dalam
pemberdayan umat.
Sadar dengan ketertinggalan dari organisasi lain dalam
hal pendidikan dan pelayanan kepada umat dalam bidang yang lain, NU secara
bertahap menata diri untuk menyongsong abad 21 dengan memberdayakan lembaga,
badan otonom dan Lajnah yang ada dalam tubuh ini agar dapat merespon gerak laju
zaman. Dalam bidang pendidikan, LP Ma’arif bekerja sama dengan Ansor sebagai
tenaga muda NU mendirikan sekolah-sekolah formal yang berafiliasi ke NU. Mereka
bahu-membahu dengan warga nahdhiyin -secara mandiri- mendirikan sekolah-sekolah di daerah
kantong-kanting nahdliyin. Kaum muda berperan sebagai pelaksana, Sedang kaum
tua memberikan arahan kepada yang muda. Adanya bagi tugas yang harmonis ini
menjadikan perkembangan dalam pendidikan cukup signifikan. Era ini dimulai pada
akhir dekade 60-an sampai sekarang.
Dibelahan lain, ulama pesantren juga tidak mau duduk
asik menyaksikan menjamurnya sekolah formal tanpa melakukan modifikasi
pendidikan dalam pesantrennya. Pesantren yang diawal perkembangan NU menempati
posisi paling strategis dalam aksi dakwah kini juga sama sekali tidak
kekurangan perannya. Maka, munculah pesantren modern dan semi modern. Sedang
pesantren yang masih berpegang teguh pada metode tradisonal juga tetap
dipertahankan.
Sadar bahwa benteng pertahanan NU adalah di pesantren
maka ulama pesantren dengan seksama mengikuti gerak laju perkembangan zaman
untuk kemudian diimplementasikan dalam kurikilum pesantrennya. Tujuannya tak
lain adalah mencetak kader muda NU yang siap menjadi penerus perjuangan dan
mampu mencari solusi dalam setiap permasalahan kekinian dalam perspektif
syariat. Dari kerajaan-kerajaan kecil inilah
imperium NU dapat bertahan dari goncangan sana-sini.
Goncangan dari sana adalah gelombang yang datang dari
arah luar dan biasanya bersifat sebagai tamu yang berkeinginan menduduki
sebagian petak kamar dari rumah besar NU. Sedang goncangan dari sini adalah
dinamika ilmiah yang berkembang dalam internal NU. Kedua goncangan ini dewasa
ini dinetralisir oleh Lembaga Bahtsul Masail NU atau yang lebih terkenal dengan
LBM NU. Salah satu gerakan dalam LBM yang berperan aktif dalam membentengi NU
dari goncangan luar dalam adalah forum kyai muda yang dipandegani oleh Abdullah
Syamsul Arifin dan Idrus Ramly di daerah Tulangan, Sidoarjo.
Melihat jumlah kaum nahdliyin yang mencapai kisaran 40
jutaan[13], dan katanya ormas islam dengan jumlah
pengikut paling besar di dunia sudah barang tentu ormas ini punya kiat-kiat
husus agar pengikutnya selalu loyal kepadanya. Strategi yang digunakan dalam
dakwah NU dewasa ini menurut penulis mengguna1kan strategi defensive ala
catenacio. Berusaha membentengi para pengikutnya dalam lingkaran NU agar tidak
sampai menyeberang ke rumah tetangga dan disaat yang bersamaan berusaha
menambah anggota.
Bukan tanpa alasan strategi itu yang dipilih. Bukankah
ada adagium “lebih sulit menjaga dan memelihara daripada membangun”. Fase
perkembangan sudah lewat dan mengalami jaman keemasan pada masa awal sampai
zaman pertengahan, yaitu sampai pada era KH. Wahab Hasbullah.
Tapi jangan disalah artikan bahwa aktifitas dakwah
dalam NU mentok sampai disitu. Bukankah pengertian dakwah tidak terbatas hanya
dalam ajakan secara lisan dan propaganda lain untuk masuk dalam lingkaran yang
dimaksud. Dakwah hakiki adalah ajakan dan seruan dengan perbuatan, melaksanakan tugasnya
sebagai khalifah Alloh dimuka bumi sesuai dengan yang diharapkan oleh sang
Khaliq.
Dakwah bil hal dalam NU diimplementasikan oleh
NU secara organisasi dalam upaya mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin bagi
para anggotanya secara khusus dan memberikan pelayanan kepada masyarakat
keseluruhan secara umum. Upaya untuk meningkatkan taraf hidup anggotnya
tercermin dari pemberdayaan zakat sebagaiman telah dilakukan oleh KH. Sahal
Mahfudz dan pendirian BMT di pesantren Sidogiri, Sidoarjo. Langkah konkret lain
adalah denga mendirikan rumah sakit, rumah bersalin dan tempat pelayanan social
yang lain.
Akhirnya, karena keterbatasan waktu penulis ingin
menyampaikan bahwa keberhasilan dakwah sangat tergantung kepada kecakapan
seorang da’I, strategi dakwah, tersedianya dana yang cukup, kesiapan mental
dari seorang da’I, memberikan prosentase 25% untuk dakwah bil lisan dan
75% untuk dakwah bil hal , dan adanya
kesinambungan kaderisasi.
[1] Al
Mu’jam Al Wajiz hal. 228 cet. Haiah ammah
[2] Masdar
merupakan akar dari kata yang dapat ditashrif. Hal ini menurut pendapat ulama
Bashrah. Sedangkan menurut ulama kufah, akar kata adalah fi’il madhi
[3]
Da’watu rusul ghoyatuha wa tarikhuha, hal. 19-21 Dr. Ragab Syitawy
[4] Al
Mu’jam Al Wajiz
[5]
Nabi juga berkewajiban untuk menyebarkan risalah tuhan sebagaimana pendapat
Ibnu Taimiyah. Ibid hal. 51
[6]
Syarah Arbain nawawy najmudin al thufy hal 405 cet dar bashoir
[7]
Ibid hal 407
[8]
Humum da’iyah Muhammad Al ghazaly cet.
Al basyir,Hal.
[9]
Muhadhoroh Dr. Fathy Hijazy pada kamis 28/2/2013
[10]
Pendiri PP. API Tegalrejo Magelang
[11]
Rais Aam PBNU setelah KH. Hasyim Asy’ari sampai wafat pada tahun 1974
[12]
Singa Podium dari Rembang, Pengasuh PP. Raudhatut Tholibin leteh, Rembang
[13]Sensus
warga nahdyiin belum pernah diadakan
Rabu, 13 Februari 2013
Sekilas Tentang Dr. Ali Gooma
Beberapa hari kedepan, tepatnya bulan Maret 2013 M. Dr. Ali Gooma secara resmi lengser dari jabatan mufti Mesir yang telah diembannya selama dua periode (2003-2008 dan 2008-2013). Beliau sebenarnya diminta kembali oleh dewan pemilihan mufti Mesir untuk mengemban kembali amanah yang telah beliau emban dua perioade itu. Akan tetapi beliau dengan halus menolak dan berkata "saya ingin meluangkan waktu lebih banyak guna mendidik para santri di masjid Al Azhar".
Secara Khusus Prof. Dr. Ahmad Thoyib Syaikhul Azhar juga memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya untuk beliau, karena beliau dianggap telah memberikan sumbangsih yang begitu beesar kepada dunia islam pada umumnya dan pada rakyat Mesir pada khususnya melalui kiprah beliau dalam membumikan ajaran islam yang wasathy dan berandil besar pula dalam melestarikan kekayaan hazanah islam dengan membuka kembali pengajian-pengajian di ruwal masjid Al Azhar serta membuka akademi fatwa (Daar Ifta) sehingga atmosfer intelektual di bumi kinanah semakin semarak.
Dr. Abd. Fadhil al Qushy -menteri wakaf mesir- juga senada dengan Grand syekh Al Azhar. beliau berterima kasih dan berkata "Dr. Ali Gooma akan membuat kerja mufti selanjutnya semakin berat karena harus mengimbangi pencapaian yang telah di rengkuh olehnya".
Berikut ini biografi singkat Dr. Ali Gooma:
Nama: Syaikh Ali Gomaa Mohamed Abdel Wahab bahasa arab:على جمعة محمد عبد الوهاب
TTL: Bani Suwef, Mesir 3 Maret 1952 M.
Latar belakang
Sheikh Ali Gooma mulai menghafal Al-Qur'an
pada usia sepuluh tahun. Meskipun beliau tidak masuk sekolah agama, beliau
telah mempelajari kutubu sittah serta fiqih Maliki usai lulus dari bangku SMA. Kemudian
beliau masuk fakultas teknik atau fakultas perdagangan. Beliau memilih Fakultas
perdagangan karena bidang ini yang akan memungkinkan dia untuk mengisi waktu
luang ketika melanjutkan studi agama.
Setelah lulus dari perguruan tinggi, Sheikh Ali
Jum'ah terdaftar di Universitas al-Azhar. Setelah menyelesaikan gelar sarjana
kuliah Dirasat Islamiyyah wal Arabiyyah Universitas al-Azhar pada tahun 1979,
Sheikh Ali Jum'ah terdaftar dalam program magister dalam Ushulul Fiqih kuliah
Syari'ah wal Qanun Universitas al-Azhar. Beliau memperoleh gelar magister pada
tahun 1985 dengan nilai mumtaz. Diikuti dengan gelar doktor dalam Ushulul Fiqih
Kuliah Syari'ah wal Qanun Universitas al-Azhar tahuan 1988 M dengan nilai Syaraf Ula.
Selain studi resminya, Sheikh Ali Jum'ah juga
belajar kepada banyak syekh dan ahli ilmu-ilmu syariah. Diantaranya ulama
hadits Maroko dan Syekh Abdullah bin Siddiq al-Ghumari. Sehingga mereka
menganggap Syekh Ali Jum'ah adalah salah satu mahasiswa yang paling berhasil.
Selain itu Syeikh Ali Jum'ah juga belajar pada:
Sheikh Abd al-Fattah Abu Ghuda, Sheikh Muhammad Abu Nur Zuhayr, Sheikh Jad
al-Rabb Ramadan Goma', Sheikh al-Husayni Yusif al-Shaykh, Sheikh Muhammad Yasin
al-Fadani, Sheikh Abd al-Jalil al-Qarnishawi al-Maliki, Sheikh al-Azhar Sheikh
Jad al-Haqq Ali Jadd al-Haq, Sheikh Abd al-'Aziz al-Zayat, Sheikh Ahmed
Muhammad Mursi al-Naqshibandi, Sheikh Muhammad Zaki Ibrahim, and Sheikh
Muhammad Hafidh al-Tijani.
Sebelum diangkat menjadi Grand Mufti Republik
Arab Mesir, beliau menjadi rujukan dalamManahij Fiqhiyyah di
Universitas al-Azhar.
Di pertengahan 1990 Sheikh Ali Jum'ah
mencetuskan kembali tradisi lama yaitu memberi pelajaran agama di masjid
al-Azhar, yang mana pelajaran ini terbuka untuk umum sehingga orang-orang yang
ingin lebih mendalami tentang agama, bisa mengikuti pelajaran ini. Kuliah umum
ini terletak di ruangan dekat masjid al-Azhar.
Pada tahun 2003 Sheikh Ali ditunjuk sebagai
Grand Mufti Mesir. Sejak menjabat sebagai Grand Mufti Republik Arab Mesir,
beliau membuat Dar al-Ifta menjadi sebuah
institusi modern dengan dewan fatwa dan sistem checks and balances . Sheikh Ali
Jum'ah juga menambahkan aspek teknologi untuk institusi tersebut dengan
mengembangkan sebuah website canggih dancall center dimana
orang semakin mudah untuk meminta fatwa tanpa harus datang ke institusi tersebut.
Sheikh Ali adalah seorang penulis yang
produktif tentang isu-isu Islam dan ia menulis kolom mingguan di surat kabar
al-Ahram Mesir di mana ia membahas masalah-masalah kontemporer.
Pendidikan
- Beliau mendapat gelar Bachelor of Commerce dari Universitas 'Ain Syams tahun 1973 M.
- Beliau juga mendapat gelar sarjana kuliah Dirasat Islamiyyah wal Arabiyyah Universitas al-Azhar tahun 1979 M.
- Magister dalam Ushulul Fiqih kuliah Syari'ah wal Qanun Universitas al-Azhar tahun 1985 M dengan nilai mumtaz.
- Mendapat gelar doktor dalam Ushulul Fiqih Kuliah Syari'ah wal Qanun Universitas al-Azhar tahuan 1988 M dengan nilai Syaraf Ula.
Pekerjaan
- Mufti Republik Arab mesir mulai 28 September 2003 sampai sekarang.
- Anggota Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah mulai tahun 2004 sampai sekarang.
- Anggota Majma' al-Fiqh dalam mu'tamar Islam di Jeddah.
- Guru besar Ushulul Fiqih kuliah Dirasat Islamiyyah wal Arabiyyah lil banin Universitas al-Azhar.
- Anggota mu'tamar fiqih Islam di India.
Karya-karya beliau
- المصطلح الأصولي والتطبيق على تعريف القياس.
- الحكم الشرعي عند الأصوليين.
- أثر ذهاب المحـل في الحكم.
- المدخل لدراسة المذاهب الفقهية الإسلامية.
- علاقة أصول الفقه بالفلسفة.
- مدى حجية الرؤيا.
- النسخ عند الأصوليين.
- الإجماع عند الأصوليين.
- آليات الاجتهاد.
- الإمام البخاري.
- الإمام الشافعي ومدرسته الفقهية.
- الأوامر والنواهي.
- القياس عند الأصوليين.
- تعارض الأقيسة.
- قول الصحابي.
- المكاييل والموازين.
- الطريق إلى التراث.
- الكلم الطيب.. فتـاوى عصرية.
- الكلم الطيب.. فتـاوى عصرية (2).
- الدين والحياة.. فتاوى معاصرة.
- الجهاد في الإسلام.
- شرح تعريف القياس.
- البيان لما يشغل الأذهـان.. 100 فتـوى.
- سمات العصر.. رؤية مهتم.
- سيدنا محمد رسول الله للعالمين.
- الفتوى ودار الإفتاء المصرية.
- فتـاوى الإمام محمد عبده (اعتنى بجمعه واختياره وقدم لـه).
- حقائق الإسلام في مواجهة شبهات المشككين (بالاشتراك).
- قضيـة تجديد أصول الفقه.
- صناعة الإفتاء من مجموعة سلسلة التنوير الإسلامي.
- التجربة المصرية من مجموعة سلسلة التنوير الإسلامي.
- مكانة المرأة في الفقه الإسلامي من مجموعة سلسلة التنوير الإسلامي.
- المرأة بين إنصاف الإسلام وشبهات الآخر.
- قضايا المرأة في الفقه الإسلامي.
- المرأة في الحضارة الإسلامية.
- تيسير النهج في شرح مناسك الحج.
- النبي صلي الله عليه وسلم.
- الطريق إلى الله.
- الوحي – القرآن الكريم.
- البيئة والحفاظ عليها من منظور إسلامي.
- سبيل المبتدئين شرح منازل السائرين
Copas dari hukum Zone.
Perkenalan dengan beliau
Perkenalan saya dengan beliau adalah diahir tahun 2004 melalui buku beliau yang berjudul Ad Din Wal Hayat. Sebuah buku kecil yang berisikan tentang fatwa keseharian. Setelah beberapa bulan kemuadian saya ikut menikmati karya beliau yang berjudul Al Makayiil wal Mawazin melalui Alm Gus Lubab. Semenjak saat itu saya semakin gandrung dengan karya beliau. Selang satu setengah tahun saya mendapatkan karya beliau yang lain yang berjudul Al Bayan. Dari ketiga buku beliau yang sampai ke tangan saya tidak ada satupun yang berbentuk asli. saya mendapatkannya dalam bentuk foto kopi. Maklum, pada waktu itu akses terhadap buku dan kitab timur tengah masih sangat terbatas.
Kegandrungan pada beliau akhirnya memuncak setelah saya diizinkan untuk menginjakkan kaki di bumi kinanah. Kekaguman pada beliau semakin menjadi setelah saya bertemu dengan anak murid beliau, diantaranya adalah Syekh Amr Al Wardany, Syeikh Ishom Al Zaftawy, Syekh Usama Al Azhary, Syekh Asryraf Al Makkawy, Syekh Sayid Syaltut, Syekh Jamal Faruq, Syekh Hisyam Kamil, Alm Syeikh Imad Effat, Syekh Salim Abu 'Ashy dan sederet nama lain yang intens mengajar di Masjid Al Azhar. Dan pada saat yang bersamaan, disela-sela kesibukannya menjadi Mufti beliau menyisakan waktu untuk mendidik di masjid Al Azhar dengan membuka pengajian Ghoyatul Wushul, Asybah wan Nadzoir Li Suyuthy, Tamhad dan akhir-akhir ini sering dengan pengajian Tafsirnya. Semoga saja dengan purna tugasnya beliau sebagai mufti semakin banyak waktu untuk sekedar menatap beliau dan mendengarkan didikannya.
Semoga.
Langganan:
Postingan (Atom)