Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2016

Pesan Kemerdekaan dalam Tawa



Tujuh belasan adalah momen membahagiakan dan sangat kita tunggu-tunggu. Pada saat itulah kita akan diberi uang saku lebih. Kita juga dapat menikmati keramaian yang datangnya cuma tiga kali dalam setahun; dua hari raya dan tujuh belasan.

Tujuh belasan akan serasa lebih sempurna apabila kita memenangkan beberapa cabang perlombaan yang digelar mulai dari tingkat RT sampai tingkat Desa. Dari kemenangan itu kita dapat nampang disaat acara pemberian hadiah yang biasanya diadakan bersamaan dengan Panggung Gembira. Acara ini biasanya digelar pada dua hari setelah tujuh belasan atau kadang beberapa hari setelahnya. Diatas panggung kita dapat nampang (mungkin sekarang sambil selfi) dan menggondol hadiah yang biasanya berupa buku tulis, pensil/ballpoin, kaos atau cuma beberapa lembar piring dan gelas.

Jumat, 22 Oktober 2010

Gus Dur Layak Soeharto Belum

Sekretaris kabinet Dipo Alam mengatakan pemerintah sudah menyaring 10 nama calon pahlawan nasional. Mereka adalah adalah Sanusi dari Jawa Barat, Pakubuwono X dari Jawa
Tengah, Andi Makasau dari Sul-Sel, Abraham Dimara dari Papua, Johanes Leimena dari Maluku, Andi Depu dari Sulawesi Barat, Ali Sadikin dari Jawa Barat, Habib Sayid Al Jufrie dari Sulteng, HM Soeharto dari Jawa Tengah dan terahir Gus Dur dari Jawa Timur.

Dari kesepuluh calon pahlawan nasional tersebut yang paling banyak diperbincangkan adalah dua nama terahir. Banyak kalangan menilai bahwa pak Harto belum layak jadi pahlawan Nasional terkait dengan penghianatan terhadap amanat rakyat yang ia emban selama menjabat presiden RI. Seperti apa yang dikatakan oleh Andi Arief pada detikcom, senin (18/10/2010). Dia bahkan mengatakan “Bukan hanya Soeharto tak layak mendapat gelar pahlawan, menyodorkan namanya saja adalah kerjaan yang tidak perlu”.

Hal senada juga dilontarkan oleh sejarawan LIPI Asvi Warman Adam (17/10/2010) kepada media yang sama. Dia mengatkan bahwa pencalonan Soeharto dinilai akan menimbulkan Kontroversi. Karena disamping ia memabngun ia juga merusak. Penentangan serupa juga dikemukakan oleh sejumlah korban rezim Soeharto sperti Budiman Sudjatmiko.

Disamping banyak yang menolak disisi lain ada juga yang merasa gembira dan puas atas munculnya pak Harto dalam nominasi penghargaan gelar pahlawan Nasional. Hal itu dapat
ditangkap dari pernyataan ketua DPP Partai Golkar, Priyo Budi Santoso dan Tomy Soeharto.

Sedangkan untuk pengangkatan Gus Dur Sebagai pahlawan Nasional, kelihatannya lebih banyak pihak yang setuju dari pada yang kontra. Muhaimin Iskandar, tokoh PKB yang dulu pernah berseteru dengan Gus Dur mengatakan bahwa pengangkatan Gus Dur sebagai pahlawan nasional adalah langkah yang sangat tepat. Gus Dur merupakan tokoh yang sangat berjasa dalam memperjuangkan rakyat minoritas. Bahkan dia mengatakan lebih lanjut bahwa Gus Dur bagi sebagian masyarakat sudah menjadi pahlawan.

Penilaian senada juga muncul dari sejarawan LIPI Asvi Warman Adam. Dia mengatakan bahwa selain Gus Dur ada satu nama lagi yang layak jadi pahlawan, yaitu bang Ali Sadikin, gubernur Jakarta era 70 an.

Sumber: detikcom

Kang Said Ceramah Di Depan Pembesar Maroko

Negara indonesia tercatat sebagai Negara berpenduduk muslim terbesar di Dunia. Hanya saja dari jumlah dua ratus juta penduduk muslim Indonesia Cuma beberapa gelintir ulamanya yang mampu berbicara pada lefel internasional. Dan salah satunya adalah Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj ketua umum Jam’iyyah Nahdhatul Ulama (PBNU) 2010-2015 atau yang akrab kita panggil dengan sebutan kang Said.

Pada bulan Agustus yang lalu, bertepatan dengan bulan Ramadhan 1431 H. kang Said di undang oleh pemerintah kerajaan Maroko untuk memberikan Taushiah di hadapan majlis pengajian Al Hasaniyah, yaitu majlis pengajian yang beranggotakan para pejabat tinggi kerajaan Maroko dan duta besar Negara sahabat, serta keluarga besar kerajaan Maroko, tentunya termasuk didalamnya beliau yang mulia Sultan Muhammad VI. Penguasa kerajaan Maroko saat ini. Taushiah ini berlangsung kurang lebih setengah jam dan disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi kerajaan Maroko

Dalam kesempatan itu kang Said pertama-pertama memberikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada beliau raja Muhammad VI yang telah memberikan kesempatan kepada kang Said sebagai duta kaum muslimin Indonesia untuk mempererat kembali tali ukhuwwah islamiyah yang sebenarnya sudah terjalin sangat lama, dan secara resmi ditandai dengan kunjungan raja Muhammad V ke Indonesia pada dekade 60 an, serta mengungkapkan rasa bangga dapat menghadiri undangan beliau, karena ini merupakan untuk pertama kalinya putra Indonesia menjadi pembicara dalam pengajian rutin Al Hasany. Tidak lupa juga kang Said menyampaikan salam hangat dari kaum muslimin Indonesia untuk yang mulia raja Muhammad VI beserta rakyat kerajaan Maroko.

Muqodimah singkat ini diahiri dengan penjelasan kesamaan antara kaum muslimin Indonesia dengan kaum muslimin Maroko dalam hal pemahaman beragama, kebudayaan, dan sosial. Contohnya sama-sama mencintai Ali Bait Rosululloh, berada dalam ajaran islam yang tawasuth (tidak Ekstrim), senang berdzikir, mulazamah dengan thoriqoh-thoriqoh shufiyah yang berlandaskan kitabulloh dan sunnah nabi, memuliakan ulama dan auliya, dan lain-lain

Setelah muqodimah selesai, kang Said melanjutkan ceramahnya dengan judul Himayat Al Millah wa Ad Din fi Duwal Ad Demoqrathiyya Roddan ‘Ala Man Qool bi Fashli Ad Din ‘an Ad Daulah (Proteksi Terhadap Agama Dalam Negara Demokrasi, Respon Atas Pendapat Orang-orang Yang Ingin Memisahkan Agama Dari Wilayah Negara ).

Ada empat bahasan pokok dalam uraian kang Said. Yaitu: Penjelasan tentang kebebasan beragama dalam pandangan islam, peran serta Negara dalam menjamin keamanan dan kebebasan setiap warganya dalam melaksanakan perintah agamanya, pengalaman Negara Indonesia yang plural dalam agama dan keyakinan dalam menjaga kerukunan antar umat beragama, dan terahir adalah penjelasan mengenai ketidak absahan argument sekulerisme.

Penjelasan kang Said yang berisi, runut, dan jelas dalam bahasa arab fusha tanpa ada kekeliruan serta menggunakan uslub yang indah. Kiranya hal ni dapat menjadikan kaum muslim di dunia dapat melihat bahwa Indonesia juga punya cendekiawan yang patut diperhitungkan dalam kancah ulama internasional.
———————
Sampai saat ini baru beberapa ulama Indonesia yang kapasitas keilmuannya diakui oleh dunia isalam. Ulama-ulama Indonesia terkenal tidak produktif dalam menelorkan karya. Diantara ulama kita yang produktif menelorkan karya dan diakui dunia adalah Syekh Nawawy Al Bantany, Syekh Mahfudz At Turmusy, Syekh Ihsan Al Jampesy, KH. Hasyim Asy’ary dan Syekh Yasin Al Fadany. Dan untuk nama yang terahir bahkan mendapat gelar Musnidu ad Dunya karena beliau terkenal memiliki sanad-sanad berbagai fan ilmu sampai Rosululloh. Murid-murid beliau bertebaran di dunia islam, baik di Indonesia atau Negara lain. Tak terkecuali mufti Mesir saat ini, fadhilat syekh Dr. Ali Jum’ah.
———————-