Tampilkan postingan dengan label Banyumas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Banyumas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Mei 2013

Pageraji Dan Tokohnya



Pageraji adalah sebuah desa di kaki gunung Slamet, kurang lebih 8 km. arah barat  Purwokerto,  Jawa Tengah.  Desa ini dibagi menjadi  4 dusun,  10 RW dan 52 RT[1], dengan jumlah penduduk mencapai  kurang lebih 8000 jiwa sesuai dengan sensus penduduk tahun 2006. Penduduk desa Pageraji 100% beragama islam ala ahlu sunnah wal jamaah dan berafiliasi kepada  Nahdlatul Ulama, satu-satunya ormas islam yang ada dan dapat tumbuh di sana.


Tumbuh dan berkembangnya NU dengan pesat tidak dapat dilepaskan dari kerja keras  para tokoh-tokoh NU yang dengan gigih tanpa pamrih membumikan ajaran islam yang berhaluan ahlu sunnah wal jama’ah  di desa ini. Tercatat KH. Muhammad Nuh Al Hafidz, KH. Suyuthi. Dan KHR Sopawi sebagai tokoh sentral dibalik kesuksesan besar ini.  Sehingga sampai detik ini NU mengakar dan dapat bertahan dari berbagai macam goncangan dari luar. Disamping itu, secara geografis  desa Pageraji  juga  terbilang  dekat dengan pusat  aktiitas NU di daerah Jawa Tegah bagian barat, yaitu kota gethuk  Sokaraja, kota dimana mantan menteri agama RI dan aktifis NU lahir dan besar  yaitu KH. Saifudin Zuhri.


Kisah harmonis tiga serangkai tokoh ini bermula ketika KH. Muhammad Nuh (selanjutnya disebut dengan Mbah Nuh) hijrah dari tanah kelahirannya yaitu desa Karang Jati, kecamatan Sampang Kabupaten Cilacap dengan tujuan mencari tempat yang cocok untuk menyebarkan ilmunya. Mbah Nuh didawuhi oleh bapaknya agar mencari lahan guna mengembangkan ilmu yang didapat karena tempat kelahirannya dirasa telah terlalu banyak orang mumpuni. Delapan saudaranya telah pulang dari pengembaaannya menuntut ilmu dan siap untuk membantu sang ayah, Kyai Abdurrahim. Maka, mbah Nuh diminta untuk trukah ditempat yang lain. Hal ini bukan tanpa alasan. Mbah Nuh telah mengenyam pendidikan selama empat tahun di pondok pesantren Tremas dibawah asuhan KH. Dimyathi , adik dari Syekh Mahfudz At Tarmasy seorang ulama kenamaan asal Indonesia dengan berpuluh-puluh karya ilmiah dan pemegang lisensi sanad kitab shohih Bukhori. Selain itu beliau juga memperdalam ilmu qiroah di mekah selama tujuh tahun .


Sekitar tahun 1935 mbah Nuh menapakan kaki di daerah Pageraji. Mula-mula beliau ditawari untuk  menempati daerah yang sekarang bernama bulakan (masuk desa Langgong Sari), akan tetapi karena dirasa kurang cocok –sebenarnya daerah itu sangat wingit- maka beliau menjatuhkan pilihan di daerah yang bernama legok. Sebuah tanah yang posisinya hamper mirip jurang.  Sebenarnya daerah ini tidak kalah wingit dengan daerah pertama, tapi melihat lokasinya yang sangat strategis –di tengah-tengah desa dan jalan raya- maka beliau jatuh hati kepada daerahnya yang baru. 


Dua ulama yang telah terlebih dahulu bertempat di Pageraji yaitu den Sopawi dan Kyai Suyuthi menyambut beliau dengan sambutan yang luar biasa meriah. Mereka berdua dengan semua santri dan seluruh penduduk desa menyambut dan mempersilahkan mbah Nuh untuk kemudian diberi sepetak tanah oleh seorang dermawan dan dibuatkan sebuah langgar, sebuah temat peristirahatan dan pemondokan guna menunjang kegiatan dakwah beliau.  


Ada kesepakatan tidak tertulis diantara ketiga ulama tersebut. untuk pengajian Al Quran akan diserahkan kepada mbah Nuh. Sedang untuk pengajian kitab diserahkan kepada kedua kyai yang lain dengan posisi utama dipegang oleh den Sopawi. Dengan pembagian tugas ini, kegiatan Bergama di Pageraji sedikit demi sedikit menapak kea rah semarak.  Pengajian yang sedianya diperuntukan untuk masyarakat Pageraji  kini diikuti pula oleh masyarakat dari desa tetangga bahkan murid-murid mbah Nuh berdatangan dari daerah-daerah sekitar seperti Purbalingga, Cilacap, Kebumen Banjar Negara dan lain-lain.


Bersambung…






[1] Jumlah RT di desa Pageraji mungkin sekarang lebih banyak dari jumlah yang disebutkan, mengingat setelah era reformasi banyak terjadi pemekaran. Penulis semenjak tahun 1998 merantau, jadi kurang tahu perkembangan selanjutnya.

Rabu, 13 Februari 2013

Refleksi Haul Dan HUT Ke-99 PP. At Taujieh Al Islamy

Refleksi Haul Dan HUT ke 99 PPTI

Berbicara haul pasti tidak akan lepas membicarakan pribadi shohibul haul. Ya, Mbah Hisyam dalam waktu beberapa jam ke depan akan menjadi trending topik pembicaraan para santri, alumni dan siapa saja yang punya kenangan atau setidaknya orang-orang yang secara sadar menghadiri acara peringatan haul beliau, ataupun yang tidak sempat hadir dikarenakan kondisi dan berbagai alasan yang dapat diterima.

Berbicara Mbah Hisyam pasti tidak akan lepas dari sifat wara, alim, merakyat, membumi, sederhana dan bermacam sifat dan perilaku lain yang mencerminkan bahwa beliau adalah penderek kanjeng nabi. Akan tetapi sampai sekarang rekam jejak mbah Hisyam hanya dapat dinikmati secara oral, cerita dari mulut ke mulut dan tidak menutup kemungkinan beberapa tahun ke depan hanya sedikit tentang beliau yang dapat diceritakan dan sedikit pula yang akan sempat mendengarkannya. Bahkan, kelak kemudian hari para santri tidak akan dapat mengenal sosok mbah Hisyam. perlu kiranya dari pihak alumni dan ndalem untuk membukukan biografi dan sepak terjang beliau agar selalu dikenang dan dapat dijadikan cerita kepada anak cucu kelak.

Mbah Hisyam katanya menolak hal-hal yang berbau elektronik dan kemajuan. Sehingga untuk dapat memasang pengeras suara di masjid Leler saja perlu perjuangan . Hal itu dapat dimaklumi. Mungkin saja beliau masih terpengaruhi oleh politik noncoperation yang dulu sempat dilancarkan para ulama pesantren ketika beliau mondok. hal itu memang sangat relevan dimasanya sebagai langkah perlawanan terhadap kebijakan penjajah dalam bidang ekonomi dan politik. Tapi sekarang zaman sudah berubah. Sekarang adalah zaman digital. Peperangan tidak lagi dengan memanggul senjata dan tidak perlu berdarah-darah. Perang sekarang ini lebih dominan dengan pikiran dan tekhnologi. Maka, Leler sebagai benteng Ahlussunnah dan dimotori oleh ulama-ulama yang disegani perlu membuka diri pada kemajuan. Misal saja dengan mendokumentasikan semua pengajian para masyayikh dan kemudian mengunduhnya di youtube. Hal mendasar dari semua itu adalah sebagai wujud sumbangsing kepada umat dan terlebih agar generasi sesudahnya dapat terus mengambilmanfaat dari ilmu yang beliau-beliau sampaikan.

Berbicara tentang mbah Hisyam tidak lepas dari pengabdian yang tulus kepada masyarakat sekitar dan santri. Pun begitu tidak melalikan dari kewajiban untuk mendulang rezeki dengan tetap menyempatkan waktu untuk berkebun dan bertani. beliau ingin mengajarkan bahwa seorang santri hendaknya mendapatkan kesejahteraan di dunia dan mendapatkan kebahagiaan di akhirat. beliau hendak mengatakan bahwa seorang santri harus cemekel dan temen. memberikan sumbangsing kepada masyarakat sesuai dengan kemampuannya dan bertanggung jawab pada keluarga. Beliau ingin mengajarkan bahwa nabi Muhammad yang kita sanjung tidak rela membiarkan umatnya dalam kubangan pengangguran. Sebab menganggur bukan saja menghambat kesejahteraan dalam bidang ekonomi akan tetapi lebih jauh menganggur dapat menyebabkan ketidakberuntungan di ahirat kelak.

Bersambung...........

Minggu, 30 September 2012

Pegawai Tinggi Tak Mampu Sekolahkan Anak-anaknya

Aku bersyukur bahwa aku terlahir dari pasangan serasi pegawai tinggi*. Ayahku  hanya sempat mengenyam sekolah rakyat. Dan Simbokku juga pernah mencicipi bangku sekolah sampai dapat membaca dan menulis. Walaupun keduanya hanya berpendidikan ala kadarnya akan tetapi mereka berdua  mempunyai cita-cita yang luhur, yaitu dapat memberikan pendidikan yang yang tinggi dan berkwalitas kepada anak-anaknya. Sehingga kutukan pekerjaan yang selama ini mereka warisi dari para leluhur dapat terlepas dari anak-anaknya.

Menjadi pegawai tinggi memang penuh resiko. Bila musim penghujan datang, mereka para pegawai tingi harus mawas diri, satu langkah saja mereka terpeleset maka nyawa lah taruhannya. belum lagi dengan amukan petir dan halilintar yang kapan saja siap mencelakakan mereka. Begitu juga resiko yang kami hadapi bila musim kemarau datang, tak kalah hebatnya dengan ancaman pada musim penghujan. Toh walaupun begitu mereka para pegawai tinggi dua kali dalam sehari menekuni profesinya, tanpa pernah absen.

Seringkali kami bertanya “Apakah kami sebagai anak-anak dari pasangan pegawi tinggi dapat lepas dari bayang-bayang profesi yang sejauh ini kami warisi dari para leluhur, atau kami harus pasrah pada takdir dan siap menerima estafet profesi dari mereka ? Profesi ini memang telah menghidupi kami selama turun temurun beberapa generasi, Sayang sekali bila tidak ada yang meneruskan. Akan tetapi tuntutan hidup yang semakin banyak dan komplek setidaknya membuat kami berpikir ulang untuk menerima profesi tersebut. Mungkin cukup kami wakilkan pada kakak ipar kami saja yang sudah terlanjur menerima warisan dari kedua orang tuanya.

Ya… setidaknya sudah ada satu dari anggota keluarga kami yang kini menekuni profesi turun temurun itu.  Kakak ipar kami yang tertua. Kakak tertua kami yang hanya bisa mengenyam satu tingkat pendidikan diatas ayah sekarang bersuamikan seseorang yang berprofesi sama  dengan ayah, yaitu sama-sama menjadi pegawai tinggi. Hal itu tidak terlepas dari kondisi ekonomi keluarga kami yang pada saat itu timbul tengelam dihantam badai moneter, sehingga impian untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi terganjal oleh adik-adiknya yang pada saat itu juga harus disekolahkan.

Kisah yang hampir sama terjadi pada adik perempuanku yang sekarang menerima suratan sebagai ibu rumah tangga pada usia yang termasuk muda. Ya…  dia menikah sebelum usianya genap dua puluh tahun. Padahal ia punya harapan besar  untuk meringankan beban ekonomi keluarga. Ia yang selalu mendapatkan rangking satu disekolah dan mendapatkan beasiswa sampai SLTA harus memupus keinginan untuk masuk bangku perguruan tinggi. Lagi-lagi rupiahlah salah satu penyebabnya. Setelah kesana kemari mencari beasiswa dan ternyata kandas akhirnya datanglah pinangan dari seorang guru SD swasta yang juga masih berstatus sebagai guru swasta. Dan orang tua kami tak pikir panjang menerima pinangan itu.

Awal bulan ini, Juli 2012,  kegetiran yang dialami oleh dua saudara perempuanku seakan mebayang dipelupuk mata. Adik laki-lakiku yang punya prestasi pernah dua kali membawa piala Tartil Qur’an tingkat propinsi dan  baru saja tamat dari SLTP dengan menggondol prestasi terbaik disekolahnya serta  ingin melanjutkan pada sekolah yang berkwalitas harus sabar menunggu peruntungan baik untuk dirinya. Hampir semua sekolah yang menjadi incarannya mematok uang pangkal tidak kurang dari lima juta. Mungkin, mengeluarkan  uang lima juta tidak lah berat bagi orang yang beruang. Bagi kami juga tidak berat, asalkan sudah tersedia dikantong dan tinggal memberikannya. Masalahnya, ia belum mau ngandang di kantong celana. Dan Alhamdulillah setelah usaha kesana-kemari  akhirnya uang sebesar itu terkumpul dan untuk sementara impian adiku seakan menjadi terang.

Sementara aku sendiri sedang memilih takdirku di Negri Seribu menara setelah memenangkan lotere milik Alloh.


*Istilah kami untuk menyebut penderes (orang yang berprofesi sebagai pengambil air  nira dan dijadikan gula merah)

Diposkan di kompasiana dengan judul yang sama tertanggal 8 July 2012.
 http://sosbud.kompasiana.com/2012/07/08/pegawai-tinggi-tak-mampu-sekolahkan-anak-anaknya/

Senin, 17 Oktober 2011

Gus Emen


Dewasa ini gelar Gus menempati posisi gelar kedua ter-ngetrend dalam ranah publik setelah gelar Kyai Haji. Nama-nama Gus yang berseliweran dalam media diantaranya adalah gus dur, gus mus, gus ipul, gus miek, gus sholah dan gus-gus yang lain. Tidak tau pasti dari mana istilah itu muncul, yang pasti gus adalah sebutan penghormatan kepada putra kyai.

Nama gus mungkin diambil dari bahasa arab yaitu Al Ghauts, nama bagi pemimpin para wali - sebagaimana dipaparkan oleh Ibnu ‘Araby dalam Futuhat al Makkiyah -dan kemudian menjadi istilah tersendiri dalam masyarakat Jawa pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Istilah gus ini pada awalnya diperuntukan bagi putra kyai pemangku pondok pesantren sebagai bentuk penghormatan, akan tetapi dewasa ini istilah itu seakan tereduksi, sampai-sampai ada orang yang hanya punya kemampuan pas-pasan dalam bidang perdukunan atau menyadarkan orang yang pingsan (baca;kesurupan) dipanggil dengan nama gus, anak kyai langgar cilik juga dipanggil dengan Gus Lc, anak guru ngaji alif, ba, ta yang kebetulan lama belajar di pesantren juga dipanggil dengan sebutan gus. Juga pada penamaan-penamaan lain yang menyimpang dari wadh’inya. Wal hasil istilah yang dulunya disematkan untuk penghormatan sekarang telah beralih fungsi menjadi bahan olok-olokan atau sebagai sebutan bagi orang yang berprofesi dalam bidang tertentu.

Gus yang akan kita sebut disini adalah gus asli, bukan gus iringan atau gus-gusan. Dia merupakan putra ragil dari salah satu ulama terkenal Banyumas yang wafat pada tahun 1987. Sebut saja namanya gus Emen (e diucapkan seperti pada kata sendok), panggilan akrab untuk beliau dikalangan kerabat, sahabat dan para santri abahnya.

Abah dari gus Emen yang bernama Kyai Muhammad mempunyai undang-undang tidak tertulis yang bersifat wajib, mengikat dan tidak dapat dilanggar sama sekali, satu peraturan yang pada zamannya secara umum diberlakukan oleh para Kyai kepada setiap putra dan putrinya dengan tujuan agar dapat meneruskan perjuangannya, peraturan tersebut adalah harus mondok*. Dalam tanda petik, untuk dapat dinobatkan sebagai salah seorang gus yang sebenar-benarnya, maka putra kyai harus mondok terlebih dahulu. Dan untuk menggugurkan kewajiban tadi serta mengukuhkan diri sebagai gus sejati maka dirinya berangkat mondok ke salah satu pondok yang masyhur pada waktu itu, yaitu pondok pesantren yang diasuh oleh Kyai Sanusi di daerah Langen, Jawa Barat.

“Namanya juga  mondok  untuk menghilangkan taklif, maka tidak perlu berlama-lama, cukuplah satu dua hari saja”. Kelakar gus Emen kepada saudara-saudaranya. Memang benar, ia hanya menghabiskan tujuh malam di pesantren Langen, hal itu tak lain dan tak bukan hanya  untuk melegalkan gelar gus yang sudah tersemat pada dirinya sejak lahir dan menghilangkan ora ilok sebagai putra kyai. “Bah, saya telah mondok, maka saya telah sah menjadi putra abah” Kyai Muhammad tersenyum simpul, beringsut meninggalkan putra ragilnya sembari berkata “Oalahhh…..”.

Dalam pencarian ilmunya yang hanya seumur mayflies ia telah menghatamkan surat Al Fatihah dan muqodimah Al Barzanji, maka pasti dapat dibayangkan seberapa dalam keilmuan gus Emen.   Akan tetapi dalam komunitas santri abahnya beliau malah dianggap mempunyai kemampuan yang lebih dibanding putra-putra abah Muhammad yang lain dan dicap sebagai putra abah Muhammad yang paling keramat. Anggapan ini berlangsung cukup lama, hingga pada suatu saat ada santri yang ingin mengaji kepadanya. Gus Emen berkata: “Kalau mau ngaji, jangan kepada saya. Sama kang mas saya saja..” . Dalam hati ia berujar:  “ Salah satu alasan mengapa dulu saya tidak mondok lama adalah agar saya tidak memiliki kemampuan setara dengan kang mas kang masku, dari sini saya bisa berkilah tidak mengajar dan santripun tidak bingung-bingung menentukan pilihan dalam mengaji.  Kang mas saya itu banyak, ada 6 orang, itu sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan ngaji kalian, makanya saya berinisiatif ambil bagian pada pos yang lain saja”. Naïf memang…

Pos yang  ingin beliau tempati adalah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat. Langkah awal untuk dapat menyatu dengan lingkungan sekitar adalah dengan cara menyunting gadis dari keluarga biasa. Pikirnya, dengan begitu ia akan dapat bergaul luas dengan masyarakat sekitar, tanpa sekat tanpa batas. Salah satu hal yang membuat dirinya tidak dapat bergaul lepas dengan masyarakat adalah karena ia merasa dirinya sebagai gus dan punya derajat sedikit lebih tinggi dari komunitas masyarakat dimana ia tinggal. Wal hasil ia memilih pasangan dari keluarga sederhana agar dapat mengenal seluk beluk masyarakatnya.

Tidak sulit bagi gus Emen untuk meminang gadis manapun di desanya. Dengan modal ke-gus-annya beliau berhasil meminang gadis ayu plus sholihah, santri dari abahnya sendiri. Pernikahanpun digelar dengan meriah. Dan patut dicatat dengan tinta emas bahwa beliau menikah dalam usia belia dan melangkahi 3 kang masnya.

Memang benar adanya, sifat gengsi yang dulu mengekang dirinya sewaktu bujangan kini luntur tak berbekas. Ia kini pandai bergaul dengan semua orang, bahkan Untuk menafkahi istri dan anaknya, beliau memilih bekerja sebagai supir angkutan umum. Sebuah profesi yang sangat biasa bahkan terkesan tidak terhormat dalam masyarakat, dan biasanya kami menyebut angkutan tersebut dengan nama  doyok** .

Sewaktu ditanya mengapa memilih profesi sebagai sopir angkot beliau menjawab: “Dari profesi ini saya selalu ingat pesan abah sewaktu beliau akan meninggal. Abah saya berkata bahwa ia tidak mewariskan banda dunya kepada putra-putranya, beliau hanya meninggalkan sebuah pesantren yang harus dipelihara dan dijaga. Beliau mengibaratkan pesantren dengan falsafah angkot, yaitu ada yang menyetir, ada yang merawat mesin, ada yang menjadi kondektur yang bertugas memasukan penumpang, mendorong jika macet atau menjadi tukang ganjal ban jika macet atau tidak kuat ditanjakan. Disamping itu dengan manjadi sopir angkot kita akan melihat dengan nyata kondisi sosial masayarakat dimana kita tinggal, bergaul dengan orang dari berbagai macam latar belakang dan banyak manfaat lain dari profesi ini. Dan yang paling penting kita telah berusaha menjadi suami yang bertanggung jawab.”

Memang, pilihan menggantungkan hidup sebagai sopir angkot terlihat cukup aneh bagi keluarga dan masyarakat dimana ia tinggal, akan tetapi ia cuek bebek, ia menikmati profesi barunya dan untuk sementara waktu menanggalkan gelar yang selama ini ia sandang. Terus, dibagian mana ia melaksanakan wasiat abahnya?

Sesuai dengan falsafah angkot yang telah disebutkan diatas, ia memilih sebagai kenek yang bertugas memasukan penumpang kedalam angkot. Disela-sela obrolan ngalor-ngidulnya dengan sesama sopir, tukang ojek, kuli pasar dan para pedagang serta masyarakat bawah lainnya ia menyisipkan tentang pentingnya mencapai kebahagiaan setelah kehidupan di dunia ini. Ia selalu memberi iming-iming kehidupan yang lebih baik setelah kehidupan dunia ini. “Bukankah kalian tidak ingin sengsara untuk kedua kali? Sengsara di dunia sebagai orang yang kekurangan secara materi  dan sengsara di akhirat kelak?”  Dan yang patut diacungi jempol adalah cara gus Emen memberikan pencerahan tidak dengan cara berapi-api sperti macan panggung, tidak pula terkesan menggurui, akan tetapi dengan cara humor dan kelihatan tidak serius tapi tetap berbobot.

Beberapa tahun setelah ia menjadi kenek, akhirnya pesantren peninggalan abah Muhammad kembali penuh sesak dengan santri yang kebanyakan berasal dari anak-anak kenalannya. Begitu juga dengan pengajian rutinan bulanan dan mingguan. Ia mencukupkan diri sebagai kenek, sementara untuk bagian sopir ia serahkan kepada kang masnya begitu juga dengan masalah pendanaan, karena salah satu dari kang masnya ada yang menjadi jutawan.



Terinspirasi oleh kisah nyata


@@@@@@


*Mondok adalah kata yang digunakan orang jawa untuk mengistilahkan menuntut ilmu agama, dikatakan mondok karena biasanya si pelajar yang lazim disebut santri bertempat di pondokan.

**Doyok adalah jenis angkutan umum era 80-an dan awal 90-an, kendaraan ini berbahan bakar solar dengan bentuk seperti kendaraan yang sekarang umum digunakan sebagai travel. Angkotan ini punah setelah adanya mikro bus, yaitu sekitar tahun 95-an. Disebut doyok karena tidak dapat lajunya lambat dan sering macet (ringkih seperti badan doyok). Daerah trayeknya adalah lewas2-longok-barang-ayu. Karang Lews, Cilongok, Ajibarang, Bumiayu

*** Emen merupakan nama asli dari salah satu gus di daerah tempat saya tinggal. Diambil dari huruf depan namanya, seperti esbeye (SBY)



Minggu, 14 November 2010

Bala Kurawa Di Pesantren -Alfiyah Angkatan 2004/2005-

Jika dia berangkat, hampir dapat dipastikan ustadz pemegang materi tidak dapat hadir, walhasil terjadi kekosongan dalam pelajaran. Hal ini terjadi berulang kali sehingga dia mendapatkan julukan si 'Illat. Dikarenakan pelajaran yang sering kosong itu adalah Warokot yang didalamnya mengupas ushul fiqh maka muncul plesetan Idza Wujida Petring Wujida Al 'Uthlah, sebagai ganti dari Idza Wujida Al 'Illat Wujida Al Hukmu. Mengapa dia dinamakan Petring (dengan pengucapan e seperti mengucapkan ee;buang air besar)? tidak ada yang tau tentang asal muasalnya, yang jelas dia berambut keriting seperti mie instan dan kadang juga ada yang menyebutnya dengan rambut kribo. Walaupun dicap sebagai 'illat, dia mencatatkan diri sebagai penghuni pesantren paling lawas alias ngoyod. Dia masuk pesantren pada pertengahan tahun 99 dan sampai sekarang masih betah disana.

Lain lagi dengan julukan temanku yang belakangan menjadi ponggawa tak tergantikan di pesantren. Dia punya keistimewaan dapat tidur dalam posisi duduk dengan bagian muka menyentuh lantai karena tubuhnya sangat elastis. Oleh karenanya ia punya gelar si plengkung. Karir politiknya dimulai dengan jabatan tukang setor uang listrik dan dipungkasi sebagai penentu kebijakan alias dewan penasehat. Hal yang tidak dapat dihapus dalam biografi hidupnya adalah tuduhan Kudeta pada tahun 2007. Tahun ini Insya Alloh akan meneruskan pengembaraannya di negri seribu menara.

Dia punya laqob Solomon, plesetan dari nama asli Sulaiman. Aktifitasnya adalah sebagai tukang reparasi segala macam hal yang berhubungan dengan setrum. Apabila sedang tidak ada gawean maka ia akan berusaha mencari celah agar dapat job, misalnya dengan membuat listrik Anjlog atau dengan mencabut salah satu kabel dari airphone biar disuruh mbenerin. Makanya ia lebih terkenal dengan nama tukang taspen. Dia mencatatkan diri sebagai anggota yang paling sebentar mengukir sejarah, 2003-2005. Sekarrang berprofesi sebagai ustadz di salah satu pesantren di Lampung.

Uponk adalah panggilan kerennya. Dia Pemain soled kelas wahid. Apapun yang dia masak pasti terasa nikmat dan super Yahud. Untuk menghargai ketrampilannya maka kami sepakat memberikan gelar "Ninine" kepadanya. Karirnya dimulai dengan menjadi Ulu-ulu selama dua tahun, kemudian menjadi tukang nglayab dan terakhir menjadi wakil suhu. Dia pamit pada akhir tahun 2007. Sekarang memperdalam kejadogan dan berusaha memperbanyak koleksi pethuknya di pesantren Kwagean.

Perawakannya pendek dan kecil, tapi jangan ditanya berapa gebetannya, mungkin dia punya aji pengasihan, makanya setiap ada cewek yang ngelirik pasti klejet-klejet dan langsung kecanthol. Mungkin dalam pandangan cewek-cewek yang melihatnya dia nampak sbagai Arjuna. Dia punya gelar sang penebar pesona dan punya nama gaul Frozzz. Berkarir pertama kali sebagai tukang setor listrik dan dipungkasi sebagai kepala rumah tangga istana. Sebagaimana si plengkung dia juga terseret dalam kasus perang dingin. Sekarang dia merintis karir sebagai tukang adol abab dan ngorek di pesantren milik pamannya.

Tak ada yang berani berkelakar dengannya. Disamping berpenampilan kalem, katanya dia juga masih mempunyai beberapa tetes darah sayid. Oleh sebab itu, Karirnya menanjak dengan cepat. Belum lagi dua tahun dia berada di Pesantren dia menjadi ajudan sang kyai muda, setelah itu karir politiknya naik dengan cepat. Dia diberi jabatan sebagai carik dan setahun kemudian naik menjadi wakil suhu. Setelah menduduki jabatan wakil suhu, dia melepaskan jabatanya karena mendapat proyek sebagai kontraktor sekaligus sebagai kepala rumah tangga istana. Sekarang dia sudah berkeluarga dan berprofesi sebagai bos celluler sekaligus melanjutkan jenjang pendidikannya di sekolah tinggi ilmu al qur'an di Wonosobo.

Aming adalah nama yang ia pilih sebelum mencapai kedudukan sebagai suhu. Setelah dia menjadi suhu namanya dirubah menjadi Miko. Ia adalah potret dari santri pebisnis. Bidang yang ingin ia geluti adalah UKM, terlebih di daerahnya banyak sekali kekayaan alam yang belum terjamah, diantaranya adalah yutuk, makanya setelah ia mempersunting gadis India pujaannya dia memilih menjadi pebisnis dengan tidak lupa mengabdikan ilmu yang ia miliki pada sebuah majlis taklim yang tidak jauh dari rumahnya. Karir politiknya dimulai sebagai tukang pethel, kemudian meningkat menjadi tukang jagal dan terakhir sebagai suhu. Kini ia hidup bahagia dengan keluarganya.

Kengerian akan sistem pengajian yang diterapkan oleh kyai muda menjadikannya hanya puas dengan predikat tamat alfiyah. Setelah itu ia memilih hengkang dari pesantren dan menekuni bisnis kecil-kecilan. Prestasi yang ia torehkan adalah meraih award dalam pemilihan pengurus teladan tahun 2004-2005 dengan kategori Ulu-ulu tergiat. Tapi sumbangsihnya terhadap pesantren tidak berhenti disitu. Dengan kecakapan pendekatan terhadap masyarakat di sekelilingnya dia mampu mendistribusikan ratusan eksemplar kalender yang dibuat tiap tahun oleh pesantren tanpa meminta imbalan sepeserpun, malah kadang dia yang tekor. Dan setiap ada undangan dari pondok atau ndalem maka ialah pos utama yang dituju untuk menyebarkannya. Ia sekarang sudah berkeluarga dan menghidupi diri dari hasil bisnis yang dikelolanya.

Dia pernah menyebarkan kebohongan besar di pondok, dan kamipun percaya begitu saja. Mengapa kami percaya... karena dia sanggup meyakinkan kami dengan hujah2nya dan biasanya dia tidak bohong. Eh... ternyata berita yang ia sebarkan salah. Sejak saat itu kami menyebutnya Tukang nglombo. Sama dengan peraih award di atas dia juga hanya puas dengan predikat tamat alfiyah. Dia memilih menjadi pebisnis dalam bidang Celluler dan masih ngejomblo.

Ibnu Hajar adalah julukan yang ia sandang. Otaknya yang pas-pasan tidak menyurutkan semangatnya dalam belajar. Setiap kali dia pulang dari kelas maka yang ia pegang adalah kitab yang tadi dibahas, sampai-sampai halamannya seperti rempeyek remuk. Disamping giat dalam belajar, ia juga punya keistimewaan yang lain, Yaitu dapat belajar di alam mimpi, yakni jika ustadz datang maka ia akan langsung tertidur pulas dan bangun jika sang ustadz menutup pelajaran. Dalam percaturan politik dia pernah menjabat sebagai tukang setor listrik dengan didahului sebagai mentri kesehatan selama tiga tahun. Pada tahun 2009 ia meminang salah satu ning daerah Kesugihan dan sekarang hidup berbahagia di rumah mungilnya.

Dan terahir adalah Uwane, begitulah warga pondok memanggillnya. Dia sendiri tidak tau mengapa kala itu ia diberi julukan Uwane. Katanya, kalau mau tanya sabab musababnya tanya saja kepada Gus Mansur -salah satu da'i kondang asal Purbalingga yang sekarang tinggal menungu terbang ke pelataran suci Al Azhar- karena dialah yang pertama kali memasyhurkannya. Karirnya dimulai dengan menjadi tukang klayaban selama dua tahun dan diakhiri sebagai tukang wira-wiri di salah satu ndalem. Dia juga sempat menghirup udara perang dingin. Pada akhir tahun 2008 ia memutuskan untuk pamit dan sekarang berpetualang di bumi Cleopatra.




Saat aku merindukan teman-teman seketel sepenaggungan di PPTI tercinta.
Kelas Alfiyah Tsani tahun 2004-2005.

Diposkan juga di sini

Jumat, 22 Oktober 2010

Pengrajin Gula Kelapa Siapa Peduli Nasib Mereka

Tulisan Ini merupakan obrolan antara saya dan salah seorang teman di Leiden Belanda ketika saya memposting gambar rutinitas penderes (pengrajin gula kelapa) sekitar sebulan yang lalu di jejaring Facebook. Kegiatan yang merupakan mata pencaharian utama di daerah kami ini (Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah) sekarang sudah jarang dilakukan. Mereka lebih memilih menjadi buruh di kota-kota besar ketimbang harus melakoni profesi yang sudah turun temurun dilakukan oleh nenek moyang mereka. Hal ini terpaksa mereka lakukan karena profesi sebagai penderes tidak lagi dapat dijadikan sandaran hidup. Ya.. walaupun ada juga yang masih tetap bertahan. 

pongkor dan sabit merupakan alat utama dalam pengambilan nira
pongkor dan sabit merupakan alat utama dalam pengambilan nira
Teman: 

Kang, profesi ini sudah mulai banyak ditinggalkan masyarakat Cilongok. mereka lebih banyak memilih untuk pergi ke kota2 besar dan menjadi buruh2 bangunan, buruh pabrik dan tenaga rumah tangga. Salah satu dampak negatif industrialisasi dan juga ketidakbecusan pemerintah memperhatikan nasib ekonomi pelaku sektor ini. Prihatin

Saya:
 Bener banget,, tapi memang mereka tidak bisa disalahkan seratus persen, karena dengan menjadi penderes kebutuhan primer mereka sulit terpenuhi. Apalagi dengan biaya pendidikan, kesehatan, dan tetek bengek yang semakin hari semakin membubung. Prihatin,,,

Teman:
Mereka memang tidak salah, yang salah itu pihak yang punya wewenang mengatur harga gula (yang menjadi sandaran hidup para penderes) dan menjaga stabilitasnya. Maksudnya harga gula harus rasional untuk bisa mencukupi (atau paling tidak secara signifikan bisa menambah pendapatan bagi yang profesi utamanya adalah petani sawah) kebutuhan dasar yang juga ditentukan oleh pemerintah seperti harga sembako, biaya pendidikan, kesehatan dll. Maksudnya pemerintah daerahpun sebenarnya mampu memperbaiki nasib mereka, karena aku pernah baca di sebuah hasil riset bahwa Cilongok adalah produsen gula jawa yang cukup besar lho….

pengambilan nira dilakukan secara rutin dua kali dalam sehari
pengambilan nira dilakukan secara rutin dua kali dalam sehari

Saya:
Sejauh ini, usaha pemerintah dalam menaikkan taraf hidup para penderes baru sebatas wacana. Janji-janji yang dilontarkan juga sebatas janji. Harga gula masih di pegang para cukong. Pendirian koperasi dalam rangka menyetabilkan harga dan memperbaiki taraf hidup mereka ternyata tidak berhasil, karena harga penjualan ke cukong lebih tinggi dibandingkan dengan menjualnya ke koperasi, walau dengan resiko pada saat-saat tertentu harga bisa turun drastis.

Sekitar setahun yang lalu ada usulan untuk pemberian santunan bagi penderes yang mengalami kecelakaan diwaktu menderes, baik yang luka ringan, luka berat, cacat seumur hidup atau meninggal, dan alhamdulillah dapat di setujui. Akan tetapi yang jadi pertanyaan: “Apakah itu dapat berlangsung seterusnya?”.

Cilongok merupakan produsen gula jawa yang cukup besar, akan tetapi gula jawa dari Cilongok tidak dapat menembus pasar nasional, paling banter antar daerah dalam satu propinsi, itupun dengan memberi label “gula Wangon”, karena gula Cilongok sudah terlanjur punya citra jelek. Hal itu sebenarnya kesalahan oknum produsen yang biasanya memasukan ampas, munthul dsb pada waktu pengolahan ketika harga gula sedang tinggi. Akhirnya gula Cilongok hanya mampu didistribusikan ke pabrik2 kecap.

Teman:
Iya.. aku lihat sendiri di desaku bagaimana cukong-cukong lokal itu bisa mempermainkan harga dengan enaknya. Adakah semacam LSM atau pendamping petani gula di Cilongok? NU juga seharusnya ikut berperan memperjuangkan nasib mereka karena sepertinya sebagian besar dari mereka kan warga Nahdliyyin juga. kalau penderes tidak didampingi dan mereka berjuang sendiri sepertinya tidak akan ada perubahan berarti.
wah ngeri juga kalo membayangkan masa depan Cilongok, wit2 klapa ditegori didol nggo gawe penglari, otomatis ora bisa nderes maning, akhire mending pada ngode dadi buruh lan kuli neng Jakarta. Pirang taun maning wit klapa arep langka. padahal sekolah lan cita-cita dadi pegawai pun mahal dan susah.

proses ahir pembuatan gula kelapa, yaitu dengan mencetaknya dalam tabung bambu.
proses ahir pembuatan gula kelapa, yaitu dengan mencetaknya dalam tabung bambu.

Saya:
Masalah ini kayaknya sebuah masalah yang kelihatannya sudah tidak dipermasalahkan lagi, ibarate wis ndadrah. Sudah terlanjur mendarah daging dan ahirnya oleh lembaga2 yang seharusnya menangani belum atau tidak mau menangani (semoga hal ini hanya persangkaanku saja).

NU? bukan seharusnya lg bg NU, tapi …FARIDOH bagi NU untuk berperan serta memperjuangkan nasib mereka, karena sebagian besar dari mereka memang warga NU dan NU yang notabenenya lembaga sosial kemasyarakatan bertanggung jawab atas semboyan Kaada al faqru an yakuna kufron, tapi lagi2 belum pernah kita dengar dan rasakan sumabangsih darinya. Selama ini mereka diakui sebagai warga NU sebatas dalam perekrutan suara dalam pilpres, pileg, pilgub, pilbup dan pil-pil lain, setelah itu habis manis sepah dibuang. Mereka selalu dan selalu Di bodohi oleh yang terhormat para calon anggota dewan dan calon pejabat. Tragisssssss!!!!! eh,, dadi ngrasani,, kayane angger kon ngrasani sedina urung rampung, he..he..he..


Dan Faridoh nya dobel bagi anggota legislative yang selalu menebarkan janji-janji manis kepada para penderes, janji ini dan itu. Sayangnya setelah meraup suara besar dari para penderes, mereka juga seakan terbuai dengan kursi empuknya.

pokoke wallohu a’lam…….
entah bagiamana nasib mereka, nasib kita juga, orang-orang yang menyandarkan hidup dari gula kelapa

Proses Awal pembuatan kelapa. Nira dimasukan dalam Wajan besar dan diberi pengapian selam7-8 jam.
Proses Awal pembuatan gula kelapa. Nira dimasukan dalam Wajan besar dan diberi pengapian selam7-8 jam.

Purwokerto, Markas Besar TNI Pertama

Hari ini tanggal 5 Oktober merupakan hari lahirnya Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau yang akrab ditelinga kita dengan ABRI dan sekarang dikenal dengan Tentara Nasional Indonesia.(TNI) Berkaitan dengan peringatan tersebut, saya ingin merefresh kembali memory tentang berdirinya angkatan bersenjata kita atau lebih tepatnya cikal bakal berdirinya dan tokoh-tokoh yang berperan dalam pendiriannya.

Google
sumber:Google

Alkisah pada tanggal 4 Oktober 1945, Mr. Amir Syarifudin sowan kepada wakil Presiden RI waktu itu yaitu bung Hatta di kediamannya jalan Showa Dori 57 ( Jalan Diponegoro 57) dengan membawa serta Didi Karsasasmita dengan tujuan memperkenalkan dirinya. Didi Karsasasmita merupakan opsir K.N.I.L. yang ditunjuk oleh teman-temanya untuk menyatakan penyerahan dirinya dan teman-temannya kepada Negara Indonesia.

Setelah terjadi pembicaraan antara ketiga orang tersebut, disepakati bahwa Didi Kartasasmita dan kawan-kawannnya diterima dengan senang hati oleh Bung Hatta untuk bergabung dengan Negara Indonesia dan langsung diterima menjadi anggota TKR. Oleh karena mereka sudah terikat dengan sumpahnya pada K.N.I.L , Bung Hatta menanyakan perihal sumpahnya tersebut, dan dijawab oleh Didi bahwa sumpah yang sudah terlanjur mereka ucapkan sewaktu menjadi anggota K.N.I.L akan mereka tanggung sendiri dan malahan apabila anggota K.N.I.L yang lain akan digunakan untuk alat menjajah Indonesia lagi mereka siap meladeni dimanapun dan kapanpun. Dan pada waktu itu juga Didi Kartasasmita meminta kepada Bung Hatta dapat menerima orang yang paling senior di K.N.I.L yaitu Mayor Urip sebagai bagian dari TKR. Tanpa pikir panjang Bung Hatta pun menerimanya dan meminta Mayor Urip untuk meneminya esok pagi di Pegangsaan Timur No. 56.

Esok paginya jam 08.30 Bung Hatta sudah berada di Pegangsaan Timur No. 56 untuk mengadakan pembicaraan dengan Mayor Urip. Tepat jam 10.00 Mayor Urip datang dengan disertai Gunadi, salah satu ajudan Presiden Soekarno.

Pembicaraan diawali dengan permintaan maaf Bung Hatta kepada Mayor Urip karena Presiden Soekarno tidak dapat menemuinya disebabkan sedang berada di Cianjur untuk menyelesaikan satu masalah. Beliau berangkat tadi pagi jam 08.00. dan memberi mandat kepada saya untuk mengambil tindakan yang dirasa perlu. Hal ini merupakan konsekwensi dari Dwi Tunggal yang memang sudah kami sepakati bersama. Kata Bung Hatta selanjutnya.
Mayor Urip mengatakan kepada Bung Hatta bahwa bekas opsir Indonesia di KNIL sudah sepakat untuk menyerahkan tenaga mereka kepada TKR. Gayung pun bersambut. Bung Hatta mengatakan bahwa bangsa Indonesia juga sedang membentuk TKR yang rencananya akan diambilkan dari tentara PETA. Klop sudah. Ahirnya terbentuklah TKR.

Mengingat TKR belum memiliki markas besar, maka masing-masing kesatuan diminta untuk mempertahankan satu wilayah Karisidenan, sembari menunggu keputusan penyusunan markas besar yang sesegera mungkin akan dilaksanakan. Pada waktu itu Bung Hatta secara langsung meminta kepada mayor Urip untuk menjadi kepala staf TKR dan memintanya untuk menentukan markas besar bagi TKR yang baru lahir. Mayor Urip bersedia memikul tanggung jawab yang dipanggulkan kepada beliau dan memutuskan PURWOKERTO sebagai markas besar TKR setelah Bung Hatta memintanya menentukan daerah mana yang pantas dijadikan markas besar dengan alasan kota ini berada di tengah-tengah kepulauan Indonesia. Selain itu juga Bung Hatta memberikan kuasa penuh kepada Mayor Urip untuk mengangkat opsir-opsir pembantunya dengan sarat mereka setidak-tidaknya adalah mantan opsir PETA dan KNIL.
Markas besar TKR hanya bertahan kira-kira seminggu di Purwokerto dan setelah itu dipindahkan ke Jogjakarta. Hal ini menimbang luas wilayah Purwokerto yang hanya kira-kira 100 KM persegi dan dianggap kurang baik bagi perkembangan TKR selanjutnya.
Begitulah sekelumit tentang sejarah pembentukan angkatan bersenjata kita. Semoga bermanfaat.

Disarikan dari buku MUHAMMAD HATTA memoir

Plesir Ke Curug Cipendok

Benar-benar eksotis!!!!!! Anda tidak dapat menggambarkan keindahan alam dan kesegaran udaranya kalau tidak mengalaminya sendiri.
Curug Cipendok merupakan obyek wisata yang menjadi langganan piknik saya dan teman-teman dari kampung bila lebaran tiba. Setidaknya sudah Sembilan kali saya menikmati pemandangan alam ini. Pun tidak membuat saya dan teman-teman bosan.

Perjalanan

Biasanya kami jalan kaki berombongan. Start dari rumah jam 06.00 pagi sampai disana sekitar jam10.00 kurang lebih empat jam-an kami melakukan perjalanan. Lama? Gak juga.. karena dalam perjalanan pasti deselingi dengan humor-humor segar, apalagi yang sudah punya gandengan, pokoknya tak terasa lama. Dan terlebih lagi suasana segar dan pemandangan alami tak henti-hentinya menemani kami sepanjang perjalanan.

Rute yang biasa kami lalui adalah dari rumah kami (Desa Pageraji) ke arah utara melewati desa langgong Sari grumbul Pliken, kemudian melintasi desa Rancamaya grumbul Kali Pancur, menyebrangi jembatan kali Prukut yang menjadi penghubung desa Rancamaya dan Gunung Lurah. Setelah melewati jembatan kami bisa memilih dua rute, yaitu ke arah barat menyusuri jalan aspal menuju desa Panembangan. Setelah melewati Mts Ma’arif 2 Cilongok kami akan menemukan tanjakan demi tanjakan yang mengantarkan ke desa Sambirata. Dari desa Sambirata terus saja menyusuri jalan desa hingga nanti sampai ke kawasan hutan pinus. Atau dengan melewati jalan setapak tak beraspal ke arah utara. Nanti kami akan melewati desa Gunung lurah dan desa Sambirata sebelah timur. Setelah agak lama menyusuri jalanan desa Sambirata ahirnya kami sampai pada hutan pinus. Di sinilah terjadi pertemuan dua arah, arah dari desa Panembangan dan dari arah kami. Disini pula kami akan bertemu dengan teman-teman dari desa lain, dan kalau ngepasi hari puncak liburan lebaran maka jumlah teman-teman yang ingin berekreasi ke Curug Cipendok bisa mendekati angka ribuan, tentunya mereka berombongan.

di sebalah sungai biasanya kami membeli tiket
di sebalah sungai biasanya kami membeli tiket

Perjalanan diteruskan melewati hutan pinus dengan sering kali melewati tanjakan-tanjakan curam. Sampai pada lebaran tahun 2000 jalanan ini masih berupa tanah, bahkan kalau sudah masuk kedalam hutan, jalan yang kami lalaui adalah jalan yang digunakan penyadap getah pinus, lebarnya tak lebih dari 50 cm dan dijejali daun-daun pohon pinus, samapi-sampai terasa empuk kalau dilewati. Jadi bagi yang belum pernah melewati bisa-bisa tersesat. Dan kami pun pernah mengalaminya pada tahun 1995. Di tengah-tengah hutan kami melewati sebuah areal pemakaman yang biasa kami sebut panembahan Cipendok, mungkin dialah yang dulunya menemukan curug Cipendok.

Setelah hampir satu jam didalam hutan, ahirnya kami sampai di loket sebelah timur. Dan pemandangan yang lebih menakjubkan siap menanti kami. Inilah Curug Cipendok yang kami tuju.

Pintu Masuk bagi pengendara kendaraan bermotor. terletak sekitar 1 KM arah barat
Pintu Masuk bagi pengendara kendaraan bermotor. terletak sekitar 1 KM arah barat
 
Sejarah Ringkas Curug Cipendok

Keberadaan Curug Cipendok tidak dapat dilepasakan begitu saja dari sejarah peperangan Pangeran Diponegoro. Alkisah, setelah peperangan Diponegoro berahir dengan kekalahan berada pada pihak Pangeran maka seluruh kekuasaan Kerajaan Mataram beralih tangan ke kompeni Belanda, tidak terkecuali dengan daerah dulangmas (Karisedenan Kedu, Magelang dan Banyumas). Maka dengan dalih untuk membuka lahan baru, pemerintah Belanda memerintahkan wedana Ajibarang (daerah kekuasannya meliputi Kec. Cilongok, Kec. Ajibarang, Kec. Pekuncen dan Kec. Wangon) yang bernama Raden Ranusentika untuk membabat hutan yang berada di daerah Cilongok, tepatnya di desa Karang Tengah.

Pengerjaan pembabatan hutan tidak berlangsung mulus, karena setiap kali para pekerja menebangi pepohonan, esok harinya pohon-pohon itu sudah berdiri lagi dengan kokoh,Seperti tidak pernah tarjadi apa-apa sebelumnya. Hal ini membuat sang wedana gundah dan berihtiar meminta petunjuk yang maha kuasa. Sang Wedana memutuskan untuk bertapa dengan harapan mendapat petunjuk, akan tetapi setelah sekian lama bertapa, sang Wedana belum juga mendapatkan wangsit. Ahirnya dengan memendam kekecewaan ia memutuskan untuk memancing dikawasan kedung yang berada dibawah air terjun (curug).

Disaat itulah kail sang wedana bergerak-gerak hebat, seakan ada ikan raksasa yang menariknya. Tanpa pikir panjang kail itu ditariknya. Dan ternyata… bukan ikan yang didapat, melainkan sebuah Pendok ( cincin warangka keris ) berwarna kuning keemasan. Dari pendok tadi, beliau melihat ribuan mahluk halus yang ternyata selama ini menghambat pengerjaan pembabatan hutan. Dan atas usul kepala pekerja yang bernama Breden Santa, air terjun (curug) ini dinamakan Curug Cipendok.

Curug Cipendok Sebagai Obyek Wisata

salah satu upaya peningkatan pelayanan. gapura menuju telaga pucung dan Mushola
salah satu upaya peningkatan pelayanan. gapura menuju telaga pucung dan Mushola

Keindahan alam Curug Cipendok baru dilirik pemerintah kabupaten Banyumas pada tahun 1984 dan pembukaannya secara resmi sebagai obyek wisata baru dilaksanakan pada tanggal 27 Februari 1987 setelah membangun sarana ala kadarnya, seperti tempat peristirahan dan mushola. Usaha-usaha peningkatan pelayanan juga kayaknya masih terus dilakukan. Hal ini terbukti dengan berbagai langkah yang diambil pemerintah dalam usaha mempromosikan lewat peta pariwisata Banyumas dan pengadaan sarana demi saran untuk dapat menunjang kenyamanan pengunjung. Seperti dapat kita lihat dari pembangunan tempat bermain anak, pementasan hiburan, perbaikan jalan, penambahan obyek wisata yaitu Telaga Pucung yang berada sekitar 500 M. arah barat dari lokasi Curug, dll.

Oh ya,, Telaga pucung ini pertama kali di temukan pada tahun 1997, ketika kami pertama kali melihatnya, telaga ini masih dipenuhi dengan semak-semak dan belum Nampak indah, akan tetapi setelah ditangani dengan serius telaga ini berubah menjadi sangat indah dengan dipenuhi sarana bermain bagi anak-anak. Kayaknya memang di seting husus buat tempat ngumpul keluarga. Telaga ni dibuka secara resmi pada tanggal 8 Agustus 2005.
Disamping Curug dan Telaga Pucung sebagai obyek utama rekreasi. Pihak pengelola sekarang sedang merintis pengadaan kebun binatang. Hal ini dilakukan setelah ada beberapa pihak yang menawarkan bantuan berupa hewan-hewan langka kepada pihak pengelola supaya dijaga dan dilestarikan. Dan bagi yang suka camping , tersedia juga bumi perkemahan dengan suasana lain dari pada yang lain.

jalan menuju telaga
jalan menuju telaga

Persiapan

Bagi teman-teman yang ingin mengunjungi Curug Cipendok dengan jalan kaki sebaiknya membawa makanan dan minuman sendiri karena medan yang ditempuh cukup lama dan sulit yang pastinya menguras tenaga. Ya.. walaupun di kiri kanan jalan menuju Curug sekarang banyak yang berjualan. Akan tetapi kalau bawa sendiri dari rumah akan terasa lebih mantap.
Sediakan juga jas hujan, payung dan apa saja yang dapat melindungi kamera, handphone, dan barang yang anti air. Karena pada radius 500 meter air sudah dapat membasahi kita. Hal ini karena ketinggian Curug yang mencapai 92 M. Terlebih bagi yang ingin mengitari bagian bawah Curug. Mengitari areal bawah Curug harus dengan ekstra hati-hati dan punya nyali, karena medannya sangat sulit dengan melewati batu-batu berlumut dan dibawahnya berupa kedung dengan kedalaman puluhan meter dan deburan air yang setiap saat nyiprat ke anggota tubuh kita, kepleset sedikit saja kita akan tergilas dalam deburan air dan tak mampu nongol ke atas. Bangga rasanya bisa mengitarinya. Jarang lo.. yang berani dan sanggup melakukannya.

adiku basah kuyup dan kedinginan, padahal berada jauh dari Curug
adiku basah kuyup dan kedinginan, padahal berada jauh dari Curug

Bagi pengguna kendaran bermotor, chek dulu kesehatan mesin dan lain-lainnya. Tanjakan-tanjakan dengan kemiringan 45 derajat siap menanti anda. Anda harus berhati-hati, karena disamping sangat curam juga dengan medan yang berkelok-kelok. Tepatnya setelah memasuki desa Sambirata sampai menuju lokasi.
Oh ya.. bagi yang belum tahu lokasi Curug Cipendok, gampang… anda bisa melihat plang-plang di jalanan sekitar Purwokerto pasti akan anda temukan kompas menuju kesana. Kalau dari arah Purwokerto anda menuju ke arah barat sekitar 15 KM, setelah melewati kota kecamatan Cilongok anda akan menemukan pertigaan Losari, anda berbelok ke arah utara dan terus saja mengikuti jalan tersebut, pasti nanti akan sampai. Kalau dari arah tegal, kurangi kecepatan kendaraan anda setelah memasuki kota Ajibarang. Sekitar 4 km lagi anda akan melewati pertigaan Losari. Dan bagi yang tidak punya kendaraan pribadi bisa menggunakan jasa angkutan umum yang biasanya ngetem di pertigaan Losari.

Peta perjalanan Wisata kab. Banyumas. Curug Cipendok ditandai nmr 4.
Peta perjalanan Wisata kab. Banyumas. Curug Cipendok ditandai nmr 4.

Selamat menikmati keindahan alam Curug Cipendok.
Pengalaman Pribadi.

Sumber gambar: Google dan koleksi pribadi

Selasa, 14 September 2010

At Taujieh Al Islamy, Bagaimana Masa Depanmu?

At Taujieh Al Islamy atau bagi santri era sebelum tahun 90 an menyebutnya dengan Syamsul Huda adalah pondok pesantren yang kwalitasnya tidak diragukan lagi. Ketenaran pondok ini sudah sampai ke negri sebrang sejak awal mula berdirinya, yaitu ketika masih bernama Tarbiyatun Nahwiyah, sebagaimana diceritakan oleh Al Maghfurlah KH. Hasyim Suyuthi Zuhdy, adik dari KH. Hisyam Zuhdy.

Walaupun pernah mengalami masa fatroh sepeninggal beliau KH. Zuhdy, namun berkat keuletan dan kegigihan kyai Hisyam yang waktu itu masih berumur 20 an ahirnya pesantren Leler (sebutan lain untuk pesantren At Taujieh) dapat berkibar kembali bahkan mengalami periode emas. Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah santri hingga mencapai angka ribuan. dan tidak berhenti sampai di situ saja, akan tetapi dari jumlah santri tadi, tak terhitung berapa banyak kader-kader unggul penerus perjuangan islam terlahir dari beliau. Tak salah jika gelar syaikhu masyayikh Banyumas layak tersemat pada beliau.

Sepeninggal mbah Hisyam, pondok pesantren Leler di asuh oleh ketiga putra beliau yaitu KH. 'Athourrohman, KH. Dzakiyul Fuad dan KH. Zuhrul Anam serta dibantu oleh dua menantu beliau yaitu KH. Sya'bani Mukry dan KH. Nashuha Kurdy. Sewaktu penulis pertama kali menginjakan kaki di Leler, yaitu awal tahun 2000, pesantren ini masih tercatat memiliki santri sekitar 500an dan di penghujung tahun 2008 menjadi 300, yaitu 200 santri putra dan 100 santri putri. Penurunan jumlah santri yang terbilang cukup banyak tidak dipengaruhi oleh factor pengasuh akan tetapi murni karena minat masyaakat yang secara umum sangat menurun terhadap pesantren, terutama terhadap pesantren salaf. Hal ini juga dialami oleh pesantren-pesantren besar lain, misalnya pesantren Sarang, Lirboyo, Ploso dan pesantren-pesantren besar yang lain. Mengapa saya berani berkata seperti itu? Karena melihat kwalitas ketiga pengasuh utama yang semuanya alumni timur tengah dan dibantu oleh dua menantu yang mumpuni serta ustadz-ustadz pesantren yang cakap, pesantren Leler sama sekali tidak kekurangan tenaga pengajar. Keadaan ini berlangsung sampai penghujung tahun 2006, sebab salah satu menantu KH. Hisyam, yaitu KH. Sya'bani wafat dalam usia relative muda yaitu 53 tahun. Akan tetapi beliau telah mempersiapkan kader penerus yaitu putra kedua beliau yang bernama Lubabul Mubahitsin atau terkenal dengan sebutan Gus Lubab. Walaupun masih sangat muda, gus kita yang satu ini dapat meneruskan pengajian slasaan yang diwarisi dari abahnya bahkan dapat mengembangkan sayap, hingga jamaahnya tidak melulu orang nahdhiyin, akan tetapi diminati pula oleh saudara kita dari muhammadiyah dan kaum cungklang. Dan lagi-lagi kuasa Alloh harus kita terima. Kyai muda ini harus pulang sowan kehadiratnya pada usia yang masih teramat sangat muda yaitu 27 tahun (1982-2009).

Ibarat mati satu tumbuh seribu, itulah kiranya pepatah yang tepat untuk menggambarkan regenerasi dalam pesantren Leler. Pesantren ini tidak akan kekurangan stok. Mengapa? Cucu-cucu mbah Hisyam sebagai penerus perjuangan beliau, sudah kelihatan mumpuni. Hal ini karena mereka para ghowaghis sangat tekun dalam belajar dan di dukung oleh atmosfer pendidikan yang kondusif. Mereka adalah sarjana dan calon sarjana dari universitas terkemuka di dunia, yaitu gus Mauhiburohman bin KH. Nashuha, gus Ahkam bin Nashuha, keduanya sudah menamatkan S1 Al azhar dan sekarang sedang melanjutkan S2 di Malaysia (gus Ohib) dan gus Ahkam di Al Azhar, gus Ma'mun bin KH. Luqman (tingkat empat Syariah Al azhar), Gus Fahmi bin KH. Sya'bani (tk. 4 ushuludin Al Azhar), gus Hakam bin KH. Mastur (ushuludin Al Azhar) dan gus Wafaq bin KH. 'Athourrohman ( Al Ahqof Yaman) serta ghowaghis yang lain.   

Setelah kita melihat calon-calon ponggawa pesantren Leler, kita dapat membayangkan bahwa pesantren kita ini akan dapat mencapai puncak kejayaan lagi dimasa yang akan datang. Semoga….




By:
Adhi Maftuhin;
Alumnus At Taujieh Al Islamy, sekarang tinggal bareng dengan para ghowaghis di Helwan,  Kairo, Egypt.