Sebelum menjadi kutu busuk, alangkah lebih bijak dan mantesi apabila menjadi kutu buku terlebih dahulu
Jumat, 01 Maret 2013
Rabu, 13 Februari 2013
Kunci Ilmu
Sٍٍٍahabat Ali bin Abi thalib berkata: "Seorang pelajar tidak akan mendapatkan ilmu -dengan sempurna ssuai dengan yang diharapkan- terkecuali telah memenuhi enam syarat. Yaitu:
1). Berotak cerdas
2). Semangat dalam belajar
3). Sabar dalam menuntut ilmu.
4). Punya kemampuan finansial
5). Diasuh oleh guru yang bertalenta
6). Menyediakan waktu luang dan waktuyang panjang.
Bila enam hal tersebut ada pada diri seorang pelajar maka hanya takdir Allah -bodoh dan gagal dalam belajar- saja yang dapat menghalangi dirinya untuk duduk sama tinggi dengan kaum intelektual.
Tapi, seakan sudah menjadi sunah kauniyah, banyak orang-orang yang diberi kemampuan secara materi tidak sukses dalam dunia intelektual. Dan banyak yang dianugerahi kekuarangan finansial malah sukses, misal saja Imam Syafi'i, Imam Badruddin Az Zarkasyi dll. Contoh ulama yang paling sabar dalam literatur klasik dalam mencari ilmu adalah Ibnu Hajar Al 'Asqolany. Beliau dikenang bertahun-tahun belajar cuma dapaat menghafalkan surat Al fatihah saja.
Dalam kitab Al Fawaid Al makkiyyah, Syeikh Alawi bin Muhammad bin Abdurrahman As Sagaf menuturkan: Sedikitnya ada empat syarat yang harus dipenuhi agar seorang pelajar dapat memperoleh ilmu -termasuk ilmu bathin- dengan maksimal dan dalam tempo yang relatif singkat. Keempat hal tersebut adalah:
1). Syaikh Fattah ( Seorang mentor yang dapat mengetahui dan mengarahkan bakat dari muridnya)
2) 'Aql Rajih (Kecerdasan dan kemampuan akal)
3). Kutub Shihah ( Buku-buku berkwalitas dan dapat dipertanggung jawabkan)
4).Al Mudawamah wa Ilhah ( Tekun dan pantang menyerah)
1). Berotak cerdas
2). Semangat dalam belajar
3). Sabar dalam menuntut ilmu.
4). Punya kemampuan finansial
5). Diasuh oleh guru yang bertalenta
6). Menyediakan waktu luang dan waktuyang panjang.
Bila enam hal tersebut ada pada diri seorang pelajar maka hanya takdir Allah -bodoh dan gagal dalam belajar- saja yang dapat menghalangi dirinya untuk duduk sama tinggi dengan kaum intelektual.
Tapi, seakan sudah menjadi sunah kauniyah, banyak orang-orang yang diberi kemampuan secara materi tidak sukses dalam dunia intelektual. Dan banyak yang dianugerahi kekuarangan finansial malah sukses, misal saja Imam Syafi'i, Imam Badruddin Az Zarkasyi dll. Contoh ulama yang paling sabar dalam literatur klasik dalam mencari ilmu adalah Ibnu Hajar Al 'Asqolany. Beliau dikenang bertahun-tahun belajar cuma dapaat menghafalkan surat Al fatihah saja.
Dalam kitab Al Fawaid Al makkiyyah, Syeikh Alawi bin Muhammad bin Abdurrahman As Sagaf menuturkan: Sedikitnya ada empat syarat yang harus dipenuhi agar seorang pelajar dapat memperoleh ilmu -termasuk ilmu bathin- dengan maksimal dan dalam tempo yang relatif singkat. Keempat hal tersebut adalah:
1). Syaikh Fattah ( Seorang mentor yang dapat mengetahui dan mengarahkan bakat dari muridnya)
2) 'Aql Rajih (Kecerdasan dan kemampuan akal)
3). Kutub Shihah ( Buku-buku berkwalitas dan dapat dipertanggung jawabkan)
4).Al Mudawamah wa Ilhah ( Tekun dan pantang menyerah)
Sekilas Tentang Dr. Ali Gooma
Beberapa hari kedepan, tepatnya bulan Maret 2013 M. Dr. Ali Gooma secara resmi lengser dari jabatan mufti Mesir yang telah diembannya selama dua periode (2003-2008 dan 2008-2013). Beliau sebenarnya diminta kembali oleh dewan pemilihan mufti Mesir untuk mengemban kembali amanah yang telah beliau emban dua perioade itu. Akan tetapi beliau dengan halus menolak dan berkata "saya ingin meluangkan waktu lebih banyak guna mendidik para santri di masjid Al Azhar".
Secara Khusus Prof. Dr. Ahmad Thoyib Syaikhul Azhar juga memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya untuk beliau, karena beliau dianggap telah memberikan sumbangsih yang begitu beesar kepada dunia islam pada umumnya dan pada rakyat Mesir pada khususnya melalui kiprah beliau dalam membumikan ajaran islam yang wasathy dan berandil besar pula dalam melestarikan kekayaan hazanah islam dengan membuka kembali pengajian-pengajian di ruwal masjid Al Azhar serta membuka akademi fatwa (Daar Ifta) sehingga atmosfer intelektual di bumi kinanah semakin semarak.
Dr. Abd. Fadhil al Qushy -menteri wakaf mesir- juga senada dengan Grand syekh Al Azhar. beliau berterima kasih dan berkata "Dr. Ali Gooma akan membuat kerja mufti selanjutnya semakin berat karena harus mengimbangi pencapaian yang telah di rengkuh olehnya".
Berikut ini biografi singkat Dr. Ali Gooma:
Nama: Syaikh Ali Gomaa Mohamed Abdel Wahab bahasa arab:على جمعة محمد عبد الوهاب
TTL: Bani Suwef, Mesir 3 Maret 1952 M.
Latar belakang
Sheikh Ali Gooma mulai menghafal Al-Qur'an
pada usia sepuluh tahun. Meskipun beliau tidak masuk sekolah agama, beliau
telah mempelajari kutubu sittah serta fiqih Maliki usai lulus dari bangku SMA. Kemudian
beliau masuk fakultas teknik atau fakultas perdagangan. Beliau memilih Fakultas
perdagangan karena bidang ini yang akan memungkinkan dia untuk mengisi waktu
luang ketika melanjutkan studi agama.
Setelah lulus dari perguruan tinggi, Sheikh Ali
Jum'ah terdaftar di Universitas al-Azhar. Setelah menyelesaikan gelar sarjana
kuliah Dirasat Islamiyyah wal Arabiyyah Universitas al-Azhar pada tahun 1979,
Sheikh Ali Jum'ah terdaftar dalam program magister dalam Ushulul Fiqih kuliah
Syari'ah wal Qanun Universitas al-Azhar. Beliau memperoleh gelar magister pada
tahun 1985 dengan nilai mumtaz. Diikuti dengan gelar doktor dalam Ushulul Fiqih
Kuliah Syari'ah wal Qanun Universitas al-Azhar tahuan 1988 M dengan nilai Syaraf Ula.
Selain studi resminya, Sheikh Ali Jum'ah juga
belajar kepada banyak syekh dan ahli ilmu-ilmu syariah. Diantaranya ulama
hadits Maroko dan Syekh Abdullah bin Siddiq al-Ghumari. Sehingga mereka
menganggap Syekh Ali Jum'ah adalah salah satu mahasiswa yang paling berhasil.
Selain itu Syeikh Ali Jum'ah juga belajar pada:
Sheikh Abd al-Fattah Abu Ghuda, Sheikh Muhammad Abu Nur Zuhayr, Sheikh Jad
al-Rabb Ramadan Goma', Sheikh al-Husayni Yusif al-Shaykh, Sheikh Muhammad Yasin
al-Fadani, Sheikh Abd al-Jalil al-Qarnishawi al-Maliki, Sheikh al-Azhar Sheikh
Jad al-Haqq Ali Jadd al-Haq, Sheikh Abd al-'Aziz al-Zayat, Sheikh Ahmed
Muhammad Mursi al-Naqshibandi, Sheikh Muhammad Zaki Ibrahim, and Sheikh
Muhammad Hafidh al-Tijani.
Sebelum diangkat menjadi Grand Mufti Republik
Arab Mesir, beliau menjadi rujukan dalamManahij Fiqhiyyah di
Universitas al-Azhar.
Di pertengahan 1990 Sheikh Ali Jum'ah
mencetuskan kembali tradisi lama yaitu memberi pelajaran agama di masjid
al-Azhar, yang mana pelajaran ini terbuka untuk umum sehingga orang-orang yang
ingin lebih mendalami tentang agama, bisa mengikuti pelajaran ini. Kuliah umum
ini terletak di ruangan dekat masjid al-Azhar.
Pada tahun 2003 Sheikh Ali ditunjuk sebagai
Grand Mufti Mesir. Sejak menjabat sebagai Grand Mufti Republik Arab Mesir,
beliau membuat Dar al-Ifta menjadi sebuah
institusi modern dengan dewan fatwa dan sistem checks and balances . Sheikh Ali
Jum'ah juga menambahkan aspek teknologi untuk institusi tersebut dengan
mengembangkan sebuah website canggih dancall center dimana
orang semakin mudah untuk meminta fatwa tanpa harus datang ke institusi tersebut.
Sheikh Ali adalah seorang penulis yang
produktif tentang isu-isu Islam dan ia menulis kolom mingguan di surat kabar
al-Ahram Mesir di mana ia membahas masalah-masalah kontemporer.
Pendidikan
- Beliau mendapat gelar Bachelor of Commerce dari Universitas 'Ain Syams tahun 1973 M.
- Beliau juga mendapat gelar sarjana kuliah Dirasat Islamiyyah wal Arabiyyah Universitas al-Azhar tahun 1979 M.
- Magister dalam Ushulul Fiqih kuliah Syari'ah wal Qanun Universitas al-Azhar tahun 1985 M dengan nilai mumtaz.
- Mendapat gelar doktor dalam Ushulul Fiqih Kuliah Syari'ah wal Qanun Universitas al-Azhar tahuan 1988 M dengan nilai Syaraf Ula.
Pekerjaan
- Mufti Republik Arab mesir mulai 28 September 2003 sampai sekarang.
- Anggota Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah mulai tahun 2004 sampai sekarang.
- Anggota Majma' al-Fiqh dalam mu'tamar Islam di Jeddah.
- Guru besar Ushulul Fiqih kuliah Dirasat Islamiyyah wal Arabiyyah lil banin Universitas al-Azhar.
- Anggota mu'tamar fiqih Islam di India.
Karya-karya beliau
- المصطلح الأصولي والتطبيق على تعريف القياس.
- الحكم الشرعي عند الأصوليين.
- أثر ذهاب المحـل في الحكم.
- المدخل لدراسة المذاهب الفقهية الإسلامية.
- علاقة أصول الفقه بالفلسفة.
- مدى حجية الرؤيا.
- النسخ عند الأصوليين.
- الإجماع عند الأصوليين.
- آليات الاجتهاد.
- الإمام البخاري.
- الإمام الشافعي ومدرسته الفقهية.
- الأوامر والنواهي.
- القياس عند الأصوليين.
- تعارض الأقيسة.
- قول الصحابي.
- المكاييل والموازين.
- الطريق إلى التراث.
- الكلم الطيب.. فتـاوى عصرية.
- الكلم الطيب.. فتـاوى عصرية (2).
- الدين والحياة.. فتاوى معاصرة.
- الجهاد في الإسلام.
- شرح تعريف القياس.
- البيان لما يشغل الأذهـان.. 100 فتـوى.
- سمات العصر.. رؤية مهتم.
- سيدنا محمد رسول الله للعالمين.
- الفتوى ودار الإفتاء المصرية.
- فتـاوى الإمام محمد عبده (اعتنى بجمعه واختياره وقدم لـه).
- حقائق الإسلام في مواجهة شبهات المشككين (بالاشتراك).
- قضيـة تجديد أصول الفقه.
- صناعة الإفتاء من مجموعة سلسلة التنوير الإسلامي.
- التجربة المصرية من مجموعة سلسلة التنوير الإسلامي.
- مكانة المرأة في الفقه الإسلامي من مجموعة سلسلة التنوير الإسلامي.
- المرأة بين إنصاف الإسلام وشبهات الآخر.
- قضايا المرأة في الفقه الإسلامي.
- المرأة في الحضارة الإسلامية.
- تيسير النهج في شرح مناسك الحج.
- النبي صلي الله عليه وسلم.
- الطريق إلى الله.
- الوحي – القرآن الكريم.
- البيئة والحفاظ عليها من منظور إسلامي.
- سبيل المبتدئين شرح منازل السائرين
Copas dari hukum Zone.
Perkenalan dengan beliau
Perkenalan saya dengan beliau adalah diahir tahun 2004 melalui buku beliau yang berjudul Ad Din Wal Hayat. Sebuah buku kecil yang berisikan tentang fatwa keseharian. Setelah beberapa bulan kemuadian saya ikut menikmati karya beliau yang berjudul Al Makayiil wal Mawazin melalui Alm Gus Lubab. Semenjak saat itu saya semakin gandrung dengan karya beliau. Selang satu setengah tahun saya mendapatkan karya beliau yang lain yang berjudul Al Bayan. Dari ketiga buku beliau yang sampai ke tangan saya tidak ada satupun yang berbentuk asli. saya mendapatkannya dalam bentuk foto kopi. Maklum, pada waktu itu akses terhadap buku dan kitab timur tengah masih sangat terbatas.
Kegandrungan pada beliau akhirnya memuncak setelah saya diizinkan untuk menginjakkan kaki di bumi kinanah. Kekaguman pada beliau semakin menjadi setelah saya bertemu dengan anak murid beliau, diantaranya adalah Syekh Amr Al Wardany, Syeikh Ishom Al Zaftawy, Syekh Usama Al Azhary, Syekh Asryraf Al Makkawy, Syekh Sayid Syaltut, Syekh Jamal Faruq, Syekh Hisyam Kamil, Alm Syeikh Imad Effat, Syekh Salim Abu 'Ashy dan sederet nama lain yang intens mengajar di Masjid Al Azhar. Dan pada saat yang bersamaan, disela-sela kesibukannya menjadi Mufti beliau menyisakan waktu untuk mendidik di masjid Al Azhar dengan membuka pengajian Ghoyatul Wushul, Asybah wan Nadzoir Li Suyuthy, Tamhad dan akhir-akhir ini sering dengan pengajian Tafsirnya. Semoga saja dengan purna tugasnya beliau sebagai mufti semakin banyak waktu untuk sekedar menatap beliau dan mendengarkan didikannya.
Semoga.
Telanjangi Dulu Sebelum Membeli
Dalam hitungan jam Cairo International Books Fair sudah dibuka.
Berbagai macam buku dan beragam jenis corak pemikiran akan tersaji
dalam pagelaran tersebut. Dari buku yang paling kanan sampai ke yang
paling kiri akan tersedia. Ditengah-tengah kanan dan kiri tentunya ada
buku-buku yang menyuarakan wasathiyah alias yang berdiri
ditengah-tengah, tidak miring ke kanan atau condong ke kiri. Sayangnya,
buku-buku yang bercorak moderat kini telah banyak disusupi –kalau tidak
mau mengatakan telah dipalsu- oleh mereka yang berhaluan kanan.
Sehingga sulit untuk menandai mana yang masih mengusung pemikiran murni
sang muallif dan mana yang telah dirasuki pemikiran si muhaqiq –maaf-
gadungan.
Untuk itu, perlu kiranya sebelum menjatuhkan pilihan pada buku A misalnya, si pembeli menimbang dan memperhatikan siapa nama yang tertera dibawah tulisan “Al Muhaqqiq” atau “Bi Tahqiiq” dan penerbitnya agar tidak menyesal dan disesalkan oleh masyarakatnya dikelak kemudian hari. Terlebih bila si calon pembeli adalah peminat buku-buku hadits, akidah dan berasal dari keluarga wasathi.
Sebagai contoh, si pembeli mau membeli kitab Fath Al Bari syarah kitab Shohih Buhori karya dari Ibnu Hajar Al ‘Asqolany. Dalam contoh ini, saya kira si pembeli akan sangat sulit untuk menemukan kitab yang ditahkik oleh ulama garis tengah. Menurut Syekh Sayid Syaltut, -salah seorang pejabat di Daar Ifta Mesir dan pengajar di masjid Al Azhar- kitab Fath Al Bari yang masih suci dari tangan-tangan kotor kaum yang menamakan dirinya sebagai pembawa kemurnian agama dan penyucian akidah adalah yang diterbitkan oleh maktabah Bulaq dan makatabah Halaby. Akan tetapi, sangat disayangkan kedua penerbit tersebut sampai sekarang masih belum mau merubah penampilan koleksi-koleksinya sehingga tampak kuno dan jauh dari jamahan pembeli. Disamping itu, harga dari penerbit Halaby misalnya tidak dapat dibilang murah bila dibandingkan dengan koleksi sejenis dari penerbit yang lain dengan kualitas buku yang lebih baik, walaupun kadang isinya meragukan.
Selain buku-buku hadits, buku yang sangat rentan disusupi pemikiran mereka adalah buku akidah. Hal ini memang sudah lumrah adanya, karena jargon yang mereka usung memang ingin memurnikan akidah kaum muslimin secara keseluruhan. Dalam pandangan mereka, akidah kaum muslimin yang tidak sejalan dengan mentor yang mereka agung-agungkan adalah sesat. Maka, salah satu jalan yang ditempuh adalah dengan meluruskan pemikiran sang mualif dan salah satu cara yang ditempuh adalah dengan menghapus muatan yang tidak sepaham dengan akidah yang mereka anut atau memberikan komentar yang memihak pada pendapat mereka. Tujuannya tidak lain agar si pembaca tergiring mengikutinya.
Salah satu penerbit yang konsisten menerbitkan buku akidah yang berpaham wasathi adalah Dar Al Bashoir. Berbeda dengan penerbit Halaby yang masih setia dengan model lama, Dar al Bashoir tampil mengikuti gaya penulisan masa kini dan kemasan yang menarik. Akan tetapi, lagi-lagi harga yang ditawarkan oleh mereka kadang diatas rata-rata. Disini, kita akan dihadapkan pada dua pilihan. Yaitu, harga murah akan tetapi isinya rentan terhadap pemalsuan. Dan yang kedua, isi buku terjamin akan tetapi agak sedikit mahal. Perlu kami sebutkan juga, bagi peminat kutubussittah, kitab yang terjamin isinya adalah yang dicetak oleh maktabah Magnes.
Kembali ke bahasan muhaqqiq. Berbicara tentang muhaqqiq, sebenarnya tidak sedikit muhaqqiq yang berasal dari kalangan kaum wasathi. Akan tetapi, sampai saat ini buku-buku yang ditahkik oleh kaum yang berseberangan lebih dominan. Dominasi ini tentunya tidak lepas dari gelontoran dana yang tidak terbatas dan ghirah yang membara dari setiap pengikutnya untuk memberikan sumbangsih bagi kemajuan golongannya. Sehingga, memunculkan muhaqiq yang premature. Sedangkan dari kaum wasathi sendiri seakan jarang memunculkan muhaqiq karena tanggung jawab keilmuan menuntut mereka untuk benar-benar teliti dalam memunculkan karya sehinga nantinya menghasilkan karya yang dapat dipertangung jawabkan secara ilmiah. Dari kalangan ulama dahulu ada ulama sekaliber Muhammad Muhyiddin abdul Hamid, Ahmad Muhamad Syakir, Mahmud Muhammad Syakir dan lain-lain. sementara dari ulama yang masih produktif sampai sekarang k ita mengenal sosok Dr. Ali Gooma dan sederet ulama lain. Sayangnya, penulis sendiri sampai sekarang masih belum menemukan data yang terperinci mengenai para muhaqqiq yang berpaham wasathi dan para muhaqqiq premature. Mungkin bagi para pembaca dapat memberi masukan sehingga kita sama-sama dapat menyusun katalog mana muhaqqiq yang tergolong dalam kaum wasathi dan mana yang termasuk dalam golongan premature.
http://www.facebook.com/notes/adhi-maftuhin/telanjangi-dulu-sebelum-menjatuhkan-pilihan/10151195451305946
Untuk itu, perlu kiranya sebelum menjatuhkan pilihan pada buku A misalnya, si pembeli menimbang dan memperhatikan siapa nama yang tertera dibawah tulisan “Al Muhaqqiq” atau “Bi Tahqiiq” dan penerbitnya agar tidak menyesal dan disesalkan oleh masyarakatnya dikelak kemudian hari. Terlebih bila si calon pembeli adalah peminat buku-buku hadits, akidah dan berasal dari keluarga wasathi.
Sebagai contoh, si pembeli mau membeli kitab Fath Al Bari syarah kitab Shohih Buhori karya dari Ibnu Hajar Al ‘Asqolany. Dalam contoh ini, saya kira si pembeli akan sangat sulit untuk menemukan kitab yang ditahkik oleh ulama garis tengah. Menurut Syekh Sayid Syaltut, -salah seorang pejabat di Daar Ifta Mesir dan pengajar di masjid Al Azhar- kitab Fath Al Bari yang masih suci dari tangan-tangan kotor kaum yang menamakan dirinya sebagai pembawa kemurnian agama dan penyucian akidah adalah yang diterbitkan oleh maktabah Bulaq dan makatabah Halaby. Akan tetapi, sangat disayangkan kedua penerbit tersebut sampai sekarang masih belum mau merubah penampilan koleksi-koleksinya sehingga tampak kuno dan jauh dari jamahan pembeli. Disamping itu, harga dari penerbit Halaby misalnya tidak dapat dibilang murah bila dibandingkan dengan koleksi sejenis dari penerbit yang lain dengan kualitas buku yang lebih baik, walaupun kadang isinya meragukan.
Selain buku-buku hadits, buku yang sangat rentan disusupi pemikiran mereka adalah buku akidah. Hal ini memang sudah lumrah adanya, karena jargon yang mereka usung memang ingin memurnikan akidah kaum muslimin secara keseluruhan. Dalam pandangan mereka, akidah kaum muslimin yang tidak sejalan dengan mentor yang mereka agung-agungkan adalah sesat. Maka, salah satu jalan yang ditempuh adalah dengan meluruskan pemikiran sang mualif dan salah satu cara yang ditempuh adalah dengan menghapus muatan yang tidak sepaham dengan akidah yang mereka anut atau memberikan komentar yang memihak pada pendapat mereka. Tujuannya tidak lain agar si pembaca tergiring mengikutinya.
Salah satu penerbit yang konsisten menerbitkan buku akidah yang berpaham wasathi adalah Dar Al Bashoir. Berbeda dengan penerbit Halaby yang masih setia dengan model lama, Dar al Bashoir tampil mengikuti gaya penulisan masa kini dan kemasan yang menarik. Akan tetapi, lagi-lagi harga yang ditawarkan oleh mereka kadang diatas rata-rata. Disini, kita akan dihadapkan pada dua pilihan. Yaitu, harga murah akan tetapi isinya rentan terhadap pemalsuan. Dan yang kedua, isi buku terjamin akan tetapi agak sedikit mahal. Perlu kami sebutkan juga, bagi peminat kutubussittah, kitab yang terjamin isinya adalah yang dicetak oleh maktabah Magnes.
Kembali ke bahasan muhaqqiq. Berbicara tentang muhaqqiq, sebenarnya tidak sedikit muhaqqiq yang berasal dari kalangan kaum wasathi. Akan tetapi, sampai saat ini buku-buku yang ditahkik oleh kaum yang berseberangan lebih dominan. Dominasi ini tentunya tidak lepas dari gelontoran dana yang tidak terbatas dan ghirah yang membara dari setiap pengikutnya untuk memberikan sumbangsih bagi kemajuan golongannya. Sehingga, memunculkan muhaqiq yang premature. Sedangkan dari kaum wasathi sendiri seakan jarang memunculkan muhaqiq karena tanggung jawab keilmuan menuntut mereka untuk benar-benar teliti dalam memunculkan karya sehinga nantinya menghasilkan karya yang dapat dipertangung jawabkan secara ilmiah. Dari kalangan ulama dahulu ada ulama sekaliber Muhammad Muhyiddin abdul Hamid, Ahmad Muhamad Syakir, Mahmud Muhammad Syakir dan lain-lain. sementara dari ulama yang masih produktif sampai sekarang k ita mengenal sosok Dr. Ali Gooma dan sederet ulama lain. Sayangnya, penulis sendiri sampai sekarang masih belum menemukan data yang terperinci mengenai para muhaqqiq yang berpaham wasathi dan para muhaqqiq premature. Mungkin bagi para pembaca dapat memberi masukan sehingga kita sama-sama dapat menyusun katalog mana muhaqqiq yang tergolong dalam kaum wasathi dan mana yang termasuk dalam golongan premature.
http://www.facebook.com/notes/adhi-maftuhin/telanjangi-dulu-sebelum-menjatuhkan-pilihan/10151195451305946
Manusia Dan Kemakmuran
Bahwa manusia adalah
satu-satunya mahluk yang mendapatkan pengakuan sebagai kholifah Allah dimuka bumi ini, tidak ada yang dapat menyangkal. Bahwa
salah satu tugas kholifah adalah untuk memberdayakan alam dengan segala isinya
untuk kemaslahatan kaum adam juga tidak ada seorangpun yang berani menggugat. Hal itu merupakan salah satu keistimewaan
yang diberikan oleh Alloh kepada manusia.
Kemakmuran yang
ditegaskan oleh Alloh akan didapatkan oleh manusia adalah ketika mereka dapat menambah nilai
guna suatu benda atau menciptakan benda baru sehingga lebih bermanfaat dalam
memenuhi kebutuhannya. Proses inilah yang dalam ilmu ekonomi dinamakan
dengan kegiatan produksi. Dari kegiatan
produksi, manusia akan dapat memenuhi kebutuhannya. Dan kegiatan
yang bertujuan untuk mengurangi atau
menghabiskan daya guna suatu benda, baik berupa barang maupun jasa, untuk
memenuhi kebutuhan dan kepuasan secara langsung disebut dengan istilah
konsumsi. Dua kegiatan diatas tidak akan terhubung
ketika tidak ada talanangan jasa dari supplier yang bertugas menyalurkan
barang-barang hasil produksi hingga sampai kepada tangan konsumen. Dalam
ekonomi kegiatan ini dinamakan dengan distribusi. Walhasil, keseimbangan ketiga
hal tersebut diatas merupakan faktor
utama terwujudnya kemakmuran diatas muka bumi
sehingga tidak terjadi ketimpangan dalam salah satunya.
Mengapa, Karena
kegiatan produksi merupakan jalan yang harus ditempuh sebelum konsumen dapat
menikmati barang-barang hasil produksi. Disisi lain, konsumsi merupakan motor
penggerak dalam kegiatan produksi. Jika
kebutuhan pasar akan suatu barang tinggi dan tidak diimbangi dengan penambahan
jumlah produksi maka konsumen akan dirugikan dengan melambungnya harga. Sebaliknya, Jika konsumen enggan mengkonsumsi
sebuah produk dan pihak produsen bersikeras menambah jumlah produksinya maka,
produsen akan mengalami kerugian dengan menumpuknya stok barang. Dan untuk melancarkan dua kegiatan diatas
perlu adanya campur tangan pihak
distributor.
Erat kaitannya dengan
masalah konsumsi,Islam menerapakan aturan yang moderat, tidak terlalu mengekang
tidak pula berlaku jor-joran. Asas konsumsi yang dianut oleh islam
bertolak belakang dengan asas konsumsi yang dianut oleh kaum kapitalis dengan
falsafah jor-jorannya dan kaum sosialis dengan tali kekangnya. Yaitu, siapa saja yang punya kemampuan untuk
mendapatkan barang yang diinginkan maka tidak ada yang berhak untuk melarang.
Dibelahan lain kaum sosialis seakan mengekang habis-habisan terhadap kegiatan
konsumsi dengan dalih pemerataan kepada seluruh masyarakat. Walhasil, satu
bersifat terlalu jor-joran dan satunya lagi terlalu mengekang, sedangkan
islam berada ditengah-tengahnya.
# Muqodimah kajian
Langganan:
Postingan (Atom)