Jumat, 15 Oktober 2010

Dari Ketiadaan Aku Ada Part IV

Menunggu berangkat ke Kairo


Tepat setelah sholat ‘ied dan bermaaf-maafan dengan seluruh masyayikh dan warga sekitar pondok aku pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang, bukan Cuma kegembiraan yang ada dalam dada, malah sebagian besar dada ini dipenuhi perasaan tak menentu. Perasaan yang dari semalam belum ku ungkapkan kepada siapapun. Pikiranku sibuk mencari cara agar dapat menyampaikan anjuran dari sang kyai dan dapat di terima dengan baik oleh kedua orang tua beserta kakak dan adik-adikku. Tau sendiri, adiku gagal kuliah Karena terbentur biaya. Dan sekarang, aku yang seharusnya tetap berusaha mencarikan jalan agar dia tetap bisa melanjutkan pendidikannya dan dapat membantu dalam segi pembiayaan malah harus memeras keuangan keluarga. Pening tujuh keliling…. Ah.. mumet…………………
Adzan ashar berkumandang tepat ketika aku menginjakan kaki di rumah. Seisi rumah sedang berkumpul di tambah dengan paman, bibi serta saudara-saudara sepupu dari pihak ibu. Maklum, ibuku merupakan kakak tertua dari mereka yang semuanya berjumlah delapan orang plus sudah berkeluarga dan beranak-pinak, bahkan ada yang punya cucu, dan telah lama menggantikan posisi ibu mereka karena meninggal ketika ibuku baru berusia 18 tahun, otomatis ibukulah yang mengurus mereka. Itulah yang menjadikan kedekatan mereka dengan kami sekeluarga. Dan sudah pasti pada saat lebaran mereka berkumpul di rumahku dengan anak-anak dan cucu mereka, wong di hari-hari biasa juga mereka kerap berkumpul. Saudara-saudara sepupuku juga sering menginap di rumahku. Pokoknya rumah ini tidak pernah sepi dari canda tawa anak-anak dan suara tangisan bayi. Walaupun kami lima bersaudara belum ada yang menikah.

Suasana sudah agak sepi, mereka sudah kembali ke rumah mereka masing-masing, hanya beberapa saudara sepupuku saja yang tersisa, agar keesokan harinya tidak perlu repot-repot ke rumahku untuk melanjutkan silaturahmi ke saudara-saudara yang lain secara berombongan. Kurasa ini waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu. Ku kumpulkan semuanya tak terkecuali, hal ini ku lakukan agar hatiku mantap dalam mengambil keputusan. Karena hal ini bukan semata-mata berhubungan antara aku dengan kedua orang tua, akan tetapi menyangkut semuanya, adik-adik dan kakakku.

Begini pak, mbok, sebelum aku pulang ku utarakan niatan untuk mukim, dan Alhamdulillah semua masyayikh mengijinkan. Hanya saja ada satu hal yang menjadi syarat kepulanganku, yaitu aku dianjurkan untuk melanjutkan belajarku ke timur tengah, Al Azhar Mesir tepatnya.
Semua terdiam, aku tidak tau apa yang sedang mereka pikirkan saat itu. Aku pun ikut diam. Tak berani mengucapkan kata barang sepatah. 

Setelah kurang lebih sepuluh menit dalam keheningan ahirnya simbok angkat bicara: “Sebenarnya aku sendiri tidak merasa keberatan jika kau berangkat ke Al Azhar, akan tetapi kau tau sendiri kan bagaimana kondisi ekonomi keluarga ini, perjalanan pendidikan adik-adikmu masih sangat panjang, tentunya biaya yang selama ini harus dikeluarkan untukmu harus berpindah tangan kepada mereka. Rasa-rasanya kamu sudah lebih dari cukup mengenyam pendidikan, walaupun Cuma pesantren, tapi kurasa ada baiknya juga kau melanjutkan belajarmu, semakin banyak bekal yang kau punya insya Alloh akan menjadikanmu lebih matang dalam menghadapi kehidupan di kelak kemudian hari. Semoga saja ini adalah jalan untuk merubah harkat dan martabat keluarga ini.” 

Aku menangis tersedu mendengar perkataan simbok yang selama ini menjadi manager keluarga ini. Beliau memang sangat bijak dalam setiap keputusan yang ia ambil. Layak, dalam setiap masalah keluarga beliaulah yang selalu jadi rujukan aduk-adiknya. Dan dengan otomatis semua sepakat akan kelanjutan belajarku ke Al Azhar. Aku tau bahwa untuk menuju kesana tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan nantinya. Pun beliau masih mendukung dan memberikan semangat.

“Mengingat sudah bukan saatnya aku meminta pembiayaan dari bapak dan simbok maka untuk pembiayaan kesana anggap saja sebagai hutang, dan insya Alloh setelah aku punya uang untuk mengembalikan aku akan mengembalikannya, ataupun kalau dalam jarak waktu yang telah ditentukan ternyata tidak mampu membayar, maka jaminannya adalah sepetak tanah yang baru-baru ini mereka alih namakan padaku sebagai modal usaha, biarlah tanah itu sebagi kompensasi atas biaya yang sudah dikeluarkan untuk pemberangkatanku ke Al Azhar.” Ucapku menimpali keputusan simbok. 

Mengapa langkah ini ku tempuh? Pertama agar nanti tidak ada kecemburuan diantara saudara-saudaraku, kedua menjaga perasaan adiku yang tidak dapat melanjutkan ke bangku kuliah karena tidak di sanggupi orang tua, ketiga minimal ada sedikit borg untuk kelanjutan pendidikan adik-adiku yang masih kecil dan ke empat adalah sebagai ungkapan rasa tanggung jawab dari seorang anak yang seharusnya tidak di biayai lagi dan sekarang harus dibiayai dalam jumlah yang sangat besar untuk ukuran keluarga kami.

Begitulah, tahap pertama berjalan dengan mulus. Semuanya mendukung dan kedua orang tuaku akan berusaha sekuat tenaga untuk mengumpulkan biaya. Singkat cerita, setelah aku dinyatakan lolos tes depag, uang yang akan ku gunakan membiayai perjalananku ke Al Azhar baru mencapai 20%, padahal waktu yang tersisa untuk melunasi tinggal setengah bulan lagi. Penawaran tanah kepada orang yang berminat tidak membuahkan hasil, begitu juga usaha-usaha yang lain. Waktu semakin mepet. Batas ahir pelunasan tinggal satu minggu lagi, tak ada usaha yang dapat ku lakukan kecuali memperbanyak doa. Menagih janji kepada kyai yang dulu menawarkan bantuan rasa-rasanya tidak mungkin. Malu.. walaupun beliau sering menanyakan apakah aku sudah melunasi biaya pemberangkatan apa belum. Dan tepat satu hari sebelum batas ahir pelunasan ahirnya uang itu terkumpul, ndilalah ada yang mau menghutangi dengan tempo yag lama, uang nganggur dalam istilah masyarakat kami. Alhamdulillah, ahirnya lunas juga.

Setelah biaya keberangkatan lunas, hati ini sedikit lega. Tinggal memikirkan bekal untuk hidup disana. Lagi-lagi sang pencipta mengujiku. Orang tuaku tidak sanggup lagi mengusahakan uang untuk bekal hidupku di Kairo kelak. Mereka sudah kehabisan energi untuk mendapatkannya. Apa yang harus aku laukan ya rab… sungguh aku bingung, seakan tidak ada jalan yang dapat mengeluarakanku dari masalah ini. Ya Alloh… kalau aku dtakdirkan sampai ke Kairo maka mudahkanlah jalanku, walaupun nanti dalam keberangkatan aku tidak membawa bekal yang cukup. Hanya do’a itu yang tak henti-hentinya ku lantunkan disetiap waktu. Dan Alloh tidak sekali-kali berpaling dari rintihan hambanya. Disaat kritis keajaiban itu terjadi lagi. Tak disangka tak dinyana ada seorang dermawan yang mengulurkan bantuan, banyak sekali jumlahnya, dan sejak beliau sang dermawan memberikan bantuan, bantuan-bantuan yang lain tak henti-hentinya mengalir. Hingga terkumpul dalam jumlah yang tidak terduga sebelumnya. Puji syukur kehadiratmu ya Alloh, atas segala yang telah kau karuniakan.

Dari Ketiadaan Aku Ada Part III

Pulang dari pesantren

Kurang lebih Sembilan tahun ku habiskan waktuku di pesantren. Ku katakan pada diriku sendiri bahwa sudah waktunya pulang, walaupun sebenarnya bekal yang ku peroleh dari pesantren belumlah cukup untuk mengarungi samudera kehidupan yang penuh dengan badai dan karang. Akan tetapi ku putuskan saja untuk mengahiri pengembaraanku. Pencarian jatidiri dan pemenuhan kewajiban atas perintahNya. Mungkin itu yang paling pas untuk menggambarkan perjalanan selama Sembilan tahun yang telah terlewati. Mengapa ku katakana seperti itu.. karena ilmu yang ku peroleh jauh sekali dari harapan, ibarat api jauh dari panggang, sungguh sangat jauh dari apa yang diharapkan dan tidak bisa dikatakan berhasil. Satu-satunya yang membesarkan hati adalah bahwa aku dapat bergaul dengan orang-orang soleh dan dapat mengetahui betapa berharganya hidup serta adanya sedikit perubahan tingkah laku menuju arah yang lebih baik. Kayaknya cuma itu saja yang dapat ku peroleh dari Sembilan tahun pengembaraanku.

Memang rasanya belum banyak yang ku peroleh selama sembilan tahun pengembaraanku, akan tetapi dorongan untuk dapat sedikit meringankan beban yang membelenggu orang tuaku tak dapat ku tahan lagi. Selama dua tahun terahir aku harus berkali-kali sowan pulang dikarenakan adiku yang kala itu baru menamatakan pendidikan menengahnya ingin sekali masuk bangku kuliah dan aku dipercaya untuk mengurusnya. Sayang, setelah usaha demi usaha ku lakukan ternyata sang kuasa belum memberikan jalan. Lagi-lagi masalah ekonomilah penyebab utamanya. Berkali-kali aku pulang dengan tujuan mencarikan beasiswa untuk adiku, dan ternyata aku tidak berhasil. Padahal ia sangat berharap bisa melanjutkan pendidikannya. Sungguh sayang, otaknya yang terbilang encer tidak serta merta menjanjikan pendidikan yang lebih tinggi. Itu terbukti dari raihan prestasinya selama ini dan beasiswa yang ia dapatkan dari berbagai pihak selama ia berseragam abu-abu. Bagi kami, jumlahnya terbilang banyak, dan kadang uang itulah yang menopang kebutuhanku di pesantren selama ini. Disamping itu, ekonomi keluarga yang selama ini berjalan seadanya menurut perhitungan matematis sulit untuk membiayai pendidikan adik-adiku yang lain, padahal ada yang baru berusia dua tahun, perjalanan pendidikan mereka masih sangat panjang, dan aku tidak ingin untuk kedua kalinya menelan pil pahit. Maka dengan berat hati ku putusakan untuk meninggalkan pesantren dan berusaha memulai kehidupanku yang baru.

Perencanan untuk sowan pulang ku rencanakan dengan matang. Ku pilih sikon yang tepat. Karena salah perhitungan sedikit saja nanti akan berakibat fatal, bisa-bisa pulang dalam keadaan mardud, itulah yang selama ini terjadi pada sebagian besar kakak kelasku. Dan ahirnya semua berjalan dengan mulus. Tinggal satu lagi pikirku, 99% kayaknya beliau juga mengijinkan, karena jauh-jauh hari aku sudah memberikan signal bahwa dalam waktu dekat aku akan meninggalkan pesantren ini dan beliaulah satu-satunya kyai yang tahu seluk beluk keadaanku dan keluargaku.

Kupilih waktu ba’da maghrib untuk sowan kepada beliau, dengan harapan dalam sowan nanti dapat berbincang dengan leluasa dan dapat mendengar petuah- petuah beliau sampai puas. Karena biasanya setelah sholat isya banyak sekali santri yang sowan untuk meminta maaf dan pamit pulang, sehubungan dengan lebaran yang jatuh pada esok hari. Ya … ini malam takbiran. Al hamdulillah….. tanpa berkeberatan beliau meridhoi aku pulang untuk selamanya, atau dalam bahasa pesantren sering di sebut dengan istilah muqim atau boyong. Benar-benar hati ini serasa di awang-awang. Semua masyayikh telah mengijinkan aku untuk pulang, forever…. Aduh!!! betapa senang hati ini. Kebahagian yang tinggal beberapa detik memincak ini untuk sementara harus terhenti, tatkala beliau berkata: “sampean sudah pamit sama ibu?” Belum yai, jawabku. Ya sudah sekarang sampean pamit sama ibu. Aku diantar beliau ke ruang tengah menemui ibu dan beliau juga duduk disampingnya. Aku menyampaikan maksud kedatanganku pada bu nyai. Der!!!!!! Aku begitu terkejut. Secara spontan beliau memintaku agar jangan berhenti belajar dulu, “kau boleh meninggalkan pesantren ini”, kata beliau “akan tetapi dengan sarat akan melanjutkan belajar di tempat lain”. Dan tempat yang paling cocok untuk menambah ilmu mu adalah di Kairo, ucap kyai menimpali. Dada ini serasa berhenti berdetak kala kyai mengucapkan kata-kata tadi. Ternyata beliau mempunyai rencana besar dibalik kepulanganku. Ah… aku tak dapat mempercayainya. Bagaimana bisa seorang santri yang tidak terlalu intens dengan alat tulis sekarang akan melanglang buana ke pusat peradaban ilmu pengetahuan, selama ini hidupnya lebih banyak bergelut dengan berbagai bidang kecuali bidang yang satu itu, tak habis pikir diri ini dengan penjelasan yang baru dikemukakan sang kyai tadi. Sungguh aku tidak dapat mempercayainya. Beliau berdua tidak main-main dengan perkataannya tadi, Bahkan beliau berdua meyakinkanku seraya berkata: masalah biaya kau tidak usah cemas, insya Alloh kami akan membantu.

Begitulah, untuk sementara kebahagiaan yang sedari tadi akan segera memuncak harus berhenti beberapa centi, tergantikan berwarna-warni perasaan yang selama ini belum pernah ku rasakan.

Tak dapat ku pungkiri bahwa selama lima tahun terahir ini memang hari-hariku ku habiskan di ndalem beliau, kegiatan belajar juga intens kepada beliau, walaupun tidak menafikan ngaji kepada kyai yang lain. Hingga ku tak dapat menepis saran beliau. Yang bisa ku lakukan saat itu hanya matur: “nggih mengkin kulo rembagan kalih tiyang sepah rumiyin“. Itu saja.

Dari Ketiadaan Aku Ada Part II

Millennium baru jalan baru

Setelah hampir dua tahun terpenjara dalam rumah sendiri, ku bulatkan tekad untuk mengubah diri melawan keterpurukan. Hari itu hari senin tanggal 7 Februari. Pagi hari tepatnya. Dengan terbata-bata ku sampaikan niatku untuk mendalami ilmu agama. Sesuai dengan salah satu keinginan mereka. 

Tanpa keraguan sedikitpun ku katakan bahwa besok, hari rabu aku mau berangkat menuju salah satu pesantren terkenal di kota ini, aku tidak ambil pusing apakah nanti mereka berdua akan membiayai atau tidak, yang penting aku mendapat restu dari keduanya dan mendapatkan uang saku untuk berangkat. Tekadku sudah bulat. Kerasan atau tidak kerasan aku tidak mau pulang. Aku tidak ingin mengecewakan mereka untuk ketiga kalinya. Pertama dengan aku keluar dari pesantren bahasa yang telah ku ceritakan sebelumnya. Kedua, sebelum aku memutuskan untuk berangkat esok hari, aku telah meminta keduanya mengantarkanku pada sebuah pesantren ternama di Jawa Timur, nyatanya aku hanya mampu bertahan selama 19 hari. Dan ini ini adalah yang ketiga kalinya. Sudah terlalu sering aku membuat kecewa, imbas dari jiwaku yang terlalu berperasaan, perasaan selalu membuat repot yang malah akhirnya benar-benar membuat repot dan kecewa pada keduanya. Ah… aku sungguh berdosa…. Maafkan aku ya rabb!!! Semoga ini jalan yang kau ridhoi.

Sehari sebelum aku berangkat, ku sempatkan pamitan kepada saudara- saudara dekat dan tak lupa pula berziarah kepada makam leluhur, supaya langkah yang ku tempuh mendapat ridho dari Nya dan dapat menjadikanku ke arah yang lebih baik. Tak ku sangka, sambutan antusias terpancar dari sanak saudara, hingga esok harinya banyak yang melepas kepergianku dan tak lupa pula memberikan uang saku ala kadarnya.

Pesantren, pembentuk karakterku

Tanggal 9 Februari rabu pagi, aku bersama bapak dan adiku yang paling kecil saat itu (punya adik lagi setelah beberapa tahun di pesantren) berangkat menuju pesantren yang telah ku tuju. Sebuah pesantren yang telah berhasil mencetak kader-kader penerus perjuangan islam. Hingga pengasuh pesantren ini terkenal dengan gelar gurunya para guru, karena beliau menjadi guru dari setiap kyai dari daerah sekitar. Dimasa itu dapat dipastikan semua kyai pernah belajar kepada beliau. Setidak-tidaknya pernah bertabarukan. Itulah yang dapat ku rekam dari cerita para alumni dari daerah sekitar dan tak jarang pula dari pulau-pulau lain, setelah aku menetap lumayan lama disitu.

Beraneka ragam cerita seputar kehidupanku di pesantren masih tergambar dengan jelas dalam memori otaku, baik suka maupun duka, dari cerita melompat jendela Karena di oprak jama’ah, berendam dalam lumpur Karena takut ketahuan main sepak bola, mancing gurame milik sang kyai, malu disebabkan ketauan metik kangkung milik kyai, di perintah beli wafer malah dapat Whisper, beli neo reumachil dapat gula pasir dan seabreg cerita yang tidak mungkin terlupakan. Tak ketinggalan kisah kasih tak sampai kepada seorang santri putri, belajar bertani, berdagang dan keterampilan-keterampilan lain, serta belajar bermasyarakat dan berorganisasi. Semuanya masih tercatat rapi.

Begitulah secara ringkas kehidupanku di pesantren. Disamping ngaji kitab kuning sebagai makanan pokok, aku juga belajar tentang kemandirian. Bagaimana kita hidup tanpa terlalu bergantung kepada orang lain, hal ini tercermin dalam kehidupan sehari-hari seorang santri, dimulai dari mencuci baju sendiri, masak dan hal-hal yang dapat dikerjakan sendiri. Dilatih agar mencintai kebersihan dengan kegiatan piket dan kerja bakti setiap hari jum’at, belajar bekerja di berbagai bidang lapangan kerja, misalkan di ladang, belajar pertukangan, belajar berwira usaha, belajar menjadi arsitek, belajar berorganisasi dan belajar bertanggung jawab atas semua yang sudah dibebankan. Tak kalah dari itu semua adalah belajar tentang keikhlasan dan pengabdian yang biasanya direfleksikan dalam pengabdian menjadi pengurus dan ikut serta membantu ndalem sesuai dengan bidang yang dikuasai.

Untuk 4 tahun pertama, aku berkonsentrasi pada belajar dan hanya sedikit dari waktuku untuk urusan lain. Dan untuk paruh kedua malah sebaliknya. Dari waktu 24 jam sehari semalam, hanya 3 jam yang terpakai untuk belajar, selebihnya untuk mengerjakan hal-hal lain, walaupun hal tersebut masih ada kaitannya dengan dunia pendidikan. Belajar tidak hanya ngaji, pikirku saat itu. Sungguh aku merasa sangat rugi pada awal mulanya, akan tetapi justru hal inilah yang akan menuntunku hingga aku bisa belajar di negeri seribu menara ini. Ah.. tak perlu kusesali, toh semuanya sudah berlalu dan tak mungkin untuk dapat diputar kembali. 

Dalam waktu kurang lebih lima tahun itu, waktu terasa begitu sempit.Aku harus bangun paling telat jam 04.15 dan baru bisa tidur pukul 01.00 dinihari. Diawali dengan sholat berjamaah serta tadarus sampai jam 05.00, kemudian menemani belajar salah satu putra kyai sampai jam 06.00, istirahat sebentar, ngaji sampai jam 07.45, istirahat 15 menit, menemani kang santri belajar sampai pukul 10.00, sarapan pagi, kalau ada jadwal meneruskan kegiatan tadi, atau kalau tidak ikut bantu-bantu di ndalem, sholat szuhur, tidur siang sampai jam13.30, ke ndalem lagi, sholat ashar, menemani belajar putra kyai, ngaji sore, makan sore, sholat maghrib, ngorek (ngaji shorogan), sholat isya, meneruskan ngorek, jam 20.00 ngaji sampai jam 21.00, istirahat, jam 21.30 membimbing musyawarah sampai jam 23.00 dan dilanjutkan dengan ngobrol berbagai hal, kadang sampai jam12.00 dan seringnya sampai jam 01.00. Dan ahirnya setelah kurang lebih Sembilan tahun menetap di pesantren, aku memutuskan untuk pulang, kembali menjadi anak penderes gula kelapa sambil mengabdikan sedikit ilmu yang didapat dari pesantren.

Selasa, 14 September 2010

At Taujieh Al Islamy, Bagaimana Masa Depanmu?

At Taujieh Al Islamy atau bagi santri era sebelum tahun 90 an menyebutnya dengan Syamsul Huda adalah pondok pesantren yang kwalitasnya tidak diragukan lagi. Ketenaran pondok ini sudah sampai ke negri sebrang sejak awal mula berdirinya, yaitu ketika masih bernama Tarbiyatun Nahwiyah, sebagaimana diceritakan oleh Al Maghfurlah KH. Hasyim Suyuthi Zuhdy, adik dari KH. Hisyam Zuhdy.

Walaupun pernah mengalami masa fatroh sepeninggal beliau KH. Zuhdy, namun berkat keuletan dan kegigihan kyai Hisyam yang waktu itu masih berumur 20 an ahirnya pesantren Leler (sebutan lain untuk pesantren At Taujieh) dapat berkibar kembali bahkan mengalami periode emas. Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah santri hingga mencapai angka ribuan. dan tidak berhenti sampai di situ saja, akan tetapi dari jumlah santri tadi, tak terhitung berapa banyak kader-kader unggul penerus perjuangan islam terlahir dari beliau. Tak salah jika gelar syaikhu masyayikh Banyumas layak tersemat pada beliau.

Sepeninggal mbah Hisyam, pondok pesantren Leler di asuh oleh ketiga putra beliau yaitu KH. 'Athourrohman, KH. Dzakiyul Fuad dan KH. Zuhrul Anam serta dibantu oleh dua menantu beliau yaitu KH. Sya'bani Mukry dan KH. Nashuha Kurdy. Sewaktu penulis pertama kali menginjakan kaki di Leler, yaitu awal tahun 2000, pesantren ini masih tercatat memiliki santri sekitar 500an dan di penghujung tahun 2008 menjadi 300, yaitu 200 santri putra dan 100 santri putri. Penurunan jumlah santri yang terbilang cukup banyak tidak dipengaruhi oleh factor pengasuh akan tetapi murni karena minat masyaakat yang secara umum sangat menurun terhadap pesantren, terutama terhadap pesantren salaf. Hal ini juga dialami oleh pesantren-pesantren besar lain, misalnya pesantren Sarang, Lirboyo, Ploso dan pesantren-pesantren besar yang lain. Mengapa saya berani berkata seperti itu? Karena melihat kwalitas ketiga pengasuh utama yang semuanya alumni timur tengah dan dibantu oleh dua menantu yang mumpuni serta ustadz-ustadz pesantren yang cakap, pesantren Leler sama sekali tidak kekurangan tenaga pengajar. Keadaan ini berlangsung sampai penghujung tahun 2006, sebab salah satu menantu KH. Hisyam, yaitu KH. Sya'bani wafat dalam usia relative muda yaitu 53 tahun. Akan tetapi beliau telah mempersiapkan kader penerus yaitu putra kedua beliau yang bernama Lubabul Mubahitsin atau terkenal dengan sebutan Gus Lubab. Walaupun masih sangat muda, gus kita yang satu ini dapat meneruskan pengajian slasaan yang diwarisi dari abahnya bahkan dapat mengembangkan sayap, hingga jamaahnya tidak melulu orang nahdhiyin, akan tetapi diminati pula oleh saudara kita dari muhammadiyah dan kaum cungklang. Dan lagi-lagi kuasa Alloh harus kita terima. Kyai muda ini harus pulang sowan kehadiratnya pada usia yang masih teramat sangat muda yaitu 27 tahun (1982-2009).

Ibarat mati satu tumbuh seribu, itulah kiranya pepatah yang tepat untuk menggambarkan regenerasi dalam pesantren Leler. Pesantren ini tidak akan kekurangan stok. Mengapa? Cucu-cucu mbah Hisyam sebagai penerus perjuangan beliau, sudah kelihatan mumpuni. Hal ini karena mereka para ghowaghis sangat tekun dalam belajar dan di dukung oleh atmosfer pendidikan yang kondusif. Mereka adalah sarjana dan calon sarjana dari universitas terkemuka di dunia, yaitu gus Mauhiburohman bin KH. Nashuha, gus Ahkam bin Nashuha, keduanya sudah menamatkan S1 Al azhar dan sekarang sedang melanjutkan S2 di Malaysia (gus Ohib) dan gus Ahkam di Al Azhar, gus Ma'mun bin KH. Luqman (tingkat empat Syariah Al azhar), Gus Fahmi bin KH. Sya'bani (tk. 4 ushuludin Al Azhar), gus Hakam bin KH. Mastur (ushuludin Al Azhar) dan gus Wafaq bin KH. 'Athourrohman ( Al Ahqof Yaman) serta ghowaghis yang lain.   

Setelah kita melihat calon-calon ponggawa pesantren Leler, kita dapat membayangkan bahwa pesantren kita ini akan dapat mencapai puncak kejayaan lagi dimasa yang akan datang. Semoga….




By:
Adhi Maftuhin;
Alumnus At Taujieh Al Islamy, sekarang tinggal bareng dengan para ghowaghis di Helwan,  Kairo, Egypt.



 

Dari Ketiadaan Aku Ada Part I

Sebenarnya perasaan ini sudah muncul jauh sebelum tangan ini berkeinginan menuliskannya. Tepatnya aku tidak tau, tapi yang jelas perasaan ini muncul tiap kali ada momen yang menuntut pemberian berupa materi dari seorang kakak terhadap adiknya. Lebih-lebih mendekati situasi lebaran seperti saat ini.

Kemarin malam, tepatnya malam ke Sembilan belas di bulan Romadhon yang penuh berkah ini, aku tak sengaja melangkahkan kaki di pusat belanja rakyat, pasar Helwan namanya. Sebuah pasar yang menjadi sentra pemenuhan berbagai kebutuhan rakyat. Tepatnya segala macam jenis kebutuhan rakyat, karena disitu menjajakan segala bentuk pemenuhan kebutuhan, atau dalam bahasa saya dapat dikatakan lengkap-lengkip. Ya.. pasar Helwan benar-benar menjadi sentra pemenuhan kebutuhan rakyat.

Pada hari-hari biasa pasar ini biasanya buka dari jam 09.00 pagi sampai tengah malam dan pada hari-hari bulan puasa kegiatannya di rubah menjadi dari waku dzuhur sampai menjelang subuh. Barang-barang yang diperjual belikan tidak jauh beda dari hari-hari biasa. Hanya saja yang mencolok mata adalah geliat masyarakat yang sangat antusias bahkan dapat dikatakan sangat agresif untuk mendatangi pasar ini pada waktu malam. Sesuai dengan pengamatan, pasar ini menjadi lautan manusia dari jam 22.00 sampai jam 01.00. pada waktu ini jangan harap bisa bergerak dengan leluasa, karena disamping kanan, kiri, depan, dan belakang pasti ada orang. Hingga untuk dapat bergerak kedepan perlu perjuangan ekstra. Untung saja saya bertubuh kecil, hingga tidak terlalu repot untuk melewati orang-orang yang tinggi dan berat badannya rata-rata dua setengah kali lipat dari badan saya. Dan disaat itulah mata ini melihat anak kecil yang sedang meronta-meronta dan menangis tersedu karena kepengin dibelikan baju.

Deggg, perasan itu seketika muncul. Diawali dengan remang-remang  bayangan adik-adiku di desa, kemudian dengan bapak, simbok dan klipingan kehidupan yang menyertainya. Butir-butir bening menetes dari pelupuk mata tanpa dapat tertbendung.

Sebagai anak laki-laki tertua dalam keluarga, sudah sepantasnya akulah yang kini dapat dijadikan tumpuan ekonomi keluarga. Disamping statusku tidak dapat dikatakan sebagai seorang remaja lagi, uban di kepala ayahku juga sudah tidak dapat disembunyikan. Tapi, apa hendak dikata, untuk mengganjal perut saja aku masih mengandalkan uluran tangan dari keduanya.

Berbeda dengan acuan rata-rata keluarga di desa yang menitik beratkan pengarahan anak-anaknya terhadap kesejahteraan mereka di masa depan, baik dengan cara menyekolahkannya pada sekolah-sekolah yang nantinya dapat memberikan pekerjaan, atau dengan mengajarinya pekerjaan yang sudah turun menurun diwariskan oleh leluhur atau dengan merantau dan lain sebagainya, keluargaku tidak. Mereka hanya menuntut agar akujadi orang benar. Itu saja, tak lebih. Hal itu ku terjemahkan dengan sekolah dengan rajin dan sekolah diniyah pada sore hari dilanjutkan dengan mengaji al qur'an ba'da maghrib. Kegiatan rutin ini berlanjut hingga aku menamatkan sekolah menengah pertama.

Babak selanjutnya merupakan awal dari perjalanan berliku yang ku tempuh, dan factor utama atas ketidak mampuanku untuk sedikit meringankan beban ekonomi yag menghimpit keluarga. Pilihan pertama untuk melanjutkan jenjang pendidikanku adalah MAPK. Disamping bermaterikan pelajaran agama, sekolah ini juga membekali anak didiknya dengan pelajaran umum. Dengan komposisi pelajaran tersebut tidak menutup kemungkinan setelah tamat dari sekolah ini dapat meretas jalan menuju kemapanan ekonomi dimasa depan. Karena alumnus dari sekolah ini berkesempatan melanjutkan ke perguruan tinggi baik negri ataupun swasta, dan yang berprestasi malah dapat beasiswa ke luar negri. Setahuku dulu perguruan-perguruan tinggi yang mentereng, Al Azhar contohnya. Pandangan mereka terhadap kehidupanku di kemudian hari menggeser prioritas yang sedari semula tertanam. Dari yang semula cukup dengan menjadi orang yang benar, sekarang  bertambah dengan kemapanan di hari mendatang. Mungkin hal itu pengaruh dari hantaman krisis global dimasa itu dan factor-faktor lain yang mengubah pandangan mereka. Bersamaan dengan itu pula, harapan mereka harus kandas karena keterbatasan informasi dan akses menuju MAPK. Usaha mereka tidak serta merta harus berhenti. Niatan untuk menjadikanku seorang yang mempunyai bekal yang cukup dalam bidang umum dan agama mengantarkanku pada sebuah pesantren bahasa. Tapi, lagi-lagi taqdir tidak memuluskan langkahku. Perasaan selalu membuat repot terhadap kedua orang tua selalu menghantui, padahal mereka tidak keberatan harus menggelontorkan biaya demi pendidikanku. Mungkin ini imbas dari kelahiranku yang punya weton selasa wage yang menurut horoskop jawa punya sifat terlalu perasa. Ya.. aku memang selalu dihantui perasaan merepotkan keduanya. Mereka  selalu meyakinkanku agar terus meneruskan pendidikanku disana, akan tetapi perasaan itu selalu menghantuiku sehingga tanpa meminta ijin dari keduanya ku putuskan keluar. Ah,, suatu keputusan yang menenggelamkanku dalam rasa sesal berkepanjangan. Mereka sangat terpukul dengan keputusanku. Sehingga membiarkanku terlunta-lunta dalam kegelapan selama hampir dua tahun. Aku merasa asing di rumahku sendiri. Mereka tidak mau berbicara lagi. Hidup ini tersa sangat sepi. Aku pun menutup diri dari pergaulan. Untung saja Alloh masih berkenan menunjukan jalan yang lurus.